
Repelita Jakarta - Operasi militer Amerika Serikat yang berhasil menguasai Venezuela dinilai sebagai peringatan serius bagi negara-negara kaya sumber daya alam.
Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam mendesak Indonesia untuk segera meningkatkan kewaspadaan strategis.
Penangkapan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya oleh pasukan Amerika Serikat menjadi penanda era baru politik koersif.
Indonesia tidak boleh berdiam diri menyaksikan pergeseran tatanan global yang semakin agresif dan tidak terkendali.
Venezuela diyakini bukan merupakan tujuan akhir dari rangkaian operasi militer yang dilancarkan oleh Washington.
Negara-negara Global South yang memiliki cadangan energi melimpah namun berseberangan secara politik menjadi sasaran potensial.
Operasi militer serupa sangat mungkin diarahkan ke wilayah lain dengan nilai strategis ekonomi dan politik yang tinggi.
Beberapa wilayah yang masuk dalam zona kerentanan mencakup Greenland, Iran, Kolombia, dan Chili.
Negara-negara tersebut memegang kunci pasokan energi jangka panjang untuk kepentingan strategis Amerika Serikat.
Langkah Washington dinilai sebagai upaya sistematis untuk menciptakan efek gentar di kancah internasional.
Tujuannya adalah agar berbagai negara tetap bergerak sesuai dengan keinginan dan kepentingan kekuatan besar.
Amerika Serikat secara terang-terangan menyatakan ambisinya untuk menguasai sumber daya energi global.
Wakil Presiden JD Vance menyebut operasi militer bertujuan memberikan kendali lebih besar atas energi dunia.
Dalih yang digunakan adalah upaya memutus pendanaan kelompok yang dikategorikan sebagai narkoterorisme.
Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan otoritas sementara Venezuela mengenai penyerahan minyak.
Kesepakatan tersebut mencakup tiga puluh hingga lima puluh juta barel minyak untuk kepentingan Amerika Serikat.
Langkah itu dinilai sangat kental dengan aroma hegemoni energi dan penguasaan sumber daya asing.
Menghadapi ketidakstabilan global, Indonesia harus segera melakukan tiga langkah strategis secara bersamaan.
Pertama adalah penguatan kedaulatan energi agar sumber daya nasional tidak mudah didikte pihak asing.
Kedua adalah membangun ketahanan ekonomi domestik yang kuat untuk menghadapi tekanan geopolitik.
Ketiga adalah menjaga konsistensi politik luar negeri bebas aktif dengan peran diplomasi yang lebih tegas.
Indonesia harus mampu membaca dinamika global dengan jernih dan tidak terbawa arus konflik kekuatan besar.
Konsistensi dalam kebijakan luar negeri menjadi kunci penting agar negara tidak terseret dalam blok koersif.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

