Repelita [Teheran] - Amerika Serikat dan Israel saat ini memusatkan perhatian pada upaya agar gelombang demonstrasi di Iran tidak mereda dan terus berlanjut dalam waktu yang lama. Pemerintah Iran memang telah berhasil mengendalikan situasi keamanan secara signifikan meskipun aksi unjuk rasa masih terjadi dengan skala yang lebih kecil dibandingkan awal kemunculannya.
Dalam pernyataan terbarunya, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong warga Iran untuk terus berdemonstrasi sambil menjanjikan bantuan yang akan segera dikirimkan kepada para pendemo. Pernyataan ini dinilai sebagai bentuk motivasi langsung yang bertujuan untuk mempertahankan momentum protes di dalam negeri Iran.
Sikap intervensif Trump tersebut didorong oleh tekanan kuat dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan lobi Israel di Washington sebagaimana disampaikan Netanyahu saat kunjungannya ke Gedung Putih akhir tahun lalu. Iran sendiri terus berjuang untuk meredakan demonstrasi secara tuntas dan cepat karena kekhawatiran akan membuka celah intervensi asing.
Utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan segera mengadakan pertemuan dengan Reza Pahlavi, putra dari mantan pemimpin Iran Mohammad Reza Pahlavi yang saat ini bermukim di Maryland Amerika Serikat. Reza Pahlavi telah lama dianggap sebagai aset Amerika Serikat dan Israel untuk menciptakan instabilitas di Iran sejak ayahnya digulingkan pada tahun 1979.
Pertemuan antara Witkoff dan Pahlavi tersebut dapat dianalisis sebagai bentuk pengakuan tidak langsung dari Trump bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Iran saat ini mengalami kegagalan. Pertemuan itu awalnya direncanakan melibatkan Trump secara langsung, namun karena pemerintahan Iran dinilai masih kuat, Trump hanya mengirim utusannya.
Netanyahu dengan seluruh kekuatan lobi Israel di Amerika Serikat kini berupaya meyakinkan Trump untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran meskipun keputusan finalnya belum diambil oleh Gedung Putih. Kekhawatiran utama adalah balasan keras dari Iran jika Amerika Serikat melakukan intervensi militer secara langsung di wilayahnya.
Opsi yang paling mungkin dilakukan Amerika Serikat saat ini adalah serangan siber atau serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir Iran seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat akan mempertimbangkan ulang rencana intervensi militer langsung mengingat potensi konsekuensi yang sangat besar dan risiko perang regional.
Situasi di lapangan akan sangat menentukan langkah selanjutnya, dimana jika demonstrasi tidak segera padam maka celah intervensi asing akan terbuka lebar, namun jika demonstrasi berhasil diredam maka Amerika Serikat dan Israel diperkirakan tidak akan mengambil tindakan apapun terhadap Iran.
Pemerintah Iran telah berulang kali menyatakan bahwa segala bentuk aksi militer dari Amerika Serikat atau Israel akan dihadapi dengan balasan skala penuh. Seluruh aset Amerika Serikat di kawasan dan wilayah Israel akan menjadi target legitim serangan balasan Iran yang dijanjikan lebih keras dari perang dua belas hari di bulan Juni tahun lalu.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengingatkan bahwa upaya intervensi militer Amerika Serikat akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap semua aset Amerika Serikat di kawasan tersebut. Ghalibaf menekankan bahwa sekitar sembilan puluh juta warga Iran siap bergerak melawan Amerika Serikat dan Israel jika intervensi militer terjadi.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani menyatakan bahwa Donald Trump terlalu banyak bicara dan tidak perlu dipedulikan, namun jika Amerika Serikat menyerang maka Iran akan membalas sesederhana itu. Menteri Luar Negeri Iran juga menyampaikan pernyataan serupa bahwa Iran siap berperang jika Amerika Serikat ingin menguji ketahanannya.
Retorika panas yang saling serang ini menunjukkan bahwa ketegangan sedang berada di puncaknya dan intervensi militer apa pun akan memicu perang total di seluruh kawasan yang tidak dapat dihindari. Trump dan Netanyahu sebenarnya menyadari bahwa menggulingkan pemerintahan Iran sama dengan membakar seluruh wilayah Timur Tengah.
Bagi Israel, momen ini dianggap sebagai kesempatan terakhir untuk menarik Amerika Serikat ke dalam perang total melawan Iran mengingat kepemimpinan Trump yang dianggap unik. Netanyahu memahami dinamika psikologis politik di kalangan elit Washington dan memanfaatkannya untuk mendorong kebijakan yang sesuai dengan kepentingan Israel.
Iran telah menghubungi semua negara tetangganya untuk mengingatkan bahwa bantuan apa pun kepada Amerika Serikat atau Israel dalam intervensi militer akan dianggap sebagai permusuhan dan akan dibalas dengan serangan tanpa kecuali. Iran juga meminta Irak untuk menjaga perbatasannya dengan ketat agar tidak ada milisi bersenjata yang disusupkan ke wilayah Iran.
Keputusan Trump untuk menaikkan tarif dagang sebesar dua puluh lima persen terhadap negara mana pun yang berbisnis dengan Iran merupakan sinyal bahwa Amerika Serikat kesulitan menggulingkan rezim Iran melalui jalur militer. Jalur ekonomi kembali ditempuh sebagai cara untuk melemahkan Iran secara bertahap.
Eskalasi ketegangan ini diperkirakan akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat dengan situasi yang sangat dinamis. Amerika Serikat dan Israel terus memantau perkembangan di Iran, dan jika pemerintahan Iran berhasil bertahan melalui periode kritis ini maka akan semakin sulit bagi kekuatan asing untuk menjatuhkannya di masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

