Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Analisis: Ketahanan Negara Runtuh Bukan oleh Musuh, Tapi oleh Pengkhianatan dari Dalam

 Keterangan foto tidak tersedia.

Repelita Caracas - Sebuah analisis mendalam mengenai ketahanan negara menyoroti bahwa ancaman terbesar seringkali berasal dari internal, bukan serangan eksternal.

Pelajaran sejarah politik dan militer dunia berulang kali menunjukkan bahwa benteng pertahanan fisik terkuat sekalipun dapat runtuh akibat faktor dari dalam.

Kerentanan utama justru berada pada manusia yang diberikan kepercayaan untuk menjaga sistem dan nilai-nilai negara tersebut.

Narasi yang berkembang dari Venezuela mengenai dugaan seorang perwira tinggi yang dekat dengan pusat kekuasaan menjadi contoh mutakhir pola klasik ini.

Pola pengkhianatan politik seperti ini bukanlah hal baru, karena telah terjadi berulang kali dalam lintasan sejarah peradaban manusia.

Filsuf politik Renaisans Niccolò Machiavelli pernah menulis tentang bahaya yang justru datang dari mereka yang berada dalam lingkar dalam kekuasaan.

Dalam karyanya yang termasyhur, ia menyebut ancaman paling mematikan berasal dari orang yang cukup dekat untuk melakukan pengkhianatan tanpa menimbulkan kecurigaan terlebih dahulu.

Sementara ancaman dari musuh eksternal dapat diantisipasi dengan persenjataan dan teknologi, bentuk pengkhianatan semacam ini jauh lebih sulit untuk dideteksi dan dicegah.

Refleksi ini mengingatkan pada tragedi persahabatan sekaligus pengkhianatan antara dua tokoh revolusioner Afrika, Thomas Sankara dan Blaise Compaoré.

Hubungan erat yang dibangun atas dasar ideologi yang sama pada akhirnya berubah menjadi celah keamanan ketika fondasi nilai mulai tergerus.

Pemikir politik Hannah Arendt mengingatkan bahwa kekuasaan yang kehilangan landasan moral akan mencari sandaran baru pada instrumen seperti materi atau kekerasan.

Oleh karena itu, ketahanan ideologi menjadi pondasi yang jauh lebih penting daripada sekadar kekuatan militer atau tembok pembatas.

Ideologi yang hidup dan diinternalisasi berfungsi sebagai mekanisme pengendali internal yang mencegah individu menjual prinsip dan integritasnya.

Tanpa sistem nilai yang kokoh, sebuah negara hanya mengandalkan loyalitas personal yang bersifat transaksional dan sangat rentan untuk diperdagangkan.

Benteng sejati sebuah bangsa terletak pada nilai-nilai fundamental yang diyakini bersama dan dipraktikkan secara konsisten oleh seluruh elemen masyarakat.

Nilai-nilai luhur seperti spiritualitas, keadilan substantif, persatuan, semangat gotong royong, dan keadilan sosial menjadi perekat yang hakiki.

Antonio Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni moral, di mana kekuasaan dan tatanan sosial bertahan bukan karena paksaan, melainkan kesadaran kolektif.

Beberapa negara di dunia, meskipun memiliki sistem politik yang berbeda, memahami prinsip mendasar ini dalam menjaga stabilitas dan kedaulatannya.

Negara-negara seperti Iran, Tiongkok, dan India mengedepankan pentingnya disiplin ideologis di samping kekuatan fisik dan keamanan konvensional.

Ketahanan mereka dibangun di atas fondasi kesetiaan pada sistem nilai yang membuat tindakan pengkhianatan dianggap sebagai aib besar, bukan peluang.

Pada akhirnya, pelajaran universal yang dapat dipetik adalah bahwa sebuah bangsa tidak runtuh karena kurangnya persenjataan.

Negara menjadi rapuh ketika kehilangan manusia-manusia yang memiliki integritas dan komitmen yang tidak dapat dibeli dengan iming-iming materi.

Manusia dengan karakter seperti itu hanya dapat lahir dari sebuah sistem nilai yang hidup, diteladankan oleh elit, dan ditegakkan secara konsisten.

Tanpa fondasi moral dan ideologis yang kuat, setiap bentuk pertahanan fisik hanyalah struktur yang menunggu saatnya dikhianati dari dalam.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved