
Repelita [Jakarta] - Sebuah foto lawas yang diklaim sebagai gambar mantan Presiden Joko Widodo saat masih berkuliah tengah viral dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Foto tersebut dibagikan oleh akun @updateinfonusantara di platform Threads dengan narasi yang menyatakan bahwa gambar itu adalah potret Jokowi saat mengikuti lomba paduan suara semasa menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada.
Unggahan tersebut langsung memicu beragam respons dari warganet yang sebagian besar menyatakan ketidakpercayaan terhadap klaim tersebut. Banyak komentar yang menyangsikan keaslian foto itu dengan alasan bahwa sosok pria berkacamata, berkumis, dan berambut belah tengah dalam gambar tersebut bukanlah wajah Joko Widodo yang mereka kenal.
Sejumlah warganet secara spesifik meragukan klaim tersebut dengan alasan bahwa mantan presiden tersebut tidak memiliki kemampuan menyanyi yang baik sehingga mustahil mengikuti kegiatan paduan suara yang membutuhkan kompetensi vokal tertentu. Mereka menyoroti bahwa dalam berbagai penampilan publiknya, Joko Widodo memang tidak pernah menunjukkan bakat di bidang tarik suara.
Akun-akun media sosial pun ramai memberikan tanggapan kritis terhadap foto yang beredar tersebut dengan berbagai ekspresi dan analisis sederhana. Sebagian besar komentar justru menyatakan bahwa foto tersebut kemungkinan besar adalah orang lain yang kebetulan memiliki kemiripan tertentu dari sisi penampilan fisik.
Dalam perkembangan terpisah, Dokter Tifauzia Tyassuma kembali menyampaikan pandangan ilmiahnya sebagai ahli epidemiologi mengenai perbandingan foto-foto Joko Widodo yang beredar di masyarakat. Melalui akun X miliknya pada tanggal 6 Januari 2026, dia menjelaskan tentang analisis metasintesis awal yang membandingkan dua kelompok foto yang disebutnya sebagai Jokowi 1 dan Jokowi 2.
Dokter Tifa menegaskan bahwa pendekatan yang digunakannya bersifat ilmiah dan berbasis perhitungan matematika dengan menggunakan Teorema Bayesian. Metode ini diterapkan dengan pendekatan lintas disiplin ilmu yang mencakup epidemiologi, anatomi, morfologi, frenologi, dan analisis perilaku.
Sebagai seorang epidemiolog, Dokter Tifa menyatakan bahwa kompetensi dalam bidang perhitungan merupakan bagian integral dari profesinya. Analisis yang dilakukannya berfokus pada variabel-variabel anatomi morfologi mulai dari bentuk tulang kepala, proporsi wajah, struktur rahang, hingga bentuk hidung dan pola rambut.
Setiap variabel tersebut dikonversi menjadi angka-angka tertentu untuk kemudian dimasukkan ke dalam rumus matematika Bayesian. Hasil perhitungan yang diperoleh menunjukkan persentase perbedaan yang sangat signifikan antara dua kelompok foto yang dibandingkan.
Dokter Tifa menyimpulkan bahwa berdasarkan analisis posterior Bayesian, probabilitas kesamaan antara kedua kelompok foto tersebut berada pada kisaran di bawah satu persen. Sebaliknya, probabilitas perbedaan mencapai angka lebih dari sembilan puluh sembilan persen.
Dalam penjelasan yang lebih sederhana, dia menyatakan bahwa foto-foto Joko Widodo versi rambut tebal, hidung mancung, dan berkacamata berbeda dengan foto-foto versi rambut tipis dan tanpa kacamata. Analisis ini mengindikasikan bahwa kedua kelompok foto tersebut kemungkinan besar merupakan gambar dari dua orang yang berbeda.
Dokter Tifa juga mengutip landasan filosofis dari pendekatan matematis yang digunakannya dengan merujuk pada konsep penciptaan dalam perspektif tertentu. Dia menekankan bahwa ilmu bilangan atau matematika merupakan alat objektif yang bebas dari bias subjektif dalam menganalisis berbagai fenomena termasuk verifikasi identitas visual.
Perdebatan mengenai keaslian foto-foto lawas mantan presiden ini terjadi dalam konteks wacana publik yang lebih luas mengenai berbagai aspek kehidupan pribadi figur publik. Masyarakat menunjukkan minat yang tinggi terhadap informasi-informasi historis mengenai latar belakang pemimpin nasional mereka.
Analisis ilmiah semacam ini menjadi bagian dari perkembangan metode verifikasi fakta di era digital dimana foto dan dokumen visual dapat dengan mudah dimanipulasi atau disalahartikan. Pendekatan interdisipliner menjadi semakin penting untuk menguji validitas berbagai klaim yang beredar di ruang publik.
Baik foto yang viral maupun analisis ilmiah yang disampaikan oleh Dokter Tifauzia Tyassuma sama-sama mendapatkan perhatian luas dari berbagai kalangan masyarakat. Diskusi ini mencerminkan dinamika masyarakat digital yang kritis terhadap informasi yang beredar namun juga terbuka terhadap berbagai pendekatan analitis yang ditawarkan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

