
Repelita, Jakarta – Politikus Partai NasDem, Ahmad Sahroni, mengkritik unggahan pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan peserta didik Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) Polri ke media sosial. Menurutnya, hal tersebut dapat menimbulkan anggapan negatif di masyarakat.
Sahroni menilai, seharusnya pertemuan tersebut tidak perlu diumbar ke publik. Ia khawatir, tindakan tersebut dapat menimbulkan persepsi bahwa Jokowi masih menunjukkan gejala post power syndrome, yakni keinginan untuk tetap tampil meskipun sudah tidak menjabat lagi.
Sebagai informasi, peserta didik Sespimmen Polri merupakan perwira menengah yang sedang menjalani pendidikan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan mereka. Kunjungan mereka ke Jokowi merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran dan pengembangan profesional mereka.
Namun, Sahroni mengingatkan bahwa meskipun pertemuan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, publikasi melalui media sosial dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam membagikan informasi kepada publik untuk menghindari kesalahpahaman.
Pernyataan Sahroni ini mengundang berbagai reaksi dari kalangan politik dan masyarakat. Beberapa pihak mendukung pandangannya, sementara yang lain berpendapat bahwa pertemuan tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan.
Kritik terhadap unggahan pertemuan ini juga mencerminkan dinamika politik pasca-presiden, di mana tindakan dan pernyataan mantan pejabat dapat menjadi sorotan publik. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang efektif dan bijaksana dalam menjaga citra dan hubungan dengan masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, diharapkan akan ada klarifikasi lebih lanjut dari pihak terkait mengenai niat dan tujuan dari pertemuan tersebut. Sementara itu, publik terus mengamati perkembangan situasi ini dengan penuh perhatian. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

