
Repelita, Beijing – China mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara yang mempertimbangkan untuk melakukan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat yang bisa merugikan kepentingan ekonomi Beijing. Peringatan ini datang setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif yang lebih tinggi terhadap banyak negara, termasuk China, pada awal April 2025.
Beijing menegaskan bahwa negara-negara yang memutuskan untuk berdialog dengan AS mengenai tarif baru tersebut harus siap menghadapi dampak dari kebijakan balasan yang akan diberlakukan oleh China. Ini termasuk potensi penurunan volume perdagangan, pembatasan akses pasar, hingga sanksi ekonomi lainnya.
Negara-negara seperti Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan saat ini sedang menjajaki kemungkinan untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dengan AS, yang menyebabkan ketegangan lebih lanjut di kawasan tersebut. Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa mereka akan mengambil langkah-langkah yang tegas dan cepat jika kepentingan China terus diganggu oleh kebijakan luar negeri AS.
Dalam pernyataannya, China mengecam keras kebijakan tarif AS sebagai bentuk tekanan yang berlebihan dan menuntut agar negara-negara lainnya tidak tunduk pada keinginan AS dalam memperburuk keadaan perdagangan global. Meskipun demikian, China tetap membuka pintu untuk perundingan dan dialog dengan negara-negara terkait, meskipun tak ada pertemuan langsung yang dijadwalkan dengan Washington saat ini.
Langkah-langkah tersebut hanya memperburuk ketegangan antara kedua negara, yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Dampak dari kebijakan tarif ini jelas mempengaruhi pasar global, dengan China mengenakan tarif balasan yang sangat tinggi terhadap barang-barang impor dari AS. China juga menekankan bahwa mereka tidak akan ragu untuk melindungi kepentingan ekonominya dalam situasi apapun.
Kekhawatiran semakin meningkat di negara-negara yang terlibat dalam perdagangan dengan kedua negara besar ini. Beberapa negara yang selama ini bergantung pada ekspor ke China, seperti negara-negara di Asia Tenggara, kini harus mencari strategi baru agar tidak terdampak oleh ketegangan dagang ini. Beberapa negara di kawasan tersebut memilih untuk memperkuat hubungan dagang dengan China, meskipun ada tekanan dari AS untuk memotong perdagangan dengan negara tersebut.
Menanggapi kebijakan ini, sejumlah netizen di media sosial menyatakan kekecewaan mereka terhadap sikap keras AS, yang dianggap memperburuk ketegangan internasional. “Mengapa AS harus mengambil sikap begitu keras terhadap China? Semua pihak akan dirugikan,” tulis seorang netizen di platform Weibo.
Di sisi lain, beberapa ekonom di China memperingatkan bahwa perang dagang ini dapat merugikan ekonomi global dalam jangka panjang. Ekonom tersebut menyarankan agar negara-negara di dunia mengutamakan kerja sama dan dialog ketimbang saling mengintimidasi dalam soal perdagangan.
Pemerintah China juga berencana untuk terus menggalang dukungan internasional terhadap kebijakan perdagangan bebas dan menentang kebijakan proteksionisme yang diterapkan oleh AS. Mereka menegaskan bahwa dunia perlu bergerak ke arah kemitraan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
China memperkirakan bahwa ketegangan perdagangan ini akan berlanjut, tetapi mereka siap untuk menghadapi tantangan tersebut dengan kebijakan luar negeri yang lebih tegas dan lebih mengutamakan kepentingan nasional. Masyarakat global, menurut Beijing, harus lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan dari kebijakan-kebijakan sepihak yang merugikan banyak negara. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

