
Repelita, Bandung - Mendikti Saintek, Satryo Soemantri Brodjonegoro, membantah adanya dugaan penamparan. Hal tersebut disampaikan usai menghadiri pelantikan Rektor ITB periode 2025-2030 pada Senin.
“Ini tidak ada penamparan sama sekali, sama sekali tidak benar,” katanya kepada awak media.
Sebelumnya, beredar konten di platform X yang memperlihatkan gambar Satryo bersama istrinya. Dalam unggahan tersebut terdapat suara latar yang merekam dugaan aksi kekerasan terhadap seorang pekerja di rumah dinas Mendikti Saintek karena masalah air mati.
“Sengaja buat rumah ini enggak ada air? Tadi air hidup, kok tiba-tiba mati. Ulah si Ricky? Kamu diam saja. Sengaja kamu? Sengaja dong?” bunyi suara dalam unggahan tersebut.
Di kesempatan yang sama, Satryo juga memberikan tanggapan terkait adanya unjuk rasa ASN Dikti di Kantor Kemendikti. Menurutnya, aksi tersebut dipicu oleh pihak-pihak yang tidak berkenan dengan mutasi besar-besaran di Kemendikti Saintek. Mutasi itu dilakukan karena adanya pemisahan kementerian.
Karangan bunga memenuhi kantor Kemendikti Saintek di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin. Satryo menjelaskan bahwa era Presiden Jokowi, Kemendikti Saintek berada dalam naungan Kemendikbudristek dan Dikti. Namun, pada era Presiden Prabowo, kementerian tersebut dipecah menjadi tiga kementerian terpisah.
“Demo itu terkait dengan kami yang sedang mengadakan mutasi besar-besaran di kementerian. Karena jadi tiga menteri, kami membutuhkan lebih banyak orang, kemudian ingin membenahi,” jelas Satryo.
Satryo juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo yang meminta kementerian untuk hemat anggaran. Oleh sebab itu, mutasi dilakukan secara besar-besaran, namun memicu protes dari beberapa pegawai yang tidak berkenan.
“Presiden mengatakan harus hemat dengan anggaran pemerintah. Nah, kami mengadakan satu mutasi yang cukup besar. Dan memang ada pihak yang tidak berkenan dengan mutasi ini,” ujarnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

