Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Stok Rudal Patriot AS Menipis, Satu Rudal Iran Butuh 2-3 Pencegat, Produksi Cuma 600 Unit per Tahun

 

Repelita Washington - Stok rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat dilaporkan mulai menipis akibat intensitas penggunaan sistem pertahanan tersebut saat menghadapi gempuran rudal dan drone Iran yang terus berlangsung tanpa henti.

Dikutip dari berbagai sumber intensitas serangan drone dan rudal dari Iran telah menekan sistem pertahanan udara AS di kawasan Teluk hingga berada di titik kritis.

Data yang dihimpun menyebutkan untuk melumpuhkan satu rudal balistik dari Teheran sering kali dibutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat Patriot sehingga mempercepat pengurasan stok yang tersedia.

Sedangkan Iran diperkirakan memiliki lebih dari 2.000 rudal balistik sementara stok pencegat milik AS dan Israel maupun sekutu di kawasan Timur Tengah dilaporkan sangat terbatas.

Amerika kian dihadapi persoalan yang makin sulit lantaran memproduksi rudal Patriot tidaklah instan dan membutuhkan waktu serta biaya yang sangat besar.

Saat ini produksi berada di angka sekitar 600 unit per tahun jauh di bawah kebutuhan yang diperlukan untuk menghadapi gempuran Iran.

Meskipun Lockheed Martin berupaya meningkatkan kapasitas hingga 2.000 unit per tahun target tersebut diperkirakan baru tercapai pada akhir 2030 mendatang.

Akibat pasokan yang terbatas Departemen Pertahanan AS sempat dilaporkan menyetop pengiriman rudal ke Ukraina guna menjaga kesiapan tempur mereka sendiri di Timur Tengah.

Sementara itu Presiden Donald Trump dilaporkan telah mendesak perusahaan pertahanan untuk melipatgandakan produksi guna mengatasi kekurangan amunisi di tengah gempuran Iran.

AS juga mempertimbangkan untuk memindahkan sistem Patriot dari lokasi lain seperti Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan di area yang lebih kritis.

Di sisi lain negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi kini berada di garis depan dalam menghadapi hujan rudal balistik dan drone Shahed yang diluncurkan Teheran.

Akibatnya stok rudal pencegat Patriot yang mereka miliki pun kini berada di titik kritis dan hampir habis.

Sejauh ini mengacu pada sumber terbuka minimal sebanyak 800 rudal balistik Iran telah ditembakkan ke arah negara-negara Teluk.

Artinya sedikitnya 1.600 rudal Patriot sudah dilepaskan untuk menangkis serangan tersebut karena negara-negara Teluk tidak mau mengalami kehancuran lebih besar.

FBI kabarnya telah memperingatkan departemen kepolisian di California mengenai potensi ancaman serangan drone dari Iran yang menargetkan Pantai Barat Amerika.

Ancaman ini diduga sebagai aksi balasan atas operasi yang melibatkan AS dan zionis Israel yang terus melancarkan agresi terhadap Iran.

IRGC diduga sedang merencanakan serangan drone besar-besaran ke daratan Amerika Serikat sebagai aksi balas dendam atas tewasnya pemimpin tertinggi mereka.

Bukan lewat jalur udara biasa dokumen intelijen menyebut serangan ini diprediksi muncul dari kapal tak terindentifikasi yang mangkal di lepas pantai AS.

Mantan kepala intelijen AS menyebut Iran punya jaringan luas di Meksiko dan Amerika Selatan dan kini mereka punya drone, punya insentif, dan punya alasan kuat untuk menyerang.

Perang antara AS-Israel versus Iran kini telah memasuki babak baru yang bisa memutarbalikkan keadaan yaitu perang atrisi atau perang pengurasan sumber daya.

Masalahnya bukan lagi sekadar siapa yang punya teknologi tercanggih melainkan siapa yang lebih dulu kehabisan amunisi dalam pertempuran berkepanjangan.

Teheran mengeluarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi mereka akan memicu pembalasan langsung.

Pemerintah Republik Islam menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi mereka akan memicu pembalasan langsung yang menghancurkan.

Mereka memperingatkan bahwa seluruh fasilitas minyak dan gas milik AS di kawasan Timur Tengah akan menjadi target sah pembalasan Iran.

Teheran juga menegaskan akan menghancurkan fasilitas tersebut jika serangan terhadap sektor energi Iran benar-benar terjadi di masa mendatang.

Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang kini telah memasuki hari ke-14 konflik berkepanjangan.

Ancaman tersebut tidak hanya menyasar kepentingan langsung AS tetapi juga berpotensi memicu guncangan pasokan minyak global yang selama ini menjadi denyut nadi perekonomian dunia.

Seperti dikutip dari kantor berita Tasnim pada Jumat 13 Maret 2026 seorang sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut memberikan pernyataan tegas.

"Jika Amerika melakukan kesalahan, semua fasilitas minyak dan infrastruktur energi di wilayah tersebut di mana Amerika memiliki kepentingan akan menjadi target sah kami," kata sumber tersebut.

Pernyataan serupa juga diulang dengan nada yang lebih eksplisit menanggapi ancaman terbaru yang dilayangkan AS terhadap infrastruktur energi dan listrik di Iran.

"Jika terjadi kesalahan, semua fasilitas minyak dan infrastruktur energi di wilayah tersebut di mana Amerika memiliki kepentingan akan menjadi target sah kami dan pasti akan dihancurkan," ungkapnya kepada Tasnim.

Ancaman ini bukan sekadar gertak sambal karena militer Iran melalui Markas Pusat Khatam al-Anbiya juga telah mengeluarkan peringatan serupa.

Juru bicara militer Iran menyatakan bahwa serangan sekecil apa pun terhadap infrastruktur energi dan pelabuhan Iran akan mendapatkan respons yang menghancurkan.

"Serangan sekecil apa pun terhadap infrastruktur energi dan pelabuhan Iran akan menghasilkan respons kami yang menghancurkan dan devastatif. Jika serangan itu terjadi, semua infrastruktur minyak dan gas di kawasan tempat Amerika dan sekutu Baratnya memiliki kepentingan akan dibakar dan dihancurkan," tegas juru bicara militer Iran.

Menurut informasi yang dirilis secara publik Amerika Serikat diketahui memiliki saham dan keterlibatan dalam sejumlah proyek energi strategis di Timur Tengah.

Fasilitas-fasilitas ini disebut-sebut akan menjadi target utama jika eskalasi militer benar-benar terjadi antara kedua negara.

Ladang dan Fasilitas Gas Al Hosn di Uni Emirat Arab menjadi salah satu target potensial yang diincar Iran.

Kilang Ras Laffan di Qatar sebagai salah satu fasilitas pengolahan gas terbesar di dunia juga masuk dalam daftar incaran.

Q-Chem Petrochemical dan Chevron Mesaieed Holding di Qatar sebagai perusahaan patungan antara QatarEnergy dan Chevron Phillips Chemical juga terancam.

SAMREF Refinery di Yanbu Arab Saudi sebagai kilang minyak joint venture antara Saudi Aramco dan ExxonMobil menjadi sasaran berikutnya.

Kompleks Kimia Sadara di Al Jubail Arab Saudi sebagai perusahaan patungan antara Saudi Aramco dan Dow Chemical yang merupakan salah satu kompleks kimia terintegrasi terbesar di dunia juga masuk daftar hitam.

Ancaman ini juga diperkuat dengan peringatan dari Kedutaan Besar AS di Baghdad yang menyatakan Iran dan milisi Irak yang didukung Tehran kemungkinan sedang merencanakan serangan terhadap fasilitas minyak milik AS.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah telah memasuki fase baru yang sangat berbahaya dan mengancam stabilitas pasokan energi global.

Dunia internasional menanti langkah selanjutnya dari para pihak yang bertikai untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat memicu bencana kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved