Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Iran Buka Selat Hormuz, Kecuali untuk Kapal AS dan Israel

 

Repelita Teheran - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran menegaskan sikapnya terkait akses pelayaran di Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia dengan menyatakan selat tersebut pada dasarnya tetap terbuka namun tidak untuk kapal yang berasal dari negara yang dianggap sebagai musuh mereka.

Pemerintah Iran menyatakan selat tersebut pada dasarnya tetap terbuka namun tidak untuk kapal yang berasal dari negara yang dianggap sebagai musuh mereka dalam konflik yang sedang berlangsung.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz masih dapat dilintasi kapal-kapal dari berbagai negara selama tidak berkaitan dengan Amerika Serikat maupun Israel yang menjadi lawan utama Tehran.

"Selat Hormuz terbuka. Namun jalur itu ditutup bagi kapal tanker dan kapal yang berasal dari musuh kami, yakni pihak yang menyerang kami dan sekutu mereka," kata Araghchi dalam sebuah wawancara.

Ia menjelaskan sejumlah kapal tanker masih beroperasi dan melintasi selat tersebut dengan aman meskipun dalam pengawasan ketat militer Iran.

Meski demikian banyak perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan karena alasan keamanan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan yang tidak menentu.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan posisi Iran bahwa mereka tidak melakukan blokade total terhadap jalur perdagangan minyak dunia melainkan hanya membatasi akses bagi negara-negara yang dianggap terlibat dalam konflik dengan Teheran.

Secara militer Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi jalur utama distribusi minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara di dunia.

Dengan kondisi geopolitik yang memanas Iran dinilai memanfaatkan posisi tersebut sebagai alat tekanan politik terhadap negara-negara yang berseberangan dengan kebijakannya.

Nada yang lebih keras juga datang dari Mohsen Rezaee anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran yang memiliki pengaruh besar di lingkaran kepemimpinan negara itu dengan menyatakan kapal Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah Teluk.

Di sisi lain Amerika Serikat merespons situasi tersebut dengan mengajak sejumlah negara untuk ikut menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang semakin tidak aman.

Mantan Presiden AS Donald Trump melalui pernyataan panjang di media sosialnya meminta negara-negara yang terdampak gangguan pelayaran untuk mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.

Trump menyebut negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga Inggris seharusnya ikut berperan menjaga jalur tersebut agar tetap aman bagi perdagangan global.

Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan terus melakukan operasi militer di wilayah sekitar Iran untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kepentingan internasional.

Di tengah situasi tersebut India menjadi salah satu negara yang mendapatkan pengecualian dari Iran dengan dua kapal tanker berbendera India yang membawa gas petroleum cair dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Pejabat Kementerian Pelabuhan Pelayaran dan Jalur Air India menyatakan perjalanan kapal tersebut berjalan tanpa gangguan sama sekali dari pihak manapun.

Duta Besar Iran untuk India juga mengonfirmasi bahwa kapal India diberikan izin khusus setelah adanya komunikasi langsung antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa Iran tidak menutup Selat Hormuz secara menyeluruh melainkan menerapkan kebijakan selektif terhadap negara-negara tertentu berdasarkan hubungan diplomatik.

Meski demikian sejumlah analis menilai situasi ini tetap berisiko besar bagi perdagangan global mengingat ketidakpastian yang masih menyelimuti kawasan.

Pakar keamanan dari King's College London Andreas Krieg menilai seruan Amerika Serikat untuk membentuk koalisi penjaga Selat Hormuz lebih terlihat sebagai upaya menenangkan pasar yang mulai panik.

Menurutnya Iran tidak perlu melakukan penutupan total untuk mengganggu aktivitas pelayaran karena serangan kecil seperti drone ranjau laut atau rudal jarak pendek saja sudah cukup untuk membuat perusahaan asuransi menolak menanggung kapal yang melintas.

Akibatnya aktivitas perdagangan bisa terhenti secara otomatis tanpa perlu blokade resmi dari pihak Iran.

Kondisi tersebut membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global terutama karena jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi distribusi minyak dari kawasan Teluk ke pasar dunia.

Para pengamat terus memantau perkembangan situasi yang dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika konflik antara Iran dan lawan-lawannya.

Dunia internasional berharap agar semua pihak dapat menahan diri untuk tidak melakukan eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu pasokan energi global.

Stabilitas Selat Hormuz menjadi kunci bagi perekonomian dunia mengingat ketergantungan banyak negara pada minyak dari Timur Tengah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved