Repelita Jakarta - Perubahan sikap Rismon Sianipar dalam kasus yang tengah menjadi sorotan publik justru menimbulkan bumerang yang memperkuat kecurigaan masyarakat terhadap adanya kejanggalan dalam perkara tersebut.
Martinus Butarbutar menilai langkah tersebut tidak memberikan keuntungan strategis bagi pihak yang selama ini dikaitkan dengan Joko Widodo melainkan menambah daftar kontroversi yang semakin memperumit persepsi publik.
Martinus mengungkapkan bahwa perubahan sikap Rismon Sianipar tidak menguntungkan pihak yang selama ini dianggap diuntungkan oleh narasi tertentu dalam polemik berkepanjangan ini.
Sebaliknya kata Martinus hal ini justru menimbulkan pertanyaan lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik perkara yang menyita perhatian publik tersebut.
"Perubahan sikap ini justru memperkuat adanya anomali atau kejanggalan yang membuat masyarakat semakin kritis terhadap perkembangan terbaru," jelasnya.
Lebih lanjut Martinus menyampaikan bahwa jika perubahan sikap tersebut merupakan bagian dari suatu skenario maka perhitungannya tidak berjalan sesuai harapan.
Langkah ini malah berpotensi memperkuat opini publik bahwa ada hal yang tidak biasa dalam proses yang sedang berlangsung di balik layar.
"Dalam situasi seperti ini, persepsi publik menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah diskusi dan pemberitaan," pungkasnya.
Martinus menegaskan bahwa kasus ini masih jauh dari kata selesai dan situasi yang terjadi saat ini semakin membuat publik penasaran terhadap fakta-fakta yang mungkin akan muncul di kemudian hari.
"Drama ini semakin menarik," katanya menandakan bahwa dinamika politik dan opini publik diperkirakan akan terus berkembang dalam waktu dekat.
Dengan berbagai pernyataan yang saling berseberangan dan perubahan sikap dari sejumlah pihak masyarakat kini menunggu kelanjutan dari perkara tersebut.
Apakah akan muncul fakta baru klarifikasi tambahan atau perkembangan yang lebih mengejutkan masih menjadi tanda tanya besar bagi publik.
Satu hal yang pasti isu ini diperkirakan akan terus menjadi topik hangat dalam perbincangan publik ke depan mengingat sensitivitasnya.
Rismon sebelumnya mengaku telah melakukan penelitian lanjutan selama dua hingga tiga bulan terakhir dengan menggunakan tiga variabel teknis yang lebih akurat.
Ketiga parameter tersebut secara otomatis mengoreksi seluruh temuan yang pernah ia tuliskan sebelumnya dalam buku kontroversial berjudul Jokowi's White Paper.
"Wartawan memang butuh kalimat sederhana. Iya, asli ijazah Jokowi. Kenapa Dengan kajian saya makanya saya bilang truth hurts kebenaran itu menyakitkan," ujar Rismon.
Ia menegaskan bahwa keputusan untuk mengungkap kebenaran ini diambil demi menjaga integritas hati dan pikirannya sebagai seorang peneliti yang bertanggung jawab.
Namun langkah ini justru menuai kritik tajam dari berbagai pihak termasuk rekan seperjuangannya yang menilai Rismon telah berkhianat.
Rizal Fadillah dalam analisisnya menyebut Rismon telah kena rudal RS-3 Bom Bom Car dari Yamaguchi yang mengubah fikiran sehat menjadi linglung.
Dokter Tifa juga menyindir perubahan sikap Rismon dengan nada sinis melalui media sosialnya yang menunjukkan ketidaksetujuan.
Roy Suryo menegaskan bahwa pernyataan Rismon merupakan sikap pribadi yang tidak mewakili penulis lain dalam buku Jokowi's White Paper.
Polemik ini menunjukkan betapa kompleksnya persoalan yang melibatkan akademisi politik dan hukum di Indonesia saat ini.
Publik masih menanti perkembangan selanjutnya apakah akan ada fakta baru yang terungkap atau justru semakin memperumit situasi yang ada.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

