
Repelita Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran secara resmi menolak permintaan Perdana Menteri India Narendra Modi untuk mengizinkan kapal-kapal India melewati Selat Hormuz yang diblokade Tehran sejak perang dimulai.
Penolakan ini menegaskan sikap tegas Teheran terhadap negara-negara yang dianggap bersekutu dengan Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik berkepanjangan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara langsung menolak permintaan PM India Narendra Modi untuk mengizinkan kapal-kapal India melintasi jalur vital perdagangan dunia tersebut.
Teheran menyatakan kebijakannya jelas bahwa sekutu Amerika Serikat dan Israel terutama India tidak akan diizinkan masuk setelah pengkhianatan baru-baru ini dilakukan New Delhi.
Pars Today melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan percakapan telepon pada Kamis 12 Maret 2026 malam untuk membahas perkembangan terbaru.
Percakapan tersebut membahas situasi setelah serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Iran serta dampaknya terhadap kawasan dan hubungan bilateral.
Dalam percakapan tersebut Pezeshkian menyampaikan terima kasih atas posisi seimbang dan konstruktif India di arena internasional serta upayanya untuk meredakan ketegangan.
Ia menegaskan Republik Islam tidak memulai perang dan tidak ingin melanjutkannya, namun berdasarkan hak pertahanan diri pangkalan-pangkalan Amerika menjadi sasaran.
Namun di balik ucapan terima kasih itu Iran menyampaikan pesan keras bahwa kebijakan Teheran saat ini sangat jelas menolak sekutu AS-Israel.
Apa yang dimaksud dengan pengkhianatan baru-baru ini oleh Teheran adalah kunjungan Modi ke Israel beberapa pekan sebelum serangan AS-Israel ke Republik Islam pada 28 Februari 2026.
Kunjungan Modi ke Israel yang dilakukan tepat sebelum serangan terhadap Republik Islam memicu kecaman global dan pertanyaan tajam di dalam negeri India.
Media internasional seperti Bloomberg menyebut kunjungan itu mencurigakan dan berbahaya secara diplomatis sementara yang lain menyebut Modi sebagai iklan murah untuk pemilu Israel.
Beberapa laporan bahkan menyebut Modi meyakinkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentang kemungkinan dukungan India terhadap Israel.
Dugaan keterkaitan dengan kepentingan bisnis termasuk perlindungan terhadap Pelabuhan Chabahar yang terkait dengan kelompok Adani semakin memperkeruh suasana.
Di dalam negeri oposisi India mengecam keras kebijakan ini dengan Partai Kongres menyebut kunjungan Modi sebagai kegagalan politik luar negeri dan pengkhianatan terhadap Teheran.
Kritik juga datang dari berbagai kalangan yang menilai India telah menyimpang dari sikap diplomatik tradisionalnya yang non-blok selama ini.
Penolakan Teheran terhadap permintaan India tidak hanya karena kunjungan Modi ke Israel tetapi juga karena sikap India di forum internasional.
India tercatat ikut mensponsori resolusi di Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Dewan Kerjasama Teluk dan Yordania.
Resolusi tersebut juga mengecam Teheran atas ancaman dan tindakannya di Selat Hormuz yang mengganggu pelayaran internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal menjelaskan alasan dukungan negaranya terhadap resolusi tersebut dengan alasan memiliki komunitas besar di negara-negara GCC.
Menurutnya kesejahteraan komunitas India di kawasan itu sangat penting bagi pemerintah dan kawasan Teluk memiliki peran krusial bagi keamanan energi India.
Meskipun mengkritik Republik Islam di PBB India tetap menjaga saluran diplomatik dengan Teheran melalui komunikasi intensif.
Menteri Luar Negeri S Jaishankar telah berbicara tiga kali dengan mitranya Abbas Araghchi dalam beberapa hari terakhir untuk mengamankan kepentingan India.
Dalam panggilan terbaru mereka Jaishankar membahas masalah yang berkaitan dengan keselamatan pelayaran dan keamanan energi India yang terancam.
The Times of India melaporkan bahwa sekitar 28 kapal dagang berbendera India terjebak di sekitar Selat Hormuz dengan rincian 24 kapal di sisi barat dan 4 kapal di sisi timur.
Total ada 788 awak kapal di atas kapal-kapal yang tidak bisa melanjutkan pelayaran ini karena blokade Iran.
Teheran tidak mengizinkan satu pun kapal tanker komersial berbendera India melintasi Selat Hormuz dalam empat hingga lima hari terakhir.
Sementara itu tiga pelaut India tewas satu dilaporkan hilang dan beberapa lainnya terluka dalam insiden maritim terpisah di kawasan Teluk.
Selain itu sekitar 9.000 warga negara India berada di Iran terdiri dari pelajar, pelaut, pengusaha, dan wisatawan yang kini dalam situasi genting.
Kedutaan India di Teheran memindahkan sejumlah warganya ke lokasi yang lebih aman di luar ibu kota sebagai bagian dari upaya perlindungan.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan di tengah situasi keamanan yang memburuk akibat perang yang masih berlangsung.
Pemerintah India juga memfasilitasi warga yang ingin meninggalkan Republik Islam dengan membantu memperoleh visa serta akses penyeberangan darat ke Azerbaijan dan Armenia.
Dari kedua negara tersebut para warga India dapat melanjutkan perjalanan pulang dengan penerbangan komersial yang masih beroperasi.
Di tengah ketegangan ini Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan tiga syarat untuk mengakhiri perang dengan Israel dan AS.
Pertama dengan mengakui hak-hak sah Iran, kedua dengan pembayaran reparasi, dan ketiga dengan jaminan internasional yang kuat terhadap agresi di masa depan.
Perang yang kini memasuki hari ke-14 ini telah menewaskan lebih dari 1.300 orang termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara Teluk dan jalur pelayaran termasuk serangan drone di Kuwait dan Dubai.
Penutupan Selat Hormuz telah memicu krisis minyak global mendorong harga hingga US$100 per barel yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Iran secara tegas menolak permintaan PM Modi untuk mengizinkan kapal India melintasi Selat Hormuz dengan alasan India dianggap sebagai sekutu AS-Israel sebagai respons atas kunjungan Modi ke Israel sebelum serangan.
Sikap India di PBB memperburuk hubungan dengan Iran karena India ikut mensponsori resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk Iran atas serangan terhadap negara-negara Teluk.
Dampak langsung terhadap kepentingan India sangat signifikan dengan 28 kapal dan 788 awak terjebak, 3 pelaut India tewas, dan 9.000 WNI di Iran berada dalam situasi genting.
India terpaksa menjalani diplomasi tali ketat antara kepentingan nasional dan hubungan dengan Iran di tengah krisis yang semakin kompleks.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

