Repelita Jakarta - Target perang singkat yang dijanjikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menggempur Iran bersama Israel nyatanya tak terbukti karena Teheran memberi perlawanan sengit yang membuat kedua negara adidaya itu kini terjebak dalam perangkap yang telah dirancang.
Ambisi AS untuk meruntuhkan rezim Khamenei dengan cara kilat ternyata justru sebaliknya, Iran menunjukkan kekuatan dan strategi yang membuat musuh kewalahan dan kehilangan momentum.
Pengamat Timur Tengah Ridlwan Habib meyakini bahwa Amerika dan Israel kini benar-benar masuk dalam perangkap perang panjang yang telah dipersiapkan Iran sejak lama.
Terlebih Pemimpin Revolusi Islam yang baru terpilih Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan tujuh perintah strategis yang menegaskan perlawanan tanpa kompromi terhadap agresor.
Salah satu perintah terpenting adalah mengaktifkan gempuran yang disebut dengan operasi Syadidul Iqab, sebuah istilah Al-Quran yang berarti azab yang pedih dan kerasnya hukuman Allah.
"Itu dari kata-kata Al-Quran artinya adalah azab yang pedih," katanya dikutip dari kanal YouTube tvOne pada Jumat 13 Maret 2026.
Adapun Syadidul Iqab merupakan salah satu sifat Allah SWT yang tercantum dalam Al-Quran, artinya Maha Keras Hukuman-Nya.
Syadidul Iqab muncul beberapa kali dalam Al-Quran, di antaranya dalam Surat Al-Maidah ayat 2 dan ayat 98 yang sering dikaitkan dengan perintah untuk bertakwa dan menjauhi larangan Allah.
"Nah operasi Syadidul Iqab ini mengarah ke Israel. Jadi, begitu ini diluncurkan di-on-kan, maka ratusan drone meluncur," jelasnya memaparkan strategi yang diterapkan.
Korps Garda Revolusi Islam juga telah beberapa kali melakukan serangan dengan rudal balistik baru di antaranya Al Fattah 2 yang memiliki kecepatan sekitar 20.000 km per jam yang sulit dicegat sistem pertahanan lawan.
"Sehingga kalau ditembakkan dari Tabriz di tengah kota Iran itu sampai Tel Aviv kira-kira sekitar 10 atau 11 menit," katanya menggambarkan kecepatan mematikan rudal tersebut.
Ridlwan mengungkapkan bahwa dalam perang ini Iran menggunakan strategi attrition warfare, yakni strategi militer yang bertujuan melemahkan musuh secara bertahap melalui kerugian terus-menerus.
Strategi ini dirancang khusus untuk menguras habis pundi-pundi emas dan gudang amunisi lawan melalui serangan asimetris yang memanfaatkan biaya produksi drone murah berbanding rudal pencegat mahal.
"Sebenarnya ini strategi perang lama ya. Dulu Indonesia pernah melakukan itu loh di era Panglima Besar Jenderal Sudirman. Masih ingat kan ada serangan umum 1 Maret dalam buku-buku sejarah itu bagian dari attrition warfare," tuturnya.
Ridlwan mengatakan kala itu strategi Jenderal Sudirman berhasil menguras energi Belanda dengan serangan-serangan kecil tapi terus-menerus yang membuat lawan kelelahan dan kehabisan sumber daya.
Cara ini juga dilakukan Vietnam dan Afghanistan ketika menghadapi Amerika Serikat yang dikenal dengan kekuatan militernya namun akhirnya harus menarik diri dengan kekalahan.
"Nah strategi Iran ini mematahkan kaki-kaki. Misalnya kemarin, baru saja kemarin ada pesawat tanker KI 135. Ini bahasa sederhananya itu pom bensin terbang. Pom bensin terbangnya Amerika dijatuhkan di Irak Barat oleh faksi perlawanan Irak yang pro Iran," ucap Ridlwan.
"Jadi ini membuat jet-jet tempur yang ada di pangkalan di Qatar, di Bahrain enggak ada fuel-nya. Enggak bisa refueling. Sehingga jet tempurnya ada tapi enggak bisa terbang ke Iran karena tidak ada bensinnya," jelasnya.
Perintah pertama Mojtaba Khamenei menegaskan agar Korps Garda Revolusi Islam tetap menutup Selat Hormuz selama perang perlawanan balasan terhadap Zionis Israel dan Amerika Serikat masih berlangsung.
"Pemblokiran (penutupan) Selat Hormuz harus tetap dilakukan," begitu perintah Mojtaba yang dikutip dari kanal Telegram resmi kantor berita Iran IRNA News Agency.
Perintah kedua mewajibkan militer maupun pejabat Iran untuk terus melakukan pembalasan terhadap AS dan Zionis termasuk penyitaan aset-aset milik mereka sebagai kompensasi atas kehancuran yang dilakukan.
Perintah ketiga menjawab kritik maupun tudingan negara-negara Teluk Arab yang terkena dampak langsung atas perang perlawanan yang dilakukan Iran terhadap Zionis-AS.
Perintah keempat menegaskan agar pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan harus dibumihanguskan dan ditutup paksa oleh negara-negara setempat.
"Semua pangkalan AS harus ditutup, atau kami akan terus menyerang mereka," ujar dia dengan nada mengancam dalam pernyataannya.
Dengan strategi attrition warfare yang diterapkan, Iran diprediksi akan terus menguras kekuatan militer AS dan Israel hingga keduanya mencapai titik kelelahan dan terpaksa mencari jalan keluar.
Krisis logistik mulai menghantui Washington dan Tel Aviv karena setiap rudal penangkis yang ditembakkan berarti satu langkah lebih dekat menuju kekosongan gudang senjata.
Sementara di pihak Iran, jalur perakitan drone terus berputar tanpa henti dengan biaya supermurah yang hanya mencapai 20.000 hingga 30.000 dollar AS per unit.
Situasi menjadi jauh lebih buruk ketika Iran meluncurkan rudal balistik jarak menengah yang harus dicegat dengan THAAD atau rudal SM-3 seharga 12 juta hingga 15 juta dollar AS per unit.
Data yang dihimpun menyebutkan berdasarkan laporan terkini hingga Maret 2026, kerugian Amerika Serikat dalam konflik militer dengan Iran sangat besar dan mencakup kerusakan alat utama sistem senjata serta hilangnya personel militer.
Dalam 4 hari pertama perang saja, AS dilaporkan mengalami kerugian alat militer senilai hampir USD 2 miliar atau sekitar Rp33 triliun akibat serangan drone dan rudal Iran.
Estimasi biaya untuk 100 jam pertama serangan mencapai USD 5,82 miliar, sementara dalam kurun waktu 100 hari total pengeluaran diperkirakan menembus USD 3,7 miliar atau sekitar Rp57 triliun.
Dikutip dari berbagai sumber, sampai dengan 9 Maret 2026 dilaporkan sebanyak 7 tentara Amerika Serikat tewas dalam perang melawan IRGC di berbagai front pertempuran.
Di sisi lain konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia dan memberikan tekanan signifikan pada nilai tukar Rupiah serta pasar saham IHSG di dalam negeri.
Ketegangan ini juga mempengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve karena adanya kekhawatiran inflasi global yang semakin tidak terkendali.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya menegaskan bahwa pemboman di ibu kota Teheran tidak berdampak pada kemampuan Iran untuk berperang karena sistem pertahanan mosaik terdesentralisasi yang mereka miliki.
"Kami telah memiliki waktu dua dekade untuk mempelajari kekalahan militer AS di sebelah timur dan barat kami. Kami telah mengambil pelajaran yang sesuai," katanya merujuk pada invasi militer AS ke Irak dan Afghanistan.
"Sistem Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi memungkinkan kita untuk memutuskan kapan dan bagaimana perang akan berakhir," tegas Araqchi memberikan sinyal bahwa Iran yang akan menentukan akhir perang.
Situasi ini menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi dapat dimenangkan dengan kekuatan militer semata, melainkan membutuhkan strategi komprehensif yang mempertimbangkan berbagai aspek termasuk logistik dan ketahanan ekonomi.
Iran membuktikan bahwa dengan persiapan matang dan strategi tepat, negara yang lebih kecil secara militer pun dapat memberikan perlawanan berarti terhadap negara adidaya dan membuat mereka terjebak dalam perang panjang yang menguras sumber daya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

