Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Iran Ejek AS soal Klaim Pengawalan di Selat Hormuz: Tak Ada Kapal AS Berani Mendekat!

 

Repelita Selat Hormuz - Sebuah drama diplomatik dan militer antara Iran dan Amerika Serikat terjadi di jalur air paling strategis dunia, Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Republik Islam, Mohammad Baqer Qalibaf, melontarkan ejekan pedas kepada Amerika Serikat setelah Menteri Energi AS, Chris Wright, mengunggah dan kemudian menghapus klaim bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.

Sebagaimana dilaporkan Daily Ittehad, Qalibaf mengejek Amerika pada Selasa, 10 Maret 2026, atas insiden memalukan tersebut.

Gedung Putih dengan cepat membantah pernyataan yang dibuat oleh menterinya sendiri, menyebutnya tidak akurat dan hanya kesalahan staf.

Sementara para pejabat Teheran mengecam Washington karena dianggap menyebarkan informasi yang salah untuk memanipulasi pasar minyak global yang sedang bergejolak.

Kontroversi ini bermula ketika Wright mengunggah di media sosial pada pukul 13.02 Waktu Bagian Timur AS atau 17.00 GMT bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui jalur perairan strategis tersebut.

Ia memuji pemerintahan Presiden AS Donald Trump karena dianggap menjaga stabilitas energi global selama operasi militer melawan Iran.

Namun, unggahan yang sempat menjadi perbincangan itu dihapus dalam waktu 30 menit tanpa disertai penjelasan apa pun dari yang bersangkutan.

Dalam laporan Anadolu Ajansi, seorang juru bicara Departemen Energi kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataan tersebut salah diberi keterangan oleh staf Departemen Energi.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kemudian mengklarifikasi bahwa pengawalan semacam itu tidak pernah terjadi sama sekali.

"Saya dapat memastikan bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini, meskipun tentu saja itu adalah opsi yang menurut Presiden akan sangat mungkin digunakan jika dan ketika diperlukan, pada waktu yang tepat," katanya kepada wartawan, dikutip dari Daily Ittehad.

Di pihak Republik Islam, respons datang bertubi-tubi dari berbagai pejabat tinggi negara.

Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sardar Ali Mohammad Naeini, dengan tegas membantah klaim yang sempat beredar tersebut.

"Tidak ada kapal AS yang berani mendekati Laut Oman, Teluk Persia, atau Selat Hormuz selama perang," kata Naeini dalam pernyataan yang disiarkan oleh lembaga penyiaran publik IRIB.

Naeini menegaskan bahwa Iran akan menghentikan setiap pergerakan armada AS dan sekutunya selama operasi militer berlangsung.

"Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami," tegasnya dalam pernyataan yang sama.

Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, juga angkat bicara melalui akun resminya di X, memperingatkan akan menghentikan pergerakan armada Amerika Serikat dan sekutunya yang melintasi Selat Hormuz.

Ia menyebutkan bahwa rudal dan kapal selam akan digunakan termasuk dalam misi pengawalan jika nekat dilakukan.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan peringatan filosofis melalui akun X pribadinya.

"Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua pihak, atau menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang," ujarnya dalam cuitan yang menjadi viral.

Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araqchi menepis unggahan Wright yang telah dihapus tersebut sebagai disinformasi yang disengaja untuk kepentingan tertentu.

"Para pejabat AS menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi pasar," tulisnya di media sosial.

"Hal itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika."

Sayyid Araqchi lebih lanjut memperingatkan bahwa pasar minyak global menghadapi kekurangan terbesar dalam sejarah, melampaui dampak gabungan dari Embargo Minyak Arab, Revolusi Islam Iran, dan invasi Kuwait.

Informasi prematur yang beredar selama 30 menit tersebut sempat mengguncang pasar energi dunia dengan cepat.

Harga minyak mentah AS yang awalnya berada di level 84 dolar per barel, merosot tajam ke angka 76,73 dolar sesaat setelah unggahan Wright muncul.

Namun, harga kembali terkoreksi ke posisi 84,70 dolar setelah unggahan tersebut dihapus dari peredaran.

Secara keseluruhan, harga minyak dunia mengalami gejolak liar yang sulit diprediksi dalam beberapa hari terakhir.

Patokan harga minyak dunia Brent pada Selasa, 10 Maret 2026 anjlok 11,3 persen ke 87,80 dolar AS per barel.

Sehari sebelumnya, harga sempat melonjak 30 persen dan nyaris menyentuh 120 dolar AS per barel.

Gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak melonjak, dengan American Automobile Association melaporkan kenaikan harga bensin di AS sebesar 43 sen selama seminggu terakhir.

Harga rata-rata saat ini berada di angka 3,54 dolar per galon atau sekitar 94 sen per liter.

Situasi di Selat Hormuz semakin meningkat menyusul laporan intelijen yang menyebutkan Iran mulai memasang ranjau di jalur pelayaran vital tersebut.

Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia atau sekitar 20 juta barel per hari biasanya melintasi selat ini sebelum perang pecah.

Meski pemasangan ranjau dilaporkan belum dalam skala besar, IRGC dilaporkan memiliki kemampuan untuk menyebarkan ratusan ranjau menggunakan kapal-kapal kecil dan kapal cepat.

IRGC bahkan sebelumnya telah mengeluarkan ancaman akan menyerang setiap kapal yang melintas, hingga jalur tersebut dijuluki sebagai Lembah Kematian oleh para pelaut.

Senator Amerika Serikat, Christopher Scott Murphy, mengungkap fakta mengejutkan dalam pernyataannya kepada publik.

Pemerintahan Trump tak tahu cara membuka Selat Hormuz dan Angkatan Laut menolak mengawal kapal yang mau melayari selat itu.

Murphy menyampaikan itu pada Selasa, 10 Maret 2026 malam waktu Washington DC setelah mengikuti pengarahan tertutup dari perwakilan pemerintah kepada Kongres AS.

"Di Selat Hormuz, mereka tidak punya rencana. Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang bagaimana Iran menyumbat Selat tersebut, tetapi cukup dikatakan, saat ini, mereka (pemerintah AS) tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman," tulisnya di media sosial.

Peneliti pada Center for Naval Analyses AS, Jonathan Schroden, menyebut bahwa pengawalan oleh kapal perang AS terlalu berbahaya dalam situasi saat ini.

Ada risiko terkena ranjau atau diserang dengan rudal dan wahana nirawak laut serta udara kapan saja.

Kini, kapal induk dan aneka kapal perang AS berjarak lebih dari 500 kilometer dari pesisir Iran.

Sementara lebar Selat Hormuz tak sampai 50 kilometer, membuatnya sangat rentan terhadap serangan.

Penentangan publik terhadap perang dengan Iran tetap tinggi di Amerika Serikat.

Sebuah jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang dirilis pada hari Senin, 9 Maret 2026 menemukan bahwa 53 persen pemilih AS sangat menentang aksi militer terhadap Iran.

Survei Reuters-Ipsos terpisah pekan lalu menunjukkan ketidaksetujuan yang bahkan lebih kuat, dengan 60 persen responden menentang perang tersebut.

Klaim Menteri Energi AS hanya bertahan 30 menit sebelum akhirnya dihapus dan dibantah Gedung Putih.

Iran menegaskan tak ada kapal AS yang berani mendekat karena setiap pergerakan akan dihentikan rudal.

Dampak pada pasar minyak langsung terasa dan Senator Murphy mengakui pemerintah AS tak tahu cara membuka Selat Hormuz.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved