Repelita Jakarta - Di tengah eskalasi perang besar antara Amerika Serikat serta Israel melawan Iran yang memanas sejak akhir Februari dua ribu dua puluh enam nama Jenderal Esmail Qaani Komandan Pasukan Quds menjadi pusat rumor paling kontroversial di Teheran.
Spekulasi pengkhianatan yang menimpa Qaani muncul dari serangkaian kegagalan intelijen yang memukul keras struktur keamanan Republik Islam termasuk tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Februari dua ribu dua puluh enam.
Pertanyaan mendasar yang muncul di kalangan analis dan pengamat militer adalah bagaimana koordinat rahasia serta lokasi paling terlindungi di Iran bisa ditembus operasi presisi tanpa adanya kebocoran informasi dari pihak dalam.
Nama Qaani terseret ke pusaran dugaan ini bukan hanya karena posisinya sebagai pemimpin Pasukan Quds yang mengelola operasi eksternal serta jaringan milisi proksi Iran di Timur Tengah melainkan juga karena gaya kepemimpinannya yang berbeda dari pendahulunya Qasem Soleimani.
Dibandingkan Soleimani yang dikenal karismatik serta agresif di arena geopolitik Qaani dinilai lebih birokratis dan tertutup sehingga memicu berbagai tafsir di tengah tekanan perang.
Pria kelahiran Mashhad itu bukan figur baru dalam hierarki militer Iran karena telah bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam sejak masa awal Revolusi Islam dan membangun reputasi tempurnya selama Perang Iran-Irak antara tahun sembilan belas delapan puluh hingga sembilan belas delapan delapan.
Setelah bertahun-tahun beroperasi di balik layar urusan luar negeri Iran Qaani naik menggantikan Soleimani yang tewas akibat serangan drone Amerika Serikat di Baghdad pada tahun dua ribu dua puluh.
Dalam beberapa bulan terakhir tekanan terhadap Qaani semakin meningkat akibat kegagalan mencegah infiltrasi asing ke Unit delapan empat puluh IRGC serta jaringan Poros Perlawanan yang mencakup Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Bagi sebagian kalangan kegagalan tersebut dianggap sebagai kelemahan struktural sementara bagi pihak lain hal itu bahkan dicurigai sebagai pembiaran yang disengaja.
Beberapa laporan media regional menyebut Qaani kini berada di bawah pengawasan ketat dan bahkan dikabarkan menjalani interogasi terkait dugaan infiltrasi Mossad.
Namun di tengah atmosfer perang total batas antara fakta rumor serta propaganda menjadi sangat kabur sehingga isu penangkapan Qaani bisa saja merupakan bagian dari operasi psychological warfare Barat untuk meruntuhkan moral jaringan proksi Iran di kawasan.
Di sisi lain muncul teori bahwa penyisiran internal sedang berlangsung dalam tubuh IRGC karena dalam sejarah rezim yang menghadapi tekanan militer besar pencarian kambing hitam sering menjadi mekanisme politik untuk mempertahankan stabilitas kekuasaan.
Hingga kini status Jenderal Esmail Qaani masih diselimuti ketidakpastian karena secara administratif ia tetap tercatat sebagai Komandan Pasukan Quds dan namanya masih muncul dalam pernyataan resmi operasi balasan Iran bertajuk Janji Setia empat yang diarahkan ke Tel Aviv.
Absennya Qaani dari ruang publik sejak eskalasi besar dimulai pada tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam terus memicu berbagai tanda tanya besar.
Apakah ia benar-benar sedang ditahan untuk diperiksa dieksekusi ataukah justru disembunyikan demi alasan keamanan di tengah hujan rudal yang menghantam Iran masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Selama Teheran belum menghadirkan bukti nyata berupa kemunculan langsung sang jenderal bayang-bayang keraguan akan terus menggantung dan menjadi salah satu titik paling rapuh dalam pertahanan narasi Iran di mata dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

