Repelita Teheran - Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan balasan gelombang ke-46 ke sejumlah wilayah di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk pada Minggu 15 Maret 2026 dengan menggunakan rudal balistik canggih Kheibar Shekan.
Serangan tersebut menunjukkan kemampuan militer Iran yang makin beringas terhadap dua musuh besarnya tersebut dengan teknologi rudal yang terus ditingkatkan.
Data yang dihimpun menyebut Teheran kini melakukan serangan dengan menggunakan rudal balistik Kheibar Shekan yang menjadi andalan baru dalam operasi militer.
Sasarannya adalah wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah termasuk Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas Korps Garda Revolusi Islam Iran menyebutkan bahwa sejumlah rudal balistik berbahan bakar padat Kheibar Shekan diluncurkan ke berbagai target militer.
Serangan tersebut tidak hanya menyasar fasilitas militer Israel tetapi juga beberapa lokasi yang disebut sebagai tempat penempatan pasukan Amerika di kawasan Teluk.
Dalam operasi yang disebut True Promise 4 itu IRGC juga bekerja sama dengan kelompok Hizbullah yang meluncurkan drone tempur untuk menyerang posisi militer Israel di perbatasan utara.
Peluncuran rudal dan drone secara bersamaan ini menunjukkan bagaimana Republik Islam itu mencoba menggabungkan berbagai jenis serangan untuk menekan pertahanan lawan.
Kheibar Shekan merupakan rudal balistik berbahan bakar padat generasi baru yang diperkenalkan Iran pada tahun 2022 dengan panjang sekitar 11 meter dan jangkauan hingga 1.450 kilometer.
Jarak tersebut memungkinkan rudal ini menjangkau wilayah Israel jika diluncurkan dari Teheran atau wilayah barat Iran dengan waktu tempuh yang sangat singkat.
Penggunaan bahan bakar padat menjadi salah satu keunggulan utama rudal ini karena dengan teknologi tersebut rudal dapat disiapkan untuk peluncuran dalam waktu relatif singkat.
Para insinyur militer Iran bahkan mengklaim rudal ini dapat siap diluncurkan dalam waktu kurang dari 15 menit sehingga sulit dideteksi musuh.
Kemampuan tersebut membuat sistem ini lebih fleksibel dan sulit dihentikan sebelum diluncurkan karena peluncur bergerak dapat disembunyikan di mana saja.
Salah satu fitur yang paling menonjol dari Kheibar Shekan adalah tingkat presisinya yang tinggi dengan menggunakan sistem panduan satelit canggih.
Rudal ini menggunakan sistem panduan satelit yang membantu mengarahkan hulu ledak menuju target secara lebih akurat dibandingkan generasi rudal sebelumnya.
Selain itu rudal ini dilengkapi teknologi Maneuverable Reentry Vehicle yang menggabungkan hulu ledak rudal balistik dengan kemampuan untuk mengubah jalur penerbangannya.
Teknologi itu memungkinkan hulu ledak untuk bermanuver setelah memasuki kembali atmosfer bumi terutama pada fase akhir sebelum mengenai target.
Kemampuan bermanuver tersebut membuat jalur terbang rudal menjadi tidak mudah diprediksi oleh sistem pertahanan musuh.
Akibatnya sistem pertahanan udara seperti Iron Dome Patriot maupun David's Sling menjadi lebih sulit untuk mencegatnya karena perubahan arah yang tiba-tiba.
Rudal ini juga memiliki kecepatan yang sangat tinggi bahkan dapat mencapai lebih dari Mach 8 saat fase akhir penerbangan sehingga waktu reaksi sangat singkat.
Dengan kecepatan tersebut waktu yang dimiliki sistem pertahanan udara untuk bereaksi menjadi jauh lebih singkat dan seringkali tidak mencukupi.
Selain cepat dan akurat Kheibar Shekan juga dirancang dengan desain yang lebih sederhana dan efisien dengan mengurangi komponen eksternal tertentu.
Para insinyur Iran mengurangi komponen eksternal tertentu seperti aileron untuk mengurangi hambatan udara dan meningkatkan aerodinamika.
Desain ini membuat rudal dapat melaju lebih cepat sekaligus meningkatkan akurasi saat menghantam target yang telah ditentukan.
Tidak hanya itu rudal ini juga dirancang agar dapat diluncurkan dari berbagai platform bergerak termasuk kendaraan komersial yang dimodifikasi.
Menurut sejumlah laporan Kheibar Shekan bahkan bisa diluncurkan dari kendaraan komersial yang dimodifikasi sehingga sulit dideteksi intelijen musuh.
Kemampuan tersebut membuat rudal ini lebih sulit dideteksi sebelum diluncurkan sekaligus mempersulit musuh untuk menghancurkannya lebih dulu.
Pengembangan rudal seperti Kheibar Shekan menunjukkan bagaimana Iran terus meningkatkan teknologi militernya terutama di bidang sistem rudal selama lebih dari satu dekade terakhir.
Teheran diketahui fokus pada peningkatan teknologi presisi panduan dan aerodinamika pada senjata jarak jauhnya untuk mengimbangi keterbatasan pada peralatan militer konvensional.
Langkah ini juga dipandang sebagai strategi untuk mengimbangi keterbatasan pada peralatan militer konvensional seperti tank dan pesawat tempur yang sebagian besar sudah berusia tua.
Dengan rudal jarak jauh yang presisi dan sulit dicegat Republik Islam tersebut ingin menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki kemampuan untuk menyerang target strategis yang jauh.
Pesan tersebut tidak hanya ditujukkan kepada lawan tetapi juga kepada sekutu di kawasan bahwa Iran adalah kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh.
Stok rudal pencegat milik Israel dilaporkan mulai menipis di tengah konflik yang terus berlangsung dengan Iran yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda mereda.
Israel memberi tahu Amerika Serikat terkait kondisi stok interseptor yang semakin terbatas dan berada dalam kondisi kekurangan kritis informasi yang berasal dari sejumlah pejabat AS.
"Israel memberi tahu Amerika Serikat pekan ini bahwa mereka berada dalam kondisi kekurangan kritis interseptor rudal balistik seiring konflik dengan Iran yang masih berlangsung," tulis laporan itu dikutip dari Reuters.
Keterbatasan stok itu menjadi perhatian serius karena interseptor merupakan komponen penting dalam sistem pertahanan udara Israel untuk mencegat rudal yang masuk ke wilayahnya.
AS sebenarnya telah mengetahui keterbatasan kapasitas interseptor Israel sejak beberapa bulan terakhir terutama setelah konflik 12 hari pada Juni 2025 yang banyak menguras stok rudal pencegat.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Semafor bahwa Washington telah mengetahui kapasitas pencegat Israel yang terbatas selama berbulan-bulan dan telah mengantisipasi situasi ini.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa AS tidak mengalami kekurangan pencegat rudal serupa dan masih memiliki cadangan yang cukup untuk melindungi kepentingannya di kawasan.
Iran disebut telah mulai menambahkan munisi tandan ke beberapa rudalnya yang berpotensi mempercepat penipisan pertahanan Israel karena setiap rudal yang membawa sub-munisi membutuhkan beberapa pencegat untuk menetralisirnya.
Sejumlah penilaian intelijen menunjukkan bahwa tanpa pengisian ulang stok dari Amerika Serikat Israel diperkirakan hanya mampu mempertahankan pertahanan udaranya selama 10 hingga 12 hari.
Jika intensitas serangan Iran tetap tinggi seperti sekarang maka sistem pertahanan Israel hanya akan bertahan dalam waktu 10 hari ke depan.
Besarnya volume serangan rudal balistik jelajah dan hipersonik dari Iran telah mengungkapkan titik lemah sistem pertahanan udara Israel.
Akibat stok yang terbatas militer Israel kini harus memilih prioritas target mana yang akan dicegat dan membiarkan rudal jatuh di wilayah tak berpenghuni.
Disitat dari kabar yang beredar Amerika Serikat tengah berupaya memperkuat pertahanan udara Israel dengan mengirimkan pasokan rudal pencegat tambahan.
Namun AS sendiri menghadapi kendala karena persediaan mereka juga mulai terbatas setelah mengirim banyak bantuan ke Israel dan sekutu lainnya.
Menanggapi situasi ini pemerintah Israel telah menambah anggaran pertahanan sebesar 28 miliar shekel sehingga total anggaran pertahanan tahun ini mencapai 140 miliar shekel.
Namun di tengah gempuran gelombang ke-46 dan ancaman rudal Kheibar Shekan yang sulit dihentikan anggaran sebesar itu mungkin tidak akan cukup jika stok pencegat benar-benar habis.
Pejabat militer Iran mengatakan mereka akan terus menyerang aset AS di kawasan tersebut serta posisi Israel di wilayah pendudukan.
"Kami telah memutuskan bahwa kami tidak akan mundur atau membiarkan Amerika Serikat pergi tanpa konsekuensi. Kami tidak akan menghentikan perang ini," kata Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Kiomars Heidari.
Menurutnya Iran akan terus melanjutkan perang hingga lautan dipenuhi peti mati perwira, bintara, dan tentara AS yang dikirim kembali ke Amerika Serikat.
“Bagi kami, tidak masalah berapa lama perang ini berlangsung. Kami sudah pernah mengalami perang delapan tahun sebelumnya. Kami akan mengakhiri perang ini hanya ketika kami telah mencapai tujuan kami dan memaksa musuh untuk menyesali tindakan memalukannya,” tegas Heidari.
Konflik yang telah memasuki hari ke-16 ini terus berlanjut dengan intensitas tinggi tanpa tanda-tanda akan segera mereda dalam waktu dekat.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks dan berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

