Repelita Jakarta - Amerika Serikat sedang mempertimbangkan perpanjangan durasi operasi militer terhadap Iran hingga mencapai seratus hari atau berlangsung sampai September mendatang.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa revisi jadwal ini mencerminkan penyesuaian strategi di tengah perkembangan konflik yang tidak sesuai prediksi awal.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth pada Rabu 5 Februari 2026 mengumumkan perubahan tenggat waktu operasi menjadi delapan minggu dari sebelumnya hanya empat hingga lima minggu.
Presiden Donald Trump sebelumnya menetapkan batas waktu singkat tersebut dengan harapan menyelesaikan serangan secara cepat jika diperlukan.
Komando Pusat Amerika Serikat CENTCOM meminta penambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa Florida untuk mendukung operasi terkait Iran.
Permintaan personel tambahan itu tercantum dalam dokumen internal Pentagon yang menunjukkan persiapan anggaran untuk konflik jangka panjang.
Langkah tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah semula meremehkan skala dan kompleksitas pertempuran dengan Iran.
Upaya meningkatkan sumber daya evakuasi bagi warga Amerika di Timur Tengah juga dilakukan bersamaan dengan penguatan tim pengumpul intelijen.
Persiapan ini menandakan bahwa administrasi Trump belum sepenuhnya siap menghadapi eskalasi konflik yang lebih luas dan berkepanjangan.
Pada Sabtu 28 Februari 2026 Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara ke berbagai target di Iran termasuk wilayah Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan warga sipil Iran.
Televisi negara Iran mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur akibat serangan tersebut.
Iran segera membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik yang awalnya direncanakan singkat kini berpotensi berubah menjadi perang berkepanjangan dengan implikasi strategis yang luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

