Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Anas Urbaningrum Sentil Menkeu Purbaya: Fokus Kerja, Kurangi Becanda di Tengah Ekonomi Berat

 Anas Urbaningrum Berharap Langkah Efisiensi Pemerintah Jadi Budaya Baru - Inusa.id

Repelita Jakarta - Sikap santai dan penuh candaan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa nampaknya tidak membuat semua orang merasa senang di tengah situasi ekonomi yang berat.

Salah satunya Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara, Anas Urbaningrum, yang menilai pejabat negara seharusnya lebih fokus bekerja ketimbang melontarkan candaan kurang tepat.

Ia menilai, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, para pembantu presiden harus bekerja secara serius menghadapi situasi yang tidak mudah.

Pernyataan tersebut disampaikan Anas sebagai bentuk pengingat agar para pembantu presiden menunjukkan kinerja maksimal.

Anas secara lugas menyampaikan pesannya kepada Menteri Keuangan agar mengurangi gaya komunikasi yang dianggap terlalu santai.

"Saran untuk Pak Purbaya, fokus kerja, kurangi becanda," ujar Anas dikutip pada Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menegaskan, candaan yang disampaikan pejabat publik harus mempertimbangkan konteks dan situasi yang sedang dihadapi masyarakat luas.

"Candaan yang kurang tepat posisi, peran dan lokasi," sebutnya mengkritisi pernyataan Menkeu sebelumnya.

Lanjut Anas, kondisi ekonomi saat ini tidak dalam situasi ringan, sehingga tidak layak dijadikan bahan gurauan oleh pejabat negara.

"Keadaan sedang tidak mudah. Alias berat. Bukan untuk diguyonlan," imbuhnya mengingatkan situasi riil di masyarakat.

Lebih jauh, Anas menekankan pentingnya profesionalisme para pembantu presiden dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

"Pembantu Presiden musti siap berjibaku dengan profesional dan berkomitmen," kuncinya menegaskan standar yang harus dijaga.

Mantan anggota DPR RI ini berharap seluruh pejabat negara dapat menunjukkan kinerja maksimal serta fokus dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak global.

Namun, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi mata uang Garuda masih dalam batas wajar.

Purbaya menegaskan bahwa gejolak global memang berdampak terhadap pasar keuangan, namun tidak sampai membuat rupiah jatuh signifikan.

Hal ini diungkapkan Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di hadapan Presiden Prabowo Subianto, dikutip pada Sabtu, 14 Maret 2026 lalu.

"Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau dilihat betul, itu setiap perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen," kata Purbaya.

Dalam kesempatan itu, Purbaya juga melontarkan sindiran kepada pihak-pihak yang dinilai terlalu pesimistis terhadap pergerakan rupiah.

"Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita. Yang real pemain yang punya duit betul bilangnya seperti ini. Tapi yang enggak punya duit, yang enggak punya duit kali Pak ya. Jelek-jelekin Pak yang nggak punya duit," ungkapnya.

Menurutnya, para investor besar justru melihat ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah tekanan global saat ini.

Purbaya menyebutkan, indikator pasar menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga dengan baik.

Salah satunya terlihat dari Credit Default Swap tenor 5 tahun yang relatif stabil meskipun terjadi gejolak global.

Selain itu, selisih imbal hasil Surat Berharga Negara terhadap US Treasury juga hanya mengalami kenaikan tipis.

Hal ini menjadi sinyal bahwa risiko investasi di Indonesia masih dinilai terkendali oleh pasar global.

Meski demikian, pergerakan rupiah di pasar masih menunjukkan pelemahan dalam beberapa pekan terakhir.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, rupiah turun 65 poin atau 0,38 persen ke level Rp16.958 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang dirilis Bank Indonesia juga melemah ke posisi Rp16.934 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.899.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor eksternal, khususnya ketegangan di Timur Tengah.

Ia menyebut, arah kebijakan dari pemimpin Iran terkait potensi penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama gejolak.

"Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," ucap Ibrahim.

Kondisi tersebut dianggap berdampak luas terhadap pasar energi dunia, yang pada akhirnya turut memengaruhi stabilitas nilai tukar, termasuk rupiah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved