Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Trump Murka ke Sekutu NATO: Kami Lindungi 40 Tahun, Kok Sekarang Ragu Bantu di Selat Hormuz?

Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan watak aslinya yang meledak-ledak di hadapan publik dan media.

Kali ini, sasarannya bukan cuma Teheran, melainkan negara-negara sekutu Barat yang dianggapnya kurang gairah dalam membantu Washington mengamankan Selat Hormuz.

Di tengah tensi perang yang kian membara melawan Iran, Trump menuntut komitmen penuh dari sekutu, bukan sekadar basa-basi diplomatik biasa.

Berbicara di hadapan wartawan di Gedung Putih pada Senin, 16 Maret 2026, politisi Partai Republik ini secara terbuka meluapkan kekecewaannya.

Bagi Trump, Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa, melainkan urat nadi perdagangan minyak global yang kini terancam lumpuh total.

Ia menilai, bantuan yang datang dari blok Barat masih jauh dari kata memuaskan dan tidak sebanding dengan kontribusi AS.

Trump tidak lagi menggunakan bahasa halus dalam menyampaikan kritiknya kepada negara-negara sahabat.

Ia menuding negara-negara sekutu telah menikmati payung keamanan AS selama puluhan tahun tanpa memberikan imbal balik setimpal.

Hal ini terjadi saat Washington membutuhkan dukungan militer di Timur Tengah menghadapi Iran.

“Kami sangat mendorong negara-negara lain untuk terlibat bersama kami, dan terlibat dengan cepat serta dengan antusiasme yang besar,” tegas Trump dengan nada tinggi.

“Bagi saya, tingkat antusiasme itu penting. Selama 40 tahun kami melindungi kalian, dan sekarang kalian tidak ingin terlibat? Itu keterlaluan,” tambahnya.

Pernyataan ini muncul setelah NATO dan beberapa sekutu utama Barat tampak ragu-ragu untuk terjun langsung ke Selat Hormuz.

Selat tersebut diklaim Amerika Serikat telah ditutup secara efektif oleh kekuatan militer Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Keengganan ini jelas menjadi kerikil dalam sepatu bagi ambisi Trump untuk mendominasi kawasan Teluk yang kaya minyak.

Dalam sesi tanya jawab yang dinamis, Trump sempat memberikan penilaian unik terhadap para pemimpin Eropa.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron, rupanya masih mendapat tempat di hati Trump meskipun tidak sepenuhnya.

“Dalam skala nol sampai sepuluh, saya beri dia nilai delapan,” ujar Trump dengan santai di hadapan wartawan.

“Tidak sempurna, tapi ya, ini Perancis. Saya rasa dia akan membantu,” lanjutnya menilai kontribusi Perancis.

Namun, nada bicaranya langsung berubah drastis saat menyinggung Inggris yang merupakan sekutu tradisional Amerika.

Trump mengaku sangat tidak puas dengan sikap London di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer.

Meskipun Starmer menyatakan tengah menyusun rencana layak untuk membuka kembali jalur pelayaran, ia menegaskan langkah itu tidak akan dilakukan di bawah bendera misi NATO.

“Saya tidak senang dengan Inggris. Mereka seharusnya terlibat dengan antusias,” semprot Trump dengan nada kesal.

Ia mengaku sakit hati karena London sebelumnya menolak mengirimkan kapal induk ke kawasan konflik.

“Kalian adalah sekutu tertua kami, kami menghabiskan uang gila-gilaan di NATO untuk melindungi kalian, tapi sekarang kalian ragu?” tanyanya.

Meski geram pada sekutu, Trump tetap memberikan tekanan psikologis pada lawannya di Timur Tengah.

Ia meremehkan kekuatan militer Iran setelah dua pekan dihujani serangan udara gabungan oleh AS dan Israel.

Trump tanpa ragu melabeli Teheran sebagai macan kertas yang tidak sekuat yang dibayangkan banyak orang.

Namun, ada satu teka-teki yang hingga kini belum bisa dijawab oleh intelijen Gedung Putih.

Di mana Mojtaba Khamenei berada masih menjadi misteri besar pasca-serangan udara yang menewaskan ayahnya.

Nasib Pemimpin Tertinggi Iran yang baru itu masih menjadi pertanyaan besar bagi intelijen Amerika.

“Kami tidak tahu… apakah dia sudah meninggal atau tidak,” kata Trump blak-blakan kepada wartawan.

Spekulasi liar memang terus berkembang di kalangan analis dan pengamat Timur Tengah.

“Banyak yang bilang dia mengalami cacat parah, kehilangan satu kaki, dan luka-luka mengerikan. Ada yang bilang sudah mati. Tapi satu yang pasti, tidak ada seorang pun yang berani menjamin bahwa dia sehat 100 persen saat ini,” tambah Trump.

Absennya Mojtaba dari pandangan publik memang menjadi amunisi bagi AS untuk melemahkan mental bertempur pasukan Iran.

Tanpa sosok sentral yang kuat, Trump yakin Iran sedang berada di titik nadir kepemimpinan nasional.

Namun, tantangan terbesarnya justru datang dari dalam lingkaran pertemanan Amerika sendiri.

Dunia kini menanti, apakah gertakan Trump mampu membuat Inggris dan NATO luluh dan segera mengirimkan armada tempur ke Selat Hormuz.

Ataukah aliansi Barat akan semakin retak di tengah ambisi America First yang kian agresif di medan tempur Timur Tengah.

Satu hal yang pasti, bagi Donald Trump, diplomasi bukan lagi soal jabatan tangan dan basa-basi.

Baginya, diplomasi adalah soal siapa yang berani turun ke lapangan dengan antusiasme besar untuk membantu Amerika.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok





Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved