
Repelita Jakarta - Sebuah pertanyaan kritis muncul terkait alasan seorang figur publik tetap aktif tampil dalam berbagai acara meskipun kondisi fisiknya tampak terganggu dan mengalami keterbatasan.
Pertanyaan ini menyoroti konsistensi kehadiran di panggung politik, aktivitas foto bersama, dan penerimaan tamu sementara menghindari forum hukum tertentu.
Menurut analisis yang disampaikan oleh akun media sosial @DokterTifa, perilaku tersebut merupakan bagian dari strategi permainan peran sebagai korban yang disengaja.
Figur tersebut diyakini sengaja menciptakan narasi sebagai pihak yang terus menderita dan menjadi korban perlakuan tertentu dari kekuatan asing meskipun sedang dalam kondisi sakit.
Penampilan di panggung Partai Solidaritas Indonesia dinilai bukan semata-mata untuk mendukung partai melainkan untuk membangun citra sebagai individu yang sakit namun tetap disakiti.
Pengulangan kalimat "Saya masih sanggup" dengan suara parau selama pidato publik menjadi fokus analisis psikologis terhadap kondisi bawah sadar figur tersebut.
Menurut pengamatan, pengulangan frasa tersebut mencerminkan letupan emosi bawah sadar yang tidak mampu dikendalikan sepenuhnya oleh figur yang bersangkutan.
Ekspresi batin yang tidak disadari tersebut terekam oleh publik dan justru memunculkan respons yang berbeda dari harapan semula.
Alih-alih menimbulkan simpati dan empati dari masyarakat, penampilan tersebut justru memicu komentar sinis dan skeptis dari berbagai kalangan.
Salah satu komentar publik yang beredar menyoroti ambisi yang dinilai tidak pernah padam meskipun telah mencapai berbagai posisi strategis dalam karier politik.
Komentar tersebut menyebutkan rangkaian pencapaian dari tingkat pengusaha, walikota, gubernur, presiden, hingga posisi anak dan mantu dalam struktur kekuasaan.
Analisis menyimpulkan bahwa ambisi tanpa batas tersebut telah mengubah bahkan kondisi sakit menjadi komoditas politik untuk kepentingan narasi tertentu.
Dunia politik tampaknya tidak pernah cukup memuaskan keinginan figur tersebut, dan satu-satunya pembatas yang mungkin adalah kematian itu sendiri.
Strategi permainan korban dinilai sebagai upaya untuk mendapatkan legitimasi dan simpati publik di tengang berbagai tekanan dan kontroversi yang dihadapi.
Namun respons publik justru menunjukkan tingkat skeptisisme yang tinggi terhadap motif di balik penampilan fisik yang terlihat terganggu tersebut.
Fenomena ini menyoroti dinamika komunikasi politik modern di mana kondisi kesehatan dapat menjadi alat dalam pertarungan narasi publik.
Pemahaman publik terhadap permainan politik semacam ini semakin kritis dengan adanya media sosial yang menyebarkan berbagai analisis dan interpretasi.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana citra fisik dan kesehatan dapat dipolitisasi untuk tujuan tertentu dalam konteks pertarungan politik.
Respons masyarakat terhadap strategi semacam ini menunjukkan tingkat kedewasaan berpolitik yang semakin tinggi di era informasi terbuka.
Analisis dari berbagai pihak termasuk akun @DokterTifa memberikan perspektif berbeda dalam memahami motivasi di balik tindakan publik figur politik.
Pertanyaan mendasar mengenai konsistensi antara penampilan publik dan tanggung jawab hukum tetap menjadi bahan perdebatan di ruang publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

