
Repelita Jakarta - Erizal memberikan analisis terkait langkah mundur Taufiqur Rahman dari Partai Solidaritas Indonesia. Erizal menilai langkah tersebut sebagai keputusan tepat meski terlambat diambil.
Menurut Erizal, putra sulung Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi itu telah mengembalikan Surat Keputusan penunjukannya sebagai Pelaksana Tugas Ketua Dewan Pengurus Wilayah PSI Sumatera Barat. Pengembalian dokumen tersebut dilakukan sebelum Rapat Kerja Nasional pertama PSI digelar di Makassar.
Erizal berpendapat bahwa keputusan mundur dari PSI itu tepat tidak hanya bagi Taufiqur Rahman pribadi, namun juga bagi keluarga dan Partai Keadilan Sejahtera secara keseluruhan. Secara emosi dan ideologi, Erizal melihat belum ada masa depan yang jelas bagi PSI di Sumatera Barat.
Analisis Erizal menyebutkan bahwa meski figur Joko Widodo masih kuat, basis dukungannya di Sumatera Barat tetap terbatas. Erizal menyarankan Taufiqur Rahman lebih baik menerima takdirnya sebagai anak biologis dan ideologis PKS daripada mencari alternatif lain.
Menurut Erizal, tantangan PKS pada Pemilu 2029 akan jauh lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya. Situasi politik eksternal dan proses alih generasi internal akan bertemu pada momen tersebut sehingga memerlukan konsolidasi internal yang kuat.
Erizal juga mengamati munculnya figur baru, Hendrajoni, Bupati Pesisir Selatan yang hadir dalam Rakernas PSI di Makassar. Hendrajoni tampil dengan mengenakan jaket PSI, namun belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah politiknya.
Erizal membandingkan bahwa langkah politik Hendrajoni berbeda dengan Taufiqur Rahman. Hendrajoni sebelumnya telah bergabung dengan PAN dan NasDem sebelum kemungkinan bergabung dengan PSI sebagai partai ketiganya.
Menurut analisis Erizal, langkah Hendrajoni dapat dimaklumi karena ambisinya untuk maju sebagai calon Gubernur Sumbar periode mendatang. Setelah dua periode menjadi bupati, posisi gubernur menjadi tujuan logis berikutnya dalam karier politiknya.
Erizal mencatat bahwa tiket NasDem kemungkinan sudah diambil oleh Fadli Amran, Walikota Padang yang juga Ketua DPW NasDem Sumbar. Hal ini membuat Hendrajoni mencari alternatif lain untuk mencapai ambisinya.
Namun Erizal mengamati bahwa Hendrajoni masih terkesan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Buktinya, ia belum langsung mengambil alih posisi Ketua DPW PSI yang telah dikosongkan Taufiqur Rahman.
Erizal berpendapat bahwa Hendrajoni sebenarnya sudah tahu jawaban dari lubuk hatinya. Ia memiliki pengalaman sebagai Ketua DPW NasDem yang mendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019, kemudian mendukung Anies Baswedan pada Pilpres 2024.
Menurut Erizal, jika Hendrajoni mengingat dua peristiwa itu, ia seharusnya segera membuka jaket PSI yang telah dikenakannya. Namun dinamika politik saat ini sangat cair dan tidak mudah diprediksi.
Erizal mempertimbangkan kemungkinan bahwa Hendrajoni melihat peluang dengan kehadiran Ahmad Ali di PSI untuk berkolaborasi dengan Anies Baswedan. Kolaborasi tersebut mungkin terbentuk dalam menghadapi Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
Faktor-faktor inilah yang membuat Hendrajoni masih berada dalam fase perhitungan matang, seperti sedang menghitung kancing bajunya antara iya atau tidak. Erizal menyimpulkan bahwa politik saat ini sangat dinamis dan memerlukan pertimbangan yang matang dari setiap aktor politik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

