Repelita Jakarta - Taqy Malik kembali menjadi sorotan setelah terseret dugaan penggelembungan harga dalam program wakaf Al-Qur’an yang selama ini dijalankannya di Arab Saudi.
Program yang awalnya dianggap sebagai amal mulia kini justru memicu kontroversi karena tuduhan adanya mark up biaya pembelian mushaf hingga sedekah makanan.
Sebagai respons atas isu tersebut mantan mertua Taqy Malik yakni Sunan Kalijaga angkat bicara dengan nada prihatin dan menyayangkan.
Sunan Kalijaga menekankan bahwa kegiatan wakaf harus dikelola secara transparan akuntabel dan profesional agar tidak merusak kepercayaan umat.
Ia menyatakan keprihatinan mendalam atas kabar yang beredar dan berharap persoalan segera dituntaskan dengan jelas.
Sunan Kalijaga mengungkapkan "Ya, yang pasti saya prihatin, ya. Saya prihatin dan semoga bisa segera diselesaikan, dituntaskan. Yang benar itu benar, yang salah itu salah. Begitu."
Menurutnya praktik wakaf di Tanah Suci seperti di Madinah seharusnya murni untuk donasi ke masjid-masjid termasuk Masjid Nabawi tanpa unsur jual beli atau orientasi keuntungan.
Ia menyayangkan jika tuduhan mark up benar terjadi terutama karena melibatkan sosok anak muda yang dikenal religius dan saleh.
Sunan Kalijaga menegaskan "Nah, ini saya dengan tegas mengatakan saya sangat menyayangkan. Saya sangat menyayangkan."
Ia juga menyerukan Kementerian Agama untuk segera membentuk tim guna mengusut tuntas dugaan tersebut secara objektif dan adil.
Kronologi dugaan mark up diungkap oleh Randy Permana seorang selebgram di Arab Saudi yang mengaku sahabat Taqy Malik.
Randy menjelaskan program wakaf dimulai tahun 2023 dengan pembelian mushaf dari percetakan resmi Malik Fahad di Madinah dengan harga pabrik sekitar 25 riyal per eksemplar.
Pembelian awal mencapai ribuan eksemplar termasuk titipan amanah hampir tiga ribu mushaf yang memicu pembatasan ketat dari otoritas karena dicurigai diperjualbelikan secara online.
Randy mengaku telah berulang kali mengingatkan Taqy agar lebih hati-hati termasuk mendistribusikan secara bertahap dalam jumlah kecil untuk menghindari kecurigaan polisi.
Pada tahun kedua program tetap berlanjut meski Randy menyarankan pembelian dicicil 50 hingga 100 eksemplar per pengiriman ke masjid.
Randy juga menyoroti program sedekah makanan yang dibanderol Rp100.000 per boks padahal harga riil di Madinah berkisar Rp50.000-an sehingga menimbulkan selisih signifikan.
Situasi tersebut sempat membuat Taqy Malik dicari aparat hingga ia pindah ke apartemen jauh dari area masjid.
Menurut Randy program serupa kembali dibuka menjelang Ramadan tahun ini meskipun peringatannya melalui pesan pribadi tidak direspons bahkan diikuti unfollow dan sindiran di story.
Randy menyatakan keputusannya mengungkap isu ini demi menjaga kenyamanan pekerja di Tanah Suci serta mencegah dampak buruk bagi komunitas jemaah umrah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

