
Repelita Jakarta - Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengalami situasi kurang nyaman dalam konferensi pers tanggal 20 Februari 2026 karena diundang dan ditempatkan di barisan depan namun tidak diberi kesempatan untuk berbicara sama sekali.
Konferensi pers tersebut membahas capaian negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat yang berhasil menurunkan bea masuk dari tiga puluh dua persen menjadi sembilan belas persen disertai penjelasan mengenai diplomasi ekonomi terkait.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertindak sebagai pembicara utama didampingi Menteri Investasi Rosan Roeslani yang menjelaskan detail kesepakatan sementara Teddy Indra Wijaya hanya duduk diam tanpa mendapat giliran menyampaikan pendapat.
Teddy Indra Wijaya yang biasanya berperan sebagai koordinator utama di balik layar Istana tampak membawa catatan tebal namun mikrofon tidak pernah diarahkan kepadanya sepanjang acara berlangsung.
Setelah konferensi pers usai Teddy Indra Wijaya secara spontan menyatakan bahwa dirinya hanya dijadikan pajangan saja dalam forum tersebut dan ungkapan itu tertangkap kamera secara langsung.
Ungkapan tersebut segera menjadi viral di media sosial dengan berbagai komentar netizen yang menyatakan simpati hingga membuat meme tentang ekspresi kecewa pejabat tinggi tersebut.
Rosadi Jamani selaku Ketua Satupena Kalbar mengomentari peristiwa itu dengan menyatakan TEGA benar Menteri Investasi Rosan Roeslani sudah diundang disuruh duduk depan tapi tak dikasih ngomong wajar kalau orang sekelas Seskab Teddy Indra Wijaya merajuk.
Peran Sekretaris Kabinet memang lebih dominan sebagai pengatur di belakang panggung seperti mengoordinasikan jadwal presiden mencatat rapat serta memastikan kelancaran birokrasi tanpa menjadi pembicara utama di depan publik.
Di era media sosial satu ungkapan spontan bisa langsung mengalihkan perhatian masyarakat dari substansi kebijakan menuju aspek personal dan emosional seorang pejabat.
Konferensi pers yang semestinya menyoroti keberhasilan diplomasi ekonomi justru berubah menjadi sorotan atas momen ketidakpuasan yang terekam kamera.
Peristiwa ini menggambarkan bagaimana dinamika komunikasi pemerintahan kini sangat dipengaruhi oleh kehadiran kamera serta kecepatan penyebaran informasi di platform daring.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

