
Repelita Jakarta - Perbedaan penetapan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Dalam podcast Madilog Forum Keadilan Keadilan TV pakar fotogrametri Profesor Tono Saksono menilai polemik tersebut seharusnya sudah tidak relevan lagi jika penentuan kalender Islam sepenuhnya mengandalkan perhitungan astronomi ilmiah.
Menurut Tono awal puasa sebenarnya dapat ditetapkan jauh sebelumnya melalui hisab yang presisi sebagaimana perhitungan gerhana matahari dan bulan yang akurat hingga ratusan tahun ke depan.
Ia menegaskan bahwa hilal sudah berada dalam posisi wujud segera setelah terjadinya ijtima atau konjungsi matahari-bulan tanpa perlu menunggu visibilitas visual pada saat matahari terbenam.
Tono menyatakan “Kalau gerhana saja bisa dihitung sampai menit dan detik penentuan awal Ramadan juga bisa Tidak perlu pemantauan masif”.
Ia mengkritik praktik rukyatul hilal yang melibatkan ribuan orang di berbagai lokasi pantau setiap tahun sebagai kegiatan yang boros anggaran dan kurang efisien secara ilmiah.
Menurutnya posisi bulan sudah dapat diprediksi dengan pasti melalui perhitungan sehingga pemantauan visual massal tidak lagi memberikan nilai tambah signifikan.
Tono menilai perbedaan tafsir terhadap hadis tentang rukyat menjadi akar masalah utama di mana kata melihat tidak harus diartikan secara kasat mata melainkan dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan modern.
Pendekatan yang terlalu bergantung pada penglihatan mata telanjang justru menimbulkan ketidakselarasan termasuk kemungkinan umat di wilayah timur memulai puasa lebih lambat dibanding wilayah barat.
Profesor Tono juga menyoroti mekanisme sidang isbat Kementerian Agama yang menggabungkan hisab dan rukyat namun sering kali terjebak pada definisi hilal yang hanya sah jika terlihat saat magrib.
Sementara itu Muhammadiyah konsisten menerapkan hisab dengan prinsip bahwa hilal sudah sah sejak ijtima terlepas dari visibilitas visual sehingga lebih selaras dengan kemajuan sains dan teknologi.
Pendekatan ini dinilai lebih konsisten dan dapat menghindari perbedaan penetapan yang berulang setiap tahun.
Tono mendorong adanya keterbukaan diskusi mendalam serta evaluasi menyeluruh terhadap metode penentuan awal Ramadan yang digunakan selama ini.
Ia menegaskan bahwa jika ilmu pengetahuan sudah mampu memberikan kepastian maka hal tersebut seharusnya menjadi acuan utama dalam penetapan kalender Islam.
Polemik awal Ramadan menurut Tono bukan hanya soal perbedaan metode melainkan tentang keberanian untuk bertransisi dari tradisi lama menuju kepastian ilmiah yang lebih akurat dan seragam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

