
Repelita Jakarta - Wacana pengusulan Presiden Prabowo Subianto untuk menjabat dua periode sudah muncul ketika pemerintahannya belum genap setengah masa bakti.
Angka kepuasan publik yang mencapai lebih dari delapan puluh persen menjadi pendorong utama diskusi tersebut di ruang publik.
Kepemimpinan tegas gaya komando langsung serta kehadiran negara yang cepat merespons masalah membuat dinamika politik nasional berjalan relatif mulus tanpa hambatan berarti.
Di tengah gelombang dukungan itu muncul pertanyaan mendasar apakah ini benar-benar mandat kuat dari rakyat atau tanda konsolidasi kekuasaan yang semakin kuat.
Adi Prayitno pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia menyatakan “Diam saja pasti terpilih” dalam episode terbaru Bang Don Super Opini.
Pernyataan tersebut lahir dari pengamatan atas kondisi politik yang nyaris tanpa oposisi terstruktur di mana koalisi semakin membesar dan suara kritis semakin redup.
Adi menjelaskan tingginya kepuasan masyarakat ditopang oleh kombinasi program-program populis serta simbol kepemimpinan yang terasa dekat dengan rakyat.
Program makan bergizi gratis koperasi desa sekolah rakyat hingga kampung nelayan berhasil menyentuh kelompok masyarakat bawah yang sebelumnya kurang terjangkau kebijakan.
Di sisi lain kehadiran presiden di panggung internasional berjabat tangan dengan pemimpin dunia serta tampil percaya diri memberikan efek psikologis positif berupa rasa bangga nasional.
Meskipun ekonomi dirasakan sebagian kalangan masih stagnan simbol-simbol tersebut berhasil membangun persepsi positif di tengah masyarakat.
Adi mengingatkan bahwa hasil survei bukanlah kepastian mutlak karena angka tersebut bisa berubah tergantung kondisi riil seperti ketersediaan lapangan kerja harga pangan serta tingkat kemiskinan.
Selama akses pekerjaan masih menjadi keluhan dan pertumbuhan ekonomi belum mencapai target yang dijanjikan ruang untuk koreksi publik selalu terbuka lebar.
Di sinilah ujian demokrasi sesungguhnya muncul karena stabilitas yang terlalu nyaman berpotensi melemahkan keseimbangan kekuasaan.
Stabilitas memang diperlukan tetapi stabilitas berlebih berisiko mematikan daya kritis masyarakat.
Kritik saat ini lebih banyak muncul dari kelompok masyarakat sipil serta media sosial meskipun sering kali hanya menjadi kegaduhan sementara.
Mayoritas masyarakat cenderung diam dan pragmatis sementara oposisi di parlemen nyaris tidak terdengar karena partai-partai memilih posisi aman dalam koalisi besar.
Rocky Gerung dalam konteks serupa pernah mengingatkan bahwa stabilitas berlebihan dapat menggerus kemampuan berpikir kritis sebagaimana dibahas dalam buku The Peril of Stability.
Prabowo dengan latar belakang militer menerapkan pola komunikasi satu arah yang efektif ketika situasi dianggap mendesak.
Cara ini berhasil meredam kegaduhan dengan cepat melalui kehadiran langsung dan perintah tegas yang langsung dieksekusi.
Namun pertanyaan mendasar tetap menggantung di mana ruang debat setara dan kritik konstruktif yang benar-benar dapat memengaruhi kebijakan.
Dua periode bukan hanya soal angka dukungan melainkan cermin apakah demokrasi Indonesia mampu menjaga stabilitas tanpa mengorbankan keberagaman suara.
Mandat rakyat memang penting tetapi demokrasi yang sehat justru tumbuh dari adanya suara yang berbeda dan ruang untuk berbeda pendapat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

