Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pigai Tantang Guru Besar UGM Debat HAM di TV Nasional setelah Sindir Profesor Dibesar-besarkan Publik

 Menham Pigai Terima Tantangan Debat Prof Uceng: Saya Mau Ajari Anda HAM  agar Paham - Rilpolitik

Repelita Jakarta - Polemik antara Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai dan Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof Zainal Arifin Mochtar semakin memanas di ruang publik.

Perselisihan ini bermula ketika Prof Zainal atau Uceng menanggapi pernyataan Pigai yang mengklaim telah memahami konsep HAM sejak usia lima tahun.

Uceng kemudian mendapat tanggapan tajam dari Pigai yang menyebutnya sebagai profesor yang hanya dibesar-besarkan oleh publik.

Uceng memilih merespons dengan tenang tanpa nada tinggi meskipun sindiran halus terasa dalam kata-katanya.

Ia menyatakan kesediaan untuk belajar langsung tentang hak asasi manusia dari Pigai.

“Pak Natalius Pigai, saya setuju dengan bapak, seringkali profesor itu dibesar-besarkan saja," ujar Uceng melalui cuitannya di X pada 27 Februari 2026.

"Saya izin mau belajar memahami HAM dari bapak,” tambah dia.

Uceng juga secara terbuka mengajak Pigai untuk berdiskusi dan berdebat mengenai berbagai kasus HAM di Indonesia satu per satu.

“Saya mau diskusi dan debatkan satu persatu kasus HAM di indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana saya bisa belajar,” lanjutnya.

Pigai langsung menyambut tantangan tersebut dengan menyatakan siap berdebat secara terbuka dan ilmiah.

Ia mengusulkan agar debat digelar di televisi nasional dan disiarkan secara langsung.

“Saya setuju di TV Nasional dan Live. Anda yang undang maka saya minta anda yang siapkan," balas Pigai.

"Kita bicara dalam tataran ilmiah. Saya benar-benar mau ajari anda soal HAM agar paham,” tambahnya.

Pigai menyertakan tautan video YouTube sebagai bahan pembelajaran awal sebelum debat dilaksanakan.

“Tapi nonton ini dulu untuk sekedar tambahan ilmu HAM anda,sebelumnya debat dengan saya,” sebutnya.

Ia menekankan agar masyarakat Indonesia bisa menyaksikan langsung kualitas perdebatan tersebut.

“Jujur saya sangat mau biar rakyat indonesia nonton seberapa hebat ilmu HAM seorang Prof,” imbuhnya.

Uceng menjawab bahwa dirinya tidak memiliki wewenang untuk mengatur forum debat tersebut.

“Saya gak punya kekuasaan pak. Semoga ada TV nasional yang bisa fasilitasi. Kalau bapak yang colek mereka mungkin lebih berarti. Terima kasih youtubenya,” ucap Uceng.

Ia juga menjelaskan latar belakang akademiknya di bidang HAM untuk menunjukkan keterbukaan belajar.

“Saya hanya pernah tiga tahun peneliti di Pusat Studi HAM UII Jogja dan kuliah S2 Hukum HAM di Amerika. Saya pasti senang belajar,” kuncinya.

Pigai menegaskan pemahamannya tentang HAM terbentuk dari pengalaman hidup sejak kecil di wilayah konflik.

“Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, Saya sudah hidup di tengah moncong senjata," ujar Pigai melalui cuitannya di X pada 25 Februari 2026.

Ia menyebut Enarotali Paniai sebagai lingkungan sosial yang membentuk kesadaran kemanusiaannya.

“Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rinti, haus dan lapar, adil dan tidak adil," Pigai menuturkan.

“Mana sakit dan senang. Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya," tambahnya.

Pengalaman tersebut menjadi dasar pemahaman fundamental Pigai tentang hak asasi manusia.

“Di situlah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia," tegasnya.

Pigai menyinggung perjalanan panjangnya sebagai pembela kelompok rentan selama puluhan tahun.

“Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas, pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang, cacian, makian dan hinaan," imbuhnya.

“Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber)," sambungnya.

Ia mengungkap pernah menjadi korban pelanggaran HAM sebelum dipercaya memimpin kementerian.

“Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini," bebernya.

Di bagian akhir Pigai kembali menyentil Uceng dengan menyebutnya sebagai guru besar yang dibesar-besarkan.

“Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yang tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang ‘dibesar-besarkan’," kuncinya.

Polemik ini terus bergulir di media sosial dan publik masih menanti apakah debat terbuka itu akan benar-benar terlaksana.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved