
Repelita Tegal - Tangisan histeris Suheni pemilik warung di Desa Kaladawa Kecamatan Talang Kabupaten Tegal saat lapaknya dibongkar petugas bukan sekadar emosi sesaat melainkan luapan trauma berlapis yang dialaminya.
Dugaan pelecehan oleh oknum lurah berinisial T yang meminta jatah sebagai syarat agar warungnya tidak digusur semakin memperberat beban psikologis korban.
Meskipun permintaan tersebut diduga telah dipenuhi pembongkaran tetap dilakukan sehingga memicu kekecewaan besar di masyarakat.
Video berdurasi dua puluh tiga detik yang menampilkan Suheni menangis histeris saat penertiban menjadi viral dan memancing desakan agar aparat mengusut tuntas dugaan penyalahgunaan kekuasaan.
Psikolog Universitas Negeri Makassar Muhammad Rhesa menjelaskan bahwa ledakan emosi korban merupakan respons alami terhadap trauma yang dialami.
Ledakan emosi korban dapat dipahami sebagai bentuk respon atas trauma yang dialami katanya saat diwawancarai pada Rabu dua puluh lima Februari dua ribu dua puluh enam.
Ia menambahkan bahwa pengkhianatan oleh figur berotoritas memperparah kondisi psikologis karena sosok yang seharusnya memberikan rasa aman justru merusak rasa keadilan.
Kemudian karena pengkhianatan dilakukan oleh sosok yang memiliki otoritas yang merusak rasa aman dan keadilan akhirnya membuka aib di ruang publik menjadi cara korban merebut kembali kontrol dan martabat terangnya.
Dari sisi intrapsikis respons Suheni dapat dilihat sebagai mekanisme pertahanan diri khususnya acting out yang berfungsi sebagai pelepasan ketegangan untuk meredakan konflik batin akibat menjadi korban penggusuran dan pengkhianatan secara bersamaan.
Dalam jangka panjang pengkhianatan tersebut berisiko menimbulkan krisis kepercayaan terhadap otoritas dan pola pikir negatif tentang diri korban dunia dan masa depan yang akan dilaluinya ungkap Rhesa.
Terkait kepatuhan korban terhadap permintaan tidak etis Rhesa menilai hal itu harus dipahami dalam konteks ketimpangan kuasa di mana sumber penghidupan dikendalikan pihak berwenang.
Yaitu ketika sumber penghidupan dikendalikan pihak berkuasa pilihan kemudian menjadi tidak setara dan dalam kondisi survival rasa takut kehilangan sering kali mengalahkan pertimbangan rasional kuncinya.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak kelurahan terkait tudingan tersebut sehingga masyarakat menunggu klarifikasi agar polemik tidak semakin berlarut-larut dan menimbulkan keresahan lebih luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

