Repelita Jakarta - Ajat 37 tahun seorang penjual es keliling harus menjalani nasib pilu di tengah kondisi kesehatannya yang membutuhkan cuci darah rutin setiap bulan.
Penghasilannya yang hanya sekitar Rp30 ribu per hari dari berjualan es keliling jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di tengah keterbatasan ekonomi yang mendera dirinya justru dicoret dari daftar Penerima Bantuan Iuran BPJS Kesehatan karena dianggap tergolong mampu secara finansial.
Keputusan pencoretan tersebut membuat Ajat kebingungan karena ia sangat membutuhkan akses kesehatan untuk menjalani terapi cuci darah seumur hidup.
Saya mau coba daftar lagi ke dinas sosial jawabannya sama seperti kemarin tidak bisa karena sudah terdaftar sebagai peserta BPJS mandiri kata Ajat dikutip dari instagram @mediaindonesia pada 12 Februari 2026.
Ajat mengaku tidak punya pilihan lain selain mendaftar sebagai peserta mandiri untuk tetap bisa menjalani pengobatan.
Ia harus membayar iuran setiap bulan karena proses cuci darah yang dijalaninya tidak bisa dihentikan begitu saja.
Jika terapi cuci darah terputus risiko kesehatannya bisa semakin parah dan mengancam nyawanya.
Penolakan reaktivasi kepesertaan PBI yang diajukan Ajat disebabkan karena dirinya masuk kategori desil 6 dalam pendataan kesejahteraan sosial pemerintah.
Katanya tergolong menengah ke atas padahal kenyataannya jauh banget, ujarnya dengan nada lemah menceritakan kondisinya.
Jangankan kerja ke mana-mana kerja saja cuma jualan keluhan Ajat menggambarkan betapa berat perjuangannya sebagai kepala keluarga.
Artinya ia dianggap berada pada kelompok masyarakat menengah ke atas dan tidak memenuhi syarat sebagai penerima bantuan iuran.
Padahal menurut pengakuannya kondisi ekonomi keluarganya jauh dari kategori masyarakat mampu seperti yang didata pemerintah.
Sebagai kepala keluarga yang harus menjalani cuci darah seumur hidup ruang geraknya untuk mencari nafkah sangat terbatas.
Program PBI sendiri diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu agar tetap bisa memperoleh layanan kesehatan tanpa harus membayar iuran.
Namun ketepatan sasaran dalam pendataan masih menjadi tantangan tersendiri yang kerap menuai sorotan publik.
Perbedaan antara data administratif dan kondisi riil di lapangan kerap memunculkan polemik terutama bagi masyarakat kecil.
Mereka sangat bergantung pada bantuan negara untuk mendapatkan akses kesehatan yang layak dan terjangkau.
Kisah Ajat menjadi potret nyata persoalan pendataan bantuan sosial yang kerap tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Di tengah keterbatasannya Ajat hanya berharap ada kebijakan yang lebih berpihak pada kondisi nyata masyarakat kecil seperti dirinya.
Baginya akses kesehatan bukan sekadar fasilitas melainkan persoalan bertahan hidup di tengah gempuran biaya pengobatan yang mahal.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

