
Repelita Jakarta - Joko Widodo alias Jokowi memasangkan Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode sejak awal kepemimpinan Prabowo karena ingin terus mengarahkan serta memastikan Prabowo tetap berada dalam pengaruh dirinya dan keluarga.
Menurut Direktur ABC Riset & Consulting Erizal langkah tersebut dimaksudkan agar Prabowo tidak lepas dari kendali Jokowi sehingga mencegah kemungkinan perubahan arah kebijakan yang merugikan.
Alasan kedua adalah untuk mengingatkan Prabowo bahwa kemenangannya sebagai presiden lebih banyak berkat dukungan Jokowi daripada semata-mata pilihan rakyat sehingga kekuasaan tidak membuatnya lupa jasa orang lain.
Faktor ketiga melibatkan strategi politik di mana jika Prabowo tidak lagi menggandeng Gibran sebagai wakil presiden maka Jokowi bisa memposisikan diri sebagai pihak yang dizalimi.
Posisi dizalimi tersebut memudahkan Jokowi memanfaatkan situasi untuk keuntungan politik bagi Gibran termasuk memperkuat Partai Solidaritas Indonesia.
Keempat seandainya Prabowo tidak memilih Gibran dan Jokowi memutuskan tidak memaksakan maka Jokowi tetap diuntungkan sebagai sosok yang legowo dan berjiwa besar.
Dalam pandangan Erizal keempat faktor tersebut semuanya menguntungkan Jokowi karena membuatnya tetap merasa penting tidak hanya di masa lalu dan sekarang tapi juga di masa depan.
Jokowi tampaknya tidak menyadari bahwa tindakannya justru membuat sebagian orang semakin muak terhadap dirinya.
Faktor pertama di mana Jokowi ingin terus membayangi Prabowo lebih sering disuarakan oleh para lawan politiknya yang menilai Jokowi tak pernah puas hingga Gibran benar-benar jadi presiden.
Sementara faktor kedua dan ketiga yang menekankan jasa Jokowi serta risiko pengkhianatan jika Prabowo tidak gandeng Gibran lebih banyak diungkapkan pendukung Jokowi yang yakin Prabowo tidak akan berani melawan.
Faktor keempat di mana Jokowi tidak akan melawan Prabowo meski Gibran tidak dipilih dan tampak legowo baru disuarakan satu pengamat politik Hasan Nasbi yang memahami karakter Jokowi.
Hasan Nasbi menyebut Jokowi sebagai penganut Sun Tzu yang hanya masuk pertempuran jika sudah yakin menang dan tidak akan ambil risiko fifty-fifty apalagi peluang kalah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

