:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/KASUS-BOCAH-DI-NTT-Politikus-PDI-Perjuangan-Ferdinand-Hutahaean.jpg)
Repelita Jakarta - Politikus PDI Perjuangan Ferdinand Hutahaean menyampaikan duka mendalam atas tragedi meninggalnya seorang murid Sekolah Dasar berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Siswa berusia sepuluh tahun tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena ketidakmampuan keluarganya membelikan buku dan alat tulis untuk keperluan sekolah.
Ferdinand menyebut peristiwa itu sebagai kejadian yang sangat memilukan dan menampar nurani seluruh bangsa Indonesia.
Ia mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan mendalam setelah mengetahui kabar duka tersebut benar-benar terjadi di tanah air.
"Peristiwa yang sangat menyedihkan bagi kita semua terjadi di NTT," ujar Ferdinand Hutahaean pada Kamis 5 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa sangat sulit diterima akal sehat seorang anak berusia sepuluh tahun harus menanggung beban hidup sedemikian berat hingga memilih jalan akhir.
"Seorang anak kecil berusia 10 tahun, anak SD, rela mengakhiri hidupnya hanya karena orangtuanya tidak mampu membelikan buku dan pulpen untuk sekolah," tukasnya.
Ferdinand mengaku hampir tidak mampu berkata-kata ketika mendengar kisah tragis yang menimpa anak seusia YBS tersebut.
Baginya, tragedi ini menjadi ironi besar di tengah narasi Indonesia sebagai negara yang kaya akan berbagai sumber daya alam.
"Saya sungguh sangat sedih, sangat prihatin dengan apa yang terjadi, saya berduka sekali mendengar berita ini ternyata benar-benar terjadi di negara kita yang kaya raya," ungkapnya.
Ia menegaskan kembali bahwa peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam tidak hanya bagi keluarga korban tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Saya hampir tak mampu berkata-kata, sedih rasanya mengetahui ada anak bangsa memilih mengakhiri hidupnya hanya karena buku dan pulpen yang tidak terbeli," katanya.
Ferdinand juga menyampaikan doa untuk almarhum YBS agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
"Saya hanya bisa berdoa semoga adik ini mendapat tempat terbaik, terindah, di sisi Tuhan sang maha pencipta," ucapnya.
Lebih lanjut, Ferdinand mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan tragedi ini sebagai momentum refleksi bersama.
Ia mengatakan bahwa sudah saatnya kondisi ketimpangan sosial dan penderitaan rakyat kecil mendapat perhatian serius dari semua pihak.
"Mari kita jadikan ini momentum untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang tak patut rakyatnya harus menderita di antara kemewahan para pejabat," kuncinya.
Pengamat Perlindungan Perempuan dan Anak Dra Sandra Liza menyebut peristiwa ini bukan sekadar persoalan kemiskinan semata.
Ia menjelaskan bahwa kasus tersebut merupakan akumulasi dari berbagai masalah mental yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik.
"Anak-anak itu sebenarnya banyak mengalami mental illness yang tidak disadari, faktor penyebabnya kompleks, baik internal maupun eksternal, salah satunya generation gap," ujar Sandra pada Selasa 3 Februari 2026.
Menurut Sandra, anak-anak generasi Alpha menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Sayangnya, mereka justru minim mendapatkan dukungan yang memadai dari lingkungan sekitarnya.
"Generasi X, milenial, Gen Z, dan Gen Alpha punya cara berpikir yang berbeda, anak-anak Gen Alpha menghadapi tantangan luar biasa, tapi kurang mendapat dukungan yang cukup," sebutnya.
Kasus YBS mencuat setelah diketahui bahwa sang anak meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena senilai kurang dari sepuluh ribu rupiah.
Permintaan sederhana itu tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi yang dialami keluarganya.
Sandra mengatakan bahwa kondisi semacam itu dapat menjadi pemicu tekanan psikologis yang lebih dalam pada diri seorang anak.
"Dalam kasus NTT ini, sangat mungkin ada masalah mental illness yang berkaitan dengan kemiskinan, kekecewaan, dan kesedihan yang terpendam," jelasnya.
Ia menerangkan bahwa stres yang tidak tertangani dalam waktu lama dapat berkembang menjadi depresi klinis.
"Stres tanpa penanganan lebih dari enam bulan bisa memicu depresi, depresi inilah yang dapat memunculkan keinginan bunuh diri, mesti digali lagi, banyak faktornya," terangnya.
Sandra menegaskan bahwa anggapan anak usia dini tidak mungkin memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup adalah keliru besar.
"Iya, sangat memungkinkan, pastinya itu sudah lama terpendam, kalau ada saluran komunikasi yang baik, kejadian seperti ini tidak akan terjadi," tegasnya.
Sandra yang juga merupakan Kepala UPTD PPA Provinsi Kepulauan Riau menuturkan bahwa kegagalan komunikasi antara anak dan orang dewasa menjadi faktor krusial.
"Orangtua sering kurang mampu berkomunikasi dengan anak dengan baik karena gap generation, padahal komunikasi yang baik itu kunci menjadi support system," imbuhnya.
Sandra juga mengungkapkan bahwa anak-anak saat ini menghadapi berbagai ancaman serius mulai dari child grooming hingga radikalisasi.
Korban diketahui meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT berusia empat puluh tujuh tahun.
Dalam surat tersebut tertulis permohonan maaf dan permintaan agar sang ibu merelakan kepergiannya serta tidak menangis atau mencari dirinya.
Korban tinggal bersama neneknya sementara ibundanya yang berstatus orangtua tunggal bekerja sebagai petani dan serabutan untuk menghidupi lima orang anak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

