
Repelita Majalengka - Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa yang megah berdiri mencolok di Desa Bantarujeg, Kabupaten Majalengka. Bangunan dengan pilar besar dan ornamen artistik ini viral di media sosial karena seluruh elemen kemewahannya ternyata dibuat dari material sederhana dan murah, sehingga dijuluki sebagai rumah palsu.
Pemilik rumah tersebut adalah seorang guru sekolah dasar bernama Dadang yang mengerjakan hampir seluruh proses pembangunannya secara mandiri. Ia menggunakan bahan-bahan tidak lazim seperti asbes, serat fiber, bambu, dan resin untuk menciptakan ilusi kemewahan pada setiap bagian rumah.
Pilar-pilar besar yang tampak kokoh ternyata berongga di bagian dalamnya, sementara berbagai ornamen dan ukiran dibuat melalui teknik cetakan rakitan tangan. Dadang mengembangkan metode pembuatan sendiri melalui serangkaian uji coba selama bertahun-tahun sebelum menemukan formula yang dianggap paling efisien.
Awalnya ia bereksperimen dengan tanah sawah sebagai bahan dasar, kemudian beralih ke silikon, dan akhirnya memilih campuran resin dengan serat fiber dan semen. Bahkan pada tahap awal pembangunan, ia memanfaatkan ban motor bekas sebagai cetakan untuk membuat pilar silinder yang presisi.
Rumah tersebut dibangun di atas lahan seluas hampir satu hektare dengan luas bangunan utama sekitar dua belas kali delapan belas meter. Proses konstruksi dimulai pada Desember 2023 setelah melalui tahap perencanaan selama kurang lebih enam bulan.
Prinsip utama dalam pembangunannya adalah meringankan beban struktur agar sesuai dengan kondisi tanah yang basah dan bertingkat. Lantai dua sengaja tidak menggunakan cor beton penuh melainkan kayu mahoni untuk menjaga bobot bangunan tetap ringan.
Yang mengejutkan banyak pihak adalah total biaya pembangunan yang hanya berkisar antara lima puluh hingga delapan puluh juta rupiah. Kunci efisiensi biaya terletak pada pengerjaan mandiri, pemilihan material murah, dan penghindaran pembelian ornamen jadi yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah per unit.
Meskipun belum dilakukan pengecatan secara sempurna, kesan mewah seperti rumah bernilai miliaran rupiah sudah terlihat jelas. Kreativitas pemilik tampak dalam berbagai detail seperti lampu gantung yang dibuat dari pot bunga terbalik dan pintu semen yang dilapisi hingga menyerupai kayu mahal.
Setiap ukiran dan ornamen dicetak menggunakan spons yang dimodifikasi sedemikian rupa. Dari kejauhan semua tampak mewah dan autentik hingga seseorang menyentuh atau mendengar penjelasan langsung dari sang pembuat.
Viralnya rumah ini bukan sekadar tentang keunikan atau efisiensi biaya semata. Kisah tersebut menjadi potret nyata tentang kecerdasan, ketekunan, dan keberanian menghadapi keterbatasan ekonomi. Di tengah budaya pamer kemewahan yang marak, rumah palsu ini justru mengajarkan bahwa kreativitas dapat mengatasi keterbatasan modal.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

