
Repelita Jakarta - Polemik mengenai dokumen ijazah Presiden ketujuh RI Joko Widodo kembali menghangat setelah Komisi Pemilihan Umum secara resmi membuka akses publik terhadap salinan berkas pencalonan tersebut.
Pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi menjadi figur pertama yang memperlihatkan secara terbuka salinan ijazah yang diperoleh langsung dari Kantor KPU RI didampingi Michael Sinaga pada Senin (9/2/2026).
Ia menantang kalangan akademisi dan peneliti untuk melakukan kajian ilmiah atas dokumen legalisir yang digunakan dalam Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 itu tanpa disertai tuduhan tak berdasar.
“Saya memutuskan membagikan ini di media sosial saya. Bisa dicek di media sosial saya. Artinya, jika kalian mau teliti jangan pakai yang dibikin orang lain,” ucapnya di hadapan wartawan usai proses pengambilan dokumen.
Bonatua menunjukkan dua lembar salinan berbeda dengan cap legalisir merah untuk kontestasi 2014 dan cap biru untuk pemilihan lima tahun berselang.
Ia menegaskan bahwa keabsahan dokumen tersebut dapat diuji secara hukum di pengadilan apabila terdapat pihak yang meragukan keotentikannya.
Michael Sinaga yang turut mendampingi proses pengambilan dokumen membeberkan adanya kejanggalan yang ditemukan dalam salinan yang baru dirilis.
“Selama berbulan-bulan, bahkan dengan lelah, keluar waktu, tenaga, dan segala macam, kita minta ke Komisi Informasi akhirnya hari ini dibuka yaitu ijazah yang digunakan Joko Widodo untuk mencalonkan diri jadi presiden di tahun 2014 dan 2019. 2014 yang bawah, 2019 yang atas. Nah, ini mengkonfirmasi temuan-temuan yang saya dapatkan dari sumber lainnya,” kata pria yang juga dikenal sebagai YouTuber Sentana TV itu.
Ia mengungkapkan bahwa dokumen yang baru diperoleh dari KPU menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan data ijazah yang sebelumnya ia himpun dari berbagai sumber independen.
“Namun, ternyata ada yang salah di sini. Jadi, di sini agak berbeda dari sumber-sumber yang saya dapatkan mengenai ijazah yang digunakan 2014. Tetapi itu nanti akan kita investigasi lebih lanjut dan akan kita umumkan hasilnya begitu saya temukan,” tambahnya.
Pernyataan Michael tentang adanya perbedaan data ijazah 2014 itu kian memanaskan diskursus publik yang selama ini terus bergulir di berbagai lini.
Menanggapi gelombang perbincangan yang meluas, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia Dian Sandi Utama angkat bicara melalui unggahan di akun X miliknya pada Rabu (11/2/2026).
Ia merespons aksi Bonatua yang memamerkan salinan ijazah Jokowi dengan nada sinis namun lugas.
“Mau dapat dari Planet Pluto sekalipun, ijazah itu akan tetap sama,” ujar Dian menegaskan bahwa esensi dokumen tidak berubah terlepas dari mana pun sumber perolehannya.
Dalam kesempatan itu Dian juga menyinggung dinamika narasi yang berkembang di tengah masyarakat, terutama yang menyudutkan tokoh tertentu secara tidak proporsional.
Ia mengaku teringat obrolan santai bersama rekannya di sebuah warung kopi beberapa waktu lalu yang membahas arah kecurigaan publik.
“Podcastnya Bang Zulfan Lindan yang membahas Pak Sjafrie Sjamsoeddin itu keras banget,” ucapnya menirukan percakapan tersebut.
Dian memaparkan bahwa banyak pihak menuding mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan partainya sebagai dalang di balik gerangan Roy Suryo Cs dalam isu ijazah ini.
Namun ia menyoroti keanehan karena tidak ada satu pun suara yang berani mengarahkan kecurigaan kepada Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
“Banyak yang curiga SBY dibalik isu ijazah tapi kenapa tidak ada orang yang curiga dengan Pak Sjafrie? Katanya,” Dian mengikuti gaya bicara temannya dalam diskusi warung kopi itu.
Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Sjafrie Sjamsoeddin maupun pihak-pihak yang disebut dalam narasi kecurigaan tersebut.
Publik masih menanti hasil investigasi lanjutan yang dijanjikan Michael Sinaga serta kemungkinan terbukanya akses lebih luas terhadap salinan ijazah tanpa sensor dari KPUD DKI Jakarta dan Solo.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

