Repelita [Gaza] - Sedikitnya tiga puluh satu warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan Israel yang terjadi sejak dini hari di wilayah Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026).
Korban tersebut termasuk setidaknya enam anak-anak yang menjadi korban dalam insiden berdarah di dua kota utama yaitu Kota Gaza dan Khan Younis.
Informasi mengenai jumlah korban ini disampaikan oleh sejumlah sumber medis lokal yang berkomunikasi dengan stasiun berita internasional Al Jazeera.
Insiden kekerasan terkini ini terjadi tepat pada momen yang sangat krusial terkait pembukaan jalur bantuan kemanusiaan.
Hanya tersisa waktu satu hari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan wilayah Mesir.
Pembukaan penyeberangan Rafah direncanakan akan dilaksanakan pada hari Minggu setelah penutupan yang berlangsung cukup lama.
Ini merupakan pembukaan pertama sejak bulan Mei tahun 2024 yang memberikan harapan bagi akses bantuan untuk warga sipil.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengeluarkan pernyataan resmi mengenai perkembangan korban jiwa dalam periode gencatan senjata.
Lebih dari lima ratus warga Palestina telah menjadi korban tewas akibat operasi militer Israel sejak gencatan senjata berlaku.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh pemerintah Amerika Serikat tersebut mulai efektif diberlakukan pada tanggal sepuluh Oktober.
Konflik bersenjata yang sudah berlangsung dalam waktu lama ini telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar.
Perang yang dikategorikan sebagai genosida tersebut telah menewaskan sedikitnya tujuh puluh satu ribu tujuh ratus enam puluh sembilan orang.
Jumlah korban luka-luka juga mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan yaitu seratus tujuh puluh satu ribu empat ratus delapan puluh tiga orang.
Konflik mematikan ini dimulai sejak bulan Oktober tahun 2023 dengan eskalasi yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Di sisi lain serangan yang dipimpin oleh kelompok Hamas pada bulan Oktober tahun 2023 juga menyebabkan korban jiwa.
Diperkirakan seribu seratus tiga puluh sembilan orang tewas di wilayah Israel selama serangan tanggal tujuh Oktober.
Sekitar dua ratus lima puluh orang lainnya ditahan sebagai tawanan dalam pertukaran yang dilakukan antara kedua pihak.
Siklus kekerasan yang terus berlanjut ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai peran lembaga perdamaian internasional.
Mekanisme yang seharusnya berfungsi menjaga gencatan senjata tampaknya belum bekerja secara optimal di lapangan.
Insiden terbaru ini menambah daftar pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya dihormati bersama.
Kondisi ini semakin menyulitkan upaya distribusi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza.
Pembukaan penyeberangan Rafah yang semestinya menjadi momen positif justru terjadi di tengah situasi konflik.
Masyarakat internasional terus memantau perkembangan dengan harapan dapat terjadi perbaikan situasi keamanan.
Anak-anak sebagai kelompok paling rentan terus menjadi korban dalam situasi konflik bersenjata yang berkepanjangan.
Data korban yang terus bertambah menunjukkan betapa kompleksnya penyelesaian konflik di wilayah tersebut.
Setiap pelanggaran gencatan senjata berdampak sangat serius terhadap kondisi kemanusiaan di wilayah konflik.
Diperlukan langkah-langkah konkret dari berbagai pihak untuk menghentikan siklus kekerasan yang tak berujung.
Komitmen perdamaian harus dijaga dan ditegakkan oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik ini.
Hanya dengan kesungguhan bersama konflik yang telah merenggut banyak nyawa ini dapat diakhiri dengan damai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

