
Repelita Jakarta - Seorang akademisi bernama Fidelma O’Leary mengakui bahwa ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan tertarik apalagi memutuskan memeluk agama Islam dalam hidupnya.
Minat tersebut justru muncul secara tak terduga dari proses penelitian ilmiah yang ia lakukan secara serius dan berkelanjutan dalam jangka waktu lama.
Melalui kajian mendalam Fidelma menemukan fakta bahwa aliran darah menuju saraf-saraf khusus di otak mencapai kondisi paling optimal ketika seseorang berada dalam posisi sujud saat melaksanakan salat.
Ia mengamati bahwa saraf-saraf tersebut hanya memerlukan suplai darah dalam durasi yang relatif singkat dan kondisi ideal itu terjadi secara alami tepat pada saat tubuh melakukan sujud.
Temuan fisiologis tersebut membangkitkan rasa ingin tahu yang semakin kuat sehingga mendorongnya untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang ajaran Islam secara keseluruhan.
Dari titik awal yang murni berbasis sains Fidelma kemudian mulai mempelajari berbagai literatur keislaman serta melakukan diskusi mendalam dengan rekan-rekan yang beragama Muslim.
Proses pembelajaran dan refleksi itu secara bertahap mengubah cara pandangnya dari perspektif ilmiah semata menuju pencarian makna spiritual yang lebih dalam dan bermakna.
Setelah melalui tahap perenungan yang panjang serta penuh kesadaran Fidelma akhirnya memilih untuk memeluk Islam dengan keyakinan yang teguh dan sadar penuh.
Ia melafalkan dua kalimat syahadat sebagai bentuk komitmen yang lahir dari perjalanan intelektual sekaligus panggilan hati yang tulus.
Kisah Fidelma menjadi contoh nyata bahwa jalan menuju keimanan dapat dimulai dari berbagai sumber termasuk dari ranah penelitian ilmiah yang ketat.
Perjalanan yang bermula dari laboratorium dan data empiris akhirnya membawanya pada keputusan iman yang kokoh dan penuh kedalaman.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

