Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Dunia Geger! Dua Jenderal Top Gedung Putih Paparkan Opsi Serang Iran ke Trump

Repelita Washington - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memuncak setelah Presiden Donald Trump menerima pengarahan tingkat tinggi mengenai berbagai opsi militer terhadap Teheran.

Informasi tersebut diungkap sejumlah pejabat yang mengetahui isi pertemuan dan dilaporkan oleh media Amerika Serikat pada Kamis 26 Februari 2026.

Briefing tersebut berlangsung di saat negosiasi nuklir masih berjalan sehingga memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan Gedung Putih dalam waktu dekat.

Pada hari yang sama Trump mendapatkan laporan langsung dari Laksamana Brad Cooper selaku pemimpin Komando Pusat Amerika Serikat Centcom yang membawahi operasi di Timur Tengah.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Jenderal Dan Caine sebagai pemimpin Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

Menurut laporan ABC News pengarahan itu membahas skenario jika Washington memutuskan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran.

Sejumlah politisi Partai Republik serta sebagian pejabat pemerintahan Trump mendorong agar Israel mengambil langkah pertama untuk melemahkan Teheran.

Hingga kini belum ada kepastian apakah Trump telah menyetujui salah satu opsi militer yang disampaikan dalam briefing tersebut.

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Trump.

“Media boleh terus berspekulasi tentang pemikiran presiden sesuka mereka tapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang mungkin atau tidak mungkin dia lakukan” ujar Anna Kelly.

Briefing militer berlangsung bersamaan dengan putaran ketiga perundingan nuklir antara kedua negara di Jenewa Swiss yang selama ini sering digunakan sebagai lokasi mediasi internasional.

Perundingan dipimpin utusan khusus Trump Steve Witkoff dari pihak Amerika Serikat sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memimpin delegasi Teheran.

Tidak ada pejabat Washington yang memberikan penjelasan rinci mengenai perkembangan negosiasi yang berlangsung secara tertutup.

Ketidakjelasan tersebut menambah spekulasi bahwa pengarahan militer mencerminkan opsi yang sedang dipertimbangkan jika jalur diplomasi mengalami kebuntuan.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi sebagai mediator menyampaikan kabar optimistis bahwa kedua pihak menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan putaran sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai kedua negara semakin dekat untuk mencapai kesepakatan pada sejumlah isu kunci.

Suasana negosiasi disebut lebih produktif dengan kedua delegasi mempertimbangkan langkah kompromi yang sebelumnya tidak pernah dibahas.

Meskipun demikian jalan menuju kesepakatan final tetap panjang karena kedua belah pihak memiliki tuntutan yang sulit dipenuhi.

Putaran keempat perundingan dijadwalkan berlangsung di Wina Austria yang berpotensi menjadi arena penentu keberhasilan diplomasi.

Sumber-sumber dekat dengan Trump menyebut presiden semakin frustrasi karena Teheran dianggap terus menolak memenuhi tuntutan utama Washington.

Amerika Serikat menuntut Iran mengurangi pengayaan uranium serta membatasi aktivitas rudal balistik yang menjadi inti ketegangan selama bertahun-tahun.

Pihak Iran berulang kali menegaskan bahwa program rudal merupakan bagian dari kebutuhan pertahanan nasional mereka.

Situasi ini membuat dinamika politik di Washington semakin rumit di satu sisi diplomasi tetap menjadi pilihan utama namun di sisi lain tekanan militer muncul sebagai alat tambahan.

Pengarahan dari Laksamana Cooper dan Jenderal Caine menjadi sangat penting karena keduanya memaparkan analisis risiko potensi serangan balasan Iran serta dampaknya terhadap stabilitas regional.

Skenario yang dibahas mencakup serangan terbatas hingga operasi yang lebih luas menargetkan fasilitas strategis.

Fakta bahwa briefing ini berlangsung menunjukkan Gedung Putih sedang mempertimbangkan berbagai opsi dengan serius.

Jika diplomasi di Jenewa dan Wina gagal kemungkinan pertimbangan militer akan semakin kuat.

Jalur diplomasi tetap dianggap sebagai harapan terakhir untuk mencegah konflik besar di kawasan Timur Tengah.

Negeri Teluk khususnya Oman terus mendorong terciptanya kompromi melalui hubungan baik dengan kedua negara.

Dukungan dari negara-negara Eropa juga semakin intens karena konflik baru dapat memicu lonjakan harga energi global.

Dalam beberapa hari ke depan dunia akan memantau perkembangan putaran negosiasi di Wina dengan seksama.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved