![]()
Repelita Beijing - Citra satelit yang diambil oleh Tiongkok baru-baru ini mengungkap peningkatan aktivitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Meskipun demikian, para analis di Beijing berpendapat bahwa Washington masih menghadapi kendala signifikan untuk meluncurkan operasi militer skala penuh, terutama dalam meniru pendekatan "model Venezuela" untuk menekan Teheran.
Gugus Tempur Kapal Induk AS, yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln, telah bersiaga di wilayah yang berada dalam jangkauan serangan terhadap Iran.
Presiden Donald Trump telah memperingatkan bahwa tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran akan jauh lebih buruk daripada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Namun, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda gentar.
Ali Shamkhani, seorang penasihat politik senior sekaligus perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa setiap tindakan militer Amerika, dari sumber mana pun dan pada level apa pun, akan dianggap sebagai awal dari sebuah perang.
Dia menambahkan bahwa respons Iran akan cepat, komprehensif, dan belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk menargetkan Tel Aviv dan para pendukung agresor.
Di tengah retorika keras dan pamer kekuatan militer dari kedua belah pihak, citra satelit Tiongkok yang diperoleh oleh Global Times menunjukkan bahwa pasukan AS secara nyata meningkatkan aktivitas militer mereka di pangkalan-pangkalan di sekitar Iran dalam beberapa pekan terakhir, termasuk penyebaran kemampuan ofensif dan defensif.
Citra satelit dari perusahaan penginderaan jauh Tiongkok, MizarVision, menunjukkan bahwa pengerahan kekuatan AS di pangkalan-pangkalan garis depan dilakukan dengan cepat.
Di Pangkalan Udara Al Udeid Qatar, pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah, citra satelit pada 16 Januari hanya menunjukkan sejumlah kecil pesawat tanker KC-135 dan pesawat angkut C-17.
Situasi serupa terlihat di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, pada 17 Januari, di mana hanya terdeteksi beberapa KC-135, C-17, serta pesawat tempur F-15 dan F-16.
Untuk kekuatan laut, citra satelit pada 12 Januari menunjukkan bahwa di Naval Support Activity Bahrain, AS hanya mengerahkan tiga kapal tempur pesisir dan dua kapal perusak kelas Arleigh Burke.
Pada saat itu, kapal induk USS Abraham Lincoln masih beroperasi di Laut Cina Selatan.
Situasi mulai berubah dalam sepekan terakhir.
Citra satelit terbaru dari MizarVision menunjukkan bahwa pada 25 Januari, jumlah pesawat tanker KC-135 di Al Udeid meningkat signifikan.
Selain itu, terdeteksi pemasangan peralatan baru di sekitar pangkalan tersebut, yang oleh analis teknis diduga kuat sebagai sistem pertahanan udara Patriot.
Peningkatan serupa juga terlihat di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait.
Berdasarkan analisis MizarVision, pangkalan ini diduga telah menerima sistem pertahanan udara Patriot.
Sementara itu, citra satelit pada 21 Januari menunjukkan pengerahan besar pesawat tempur F-15E di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.
Meskipun pengerahan militer AS terus meningkat, sejumlah pengamat militer AS menilai bahwa kekuatan saat ini masih belum memadai untuk melancarkan operasi besar terhadap Iran.
Media pertahanan The War Zone dalam laporan 28 Januari menyebutkan belum adanya lonjakan besar pesawat tempur taktis Angkatan Udara AS di Timur Tengah.
Menurut laporan tersebut, peningkatan kekuatan udara secara masif merupakan indikator utama jika AS berniat menjalankan kampanye militer berkelanjutan, meski berskala terbatas.
Kondisi ini mengarah pada kemungkinan operasi yang lebih terbatas, kecuali jika Israel terlibat langsung dengan mengerahkan kekuatan udara taktisnya.
Pakar militer Tiongkok, Zhang Junshe, berpendapat bahwa pengerahan pesawat pengebom strategis seperti B-2 dan B-52 akan menjadi sinyal penting bahwa AS bersiap melakukan serangan.
Dia menekankan bahwa banyak fasilitas militer dan rudal Iran berada di bunker bawah tanah dan kompleks gua yang diperkeras, sehingga sulit dihancurkan dengan amunisi konvensional.
"Penggunaan pengebom strategis dengan senjata khusus seperti GBU-57 Massive Ordnance Penetrator akan jauh lebih efektif," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Global Times, Minggu (1/2/2026).
Dia merujuk pada operasi AS Juni lalu, ketika pesawat siluman digunakan untuk melumpuhkan pertahanan udara Iran sebelum B-2 menyerang fasilitas nuklir Iran.
Zhang menyebut pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia sebagai lokasi ideal untuk pengerahan B-2.
Pangkalan tersebut berada sekitar 4.000 kilometer dari Iran, masih dalam jangkauan operasional B-2, sekaligus relatif aman dari ancaman rudal balistik Iran.
Namun, citra satelit pada 17 dan 26 Januari hanya menunjukkan keberadaan dua pesawat angkut C-17, tanpa tanda peningkatan pengerahan militer signifikan.
Selain pesawat pengebom strategis, Zhang menilai pengerahan pasukan khusus dan sistem pertahanan udara tambahan, terutama THAAD, akan menjadi indikator penting berikutnya.
Iran memiliki persenjataan rudal balistik dan drone dalam jumlah besar yang berpotensi mengancam pangkalan AS dan wilayah Israel jika konflik pecah.
Direktur Pusat Studi Timur Tengah Universitas Fudan, Sun Degang, menilai Iran telah banyak belajar dari konflik sebelumnya.
Menurutnya, Israel pernah melancarkan serangan mendadak di tengah perundingan nuklir AS-Iran, membuat Teheran lengah.
"Kini Iran jauh lebih siap, sehingga sulit bagi AS dan Israel untuk kembali melancarkan serangan kejutan," ujarnya.
Trump sebelumnya menyamakan pendekatan terhadap Iran dengan operasi AS di Venezuela.
Namun, para pakar menilai perbandingan tersebut tidak tepat.
Menurut Sun, operasi di Venezuela berfokus pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro, sementara struktur kekuasaan Iran tidak terpusat pada satu individu.
Dia menjelaskan, target AS secara teori mencakup tiga kategori: pimpinan ulama inti, elite militer-politik, serta aset strategis seperti fasilitas rudal, drone, dan nuklir.
Namun, tanpa pengerahan pasukan darat, yang bertentangan dengan preferensi Trump, peluang menggulingkan pemerintahan Iran dinilai sangat kecil.
Profesor Liu Zhongmin dari Shanghai International Studies University menegaskan bahwa ketahanan nasional Iran, ditambah ketiadaan oposisi yang kredibel, membuat skenario perubahan rezim melalui serangan terbatas hampir mustahil.
Bahkan serangan "pemenggalan kepemimpinan" pun dinilai tidak akan otomatis menjatuhkan pemerintahan Teheran.
Di sisi lain, strategi AS saat ini justru mengarah pada pengurangan keterlibatan di Timur Tengah.
Dokumen Strategi Keamanan Nasional AS menekankan penarikan diri dari konflik berkepanjangan dan mendorong sekutu memikul tanggung jawab lebih besar.
Kalkulasi tersebut, menurut Liu, menunjukkan kecilnya kemungkinan Washington memicu perang jangka panjang melawan Iran.
AS dinilai lebih memilih tekanan terbatas, sembari menghindari konflik regional besar yang berpotensi sulit dikendalikan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

