Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Analis Politik Nilai PSI Tetap Gagal ke Senayan Meski Dapat Dukungan Penuh dari Mantan Presiden Jokowi

 Jokowi: Target PSI Tinggi, Jadi Mesinnya Harus Besar

Repelita [Jakarta] - Seorang pengamat politik yang berasal dari Lingkar Madani bernama Ray Rangkuti memberikan pandangan kritis mengenai masa depan Partai Solidaritas Indonesia.

Ray Rangkuti menyampaikan pendapatnya bahwa peluang PSI untuk dapat duduk di kursi Senayan terlihat sangat kecil dan sulit untuk diwujudkan.

Bahkan menurutnya, dukungan politik dari mantan Presiden Joko Widodo sekalipun tidak akan cukup untuk membawa partai tersebut melampaui ambang batas parlemen.

Ia menjelaskan bahwa membangun sebuah partai politik hingga mencapai skala nasional memerlukan kombinasi dari beberapa faktor kunci yang saling mendukung.

Faktor pertama yang tidak boleh diabaikan adalah keberadaan figur sentral yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat luas.

Figur tersebut tidak hanya perlu populer di kalangan pemilih namun juga sebaiknya sedang berada dalam posisi kekuasaan yang strategis.

Selain faktor figur, aspek pendanaan yang memadai dan berkelanjutan juga menjadi penentu vital dalam pertumbuhan sebuah partai politik.

"Saya tidak terlalu yakin," kata Ray Rangkuti dalam pernyataannya yang disampaikan pada hari Minggu tanggal 1 Februari 2026.

Ray Rangkuti menegaskan kembali bahwa partai dapat menjadi besar tidak hanya membutuhkan dana yang cukup melainkan juga figur yang tepat.

Namun figur yang dimaksud bukan sekadar tokoh yang populer belaka melainkan figur yang sedang memegang kendali kekuasaan.

Ia kemudian mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki informasi akurat mengenai besaran dana yang dimiliki oleh PSI saat ini.

Ray Rangkuti juga memberikan catatan penting mengenai status mantan Presiden Joko Widodo yang saat ini sudah tidak lagi berkuasa.

Meskipun Jokowi masih memiliki popularitas yang tinggi di mata masyarakat namun ketiadaan kekuasaan formal dapat mengurangi pengaruhnya.

Ia kemudian mengajak untuk melihat kembali performa elektoral PSI pada masa ketika Jokowi masih aktif menjabat sebagai presiden.

Pada penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2019, Partai Solidaritas Indonesia hanya berhasil mengumpulkan sekitar dua juta enam ratus lima puluh ribu suara.

Angka tersebut setara dengan satu koma delapan puluh sembilan persen dari total suara sah yang masuk pada pemilu saat itu.

Kemudian pada Pemilihan Umum tahun 2024, perolehan suara PSI mengalami peningkatan menjadi empat juta dua ratus enam puluh ribu suara.

Peningkatan ini setara dengan dua koma delapan persen dari keseluruhan suara yang berhasil dikumpulkan oleh partai-partai peserta pemilu.

"Bahkan kala Pak Jokowi sedang berkuasa, dan begitu banyak Bansos dikucurkan pada Pemilu 2024 lalu, suara PSI hanya dapat 2,8 persen," ujarnya.

Ray Rangkuti melanjutkan analisisnya dengan menggambarkan situasi yang akan dihadapi PSI di masa mendatang.

Ketidakberdayaan Jokowi dalam struktur kekuasaan saat ini akan diikuti dengan berhentinya program bansos yang selama ini menjadi alat politik.

Situasi ini menurutnya akan semakin diperparah dengan kecenderungan pemilih yang semakin terkonsentrasi mendukung partai-partai besar.

Bahkan ia memprediksi bahwa pada Pemilu 2029 mendatang jumlah partai yang masuk ke Senayan justru akan berkurang dan tidak bertambah.

Ray Rangkuti juga menyoroti beberapa hasil survei yang memperlihatkan dinamika kompetisi antar partai politik.

Setidaknya akan ada satu partai yang diperkirakan akan gagal kembali dalam memperebutkan kursi di parlemen pada pemilu mendatang.

"Dengan fakta ini, saya tidak terlalu yakin PSI akan masuk ke Senayan," ujarnya dengan nada yang cukup tegas.

Namun demikian, Ray Rangkuti masih memberikan ruang kemungkinan bagi PSI untuk mengembangkan kekuatannya di tingkat daerah.

Ia menuturkan bahwa partai tersebut bisa jadi akan menunjukkan kekuatan yang signifikan di beberapa daerah tertentu saja.

Namun untuk dapat bersaing di tingkat nasional dan duduk di Senayan, peluang tersebut dinilai masih sangat kecil dan sulit dicapai.

Analisis ini disampaikan dalam konteks perkembangan politik nasional yang semakin kompetitif dan penuh dinamika.

Partai-partai baru seperti PSI dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah dalam membangun basis dukungan yang luas.

Faktor dana, figur, dan momentum politik menjadi kunci penentu yang harus dikelola dengan sangat cermat dan strategis.

Tanpa kombinasi yang tepat dari ketiga faktor tersebut, sebuah partai akan kesulitan untuk menembus dominasi partai-partai besar.

Prediksi Ray Rangkuti ini memberikan gambaran mengenai masa depan kontestasi politik di Indonesia yang semakin ketat.

Partai-partai yang tidak memiliki fondasi kuat akan tersingkir secara alamiah dalam proses kompetisi demokrasi.

Namun tentu saja dinamika politik selalu menyimpan kemungkinan kejutan yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved