Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pernah Jadi Pendukung Garis Keras, Guru Besar Unair: Dulunya Percaya 99 Persen, Kini Minta Ijazah Jokowi Dibuka ke Publik

 Guru Besar Unair: Kasus Ijazah Jokowi Harus Diselesaikan Secara Hukum  Terbuka dan Transparan - Money Talk

Repelita Surabaya - Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Profesor Henri Subiakto meluruskan kembali pernyataannya terkait foto wisuda yang disebut-sebut sebagai milik Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo.

Henri mengaku pada awalnya termasuk pihak yang meyakini keaslian foto wisuda tersebut dengan keyakinan yang hampir bulat.

Dulu saya percaya 99 persen foto yang wisuda itu benar-benar Pak Jokowi Karena memang wajahnya sangat mirip dan meyakinkan ujar Henri dalam keterangannya di platform X pada tanggal 30 Januari 2026.

Namun seiring berjalannya waktu keyakinan itu perlahan berubah karena dinamika pernyataan dan sikap politik yang ditampilkan oleh Joko Widodo.

Namun setelah proses panjang ketahuan tokoh kita ini sering dengan entengnya bicara berubah-ubah Bicara tidak jujur tanpa beban Ngomong inkonsisten tanpa malu Berpolitik tanpa etika tanpa rasa bersalah tegasnya.

Kondisi tersebut menurut Henri membuat dirinya dan sejumlah akademisi lain merasa berada dalam situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Saya pun menyimpulkan ada hal yang dulunya tak pernah kita sangka bahkan tak pernah kita bayangkan sebelumnya ternyata benar-benar terjadi Kami seperti mimpi di siang bolong ucapnya.

Henri menyebutkan bahwa pengalaman itu berdampak besar terhadap cara pandang para akademisi yang sebelumnya menaruh harapan besar.

Karena itu kami dengan beberapa akademisi yang dulunya percaya dan berharap pada tokoh satu ini menjadi berubah total melihat kasus-kasus di negeri ini katanya.

Baginya sikap kritis kini menjadi pilihan yang tak terelakkan setelah mengalami berbagai peristiwa yang mengubah perspektifnya.

Sekarang kami pesimis kritis Tak mudah percaya dengan hal-hal biasa Karena yang kami saksikan apa yang terjadi di negeri ini sebenarnya tak masuk akal tapi ternyata benar-benar terjadi di depan mata kami imbuhnya.

Atas dasar itu Henri mendorong agar polemik terkait foto wisuda dan ijazah Joko Widodo diselesaikan secara terbuka agar tidak terus berlarut-larut.

Makanya kalau memang foto-foto dulu itu betul biarkan konsistensi terjadi dengan cara dibuka saja ijazah Pak Jokowi di depan publik tegasnya.

Ia juga meminta agar dokumen tersebut diuji oleh pihak independen demi mengakhiri kontroversi yang telah berkembang cukup lama.

Biarkan rakyat melihat dan para ahli independen mengujinya supaya kontroversi yang berlarut-larut segera selesai Tapi mohon maaf karena sudah berkali-kali merasa dibohongi dan dikelabuhi katanya.

Henri menyatakan bahwa kepercayaan hanya bisa dipulihkan melalui bukti yang lengkap dan proses yang transparan tanpa keraguan.

Saya dan banyak teman di antara kami sudah tidak bisa mempercayai lagi tanpa bukti-bukti komplit yang diteliti secara ilmiah oleh lembaga independen tandasnya.

Sebelumnya Profesor Henri Subiakto merupakan saksi ahli yang diusulkan oleh kuasa hukum Roy Suryo dan kawan-kawan untuk meringankan sangkaan dalam perkara yang sedang berjalan.

Pada Selasa tanggal 20 Januari 2026 Henri diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait dengan kasus hukum yang menyeret beberapa nama.

Ia mengaku saat itu hadir untuk kebaikan negeri ini yang dianggap semakin gaduh dengan berbagai kontroversi yang muncul.

Henri mengungkapkan bahwa kehadirannya bertujuan untuk meluruskan praktik penggunaan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang sering disalahgunakan.

Khususnya penggunaan undang-undang tersebut untuk menjerat kalangan aktivis dan masyarakat yang menyampaikan kritik.

Ia menyinggung sejumlah kasus yang belakangan menjadi perhatian publik seperti yang menimpa Roy Suryo Rismon Sianipar dan Tifauzia Tyassuma.

Menurut Henri dalam perkara-perkara tersebut aparat penegak hukum masih menunjukkan kekeliruan dalam menerapkan pasal-pasal yang digunakan.

Kondisi tersebut lanjutnya memunculkan kekhawatiran yang lebih besar mengenai penegakan hukum di Indonesia.

Ia menilai jika dalam kasus yang disorot publik saja penerapan hukumnya masih bermasalah maka kemungkinan kesalahan serupa akan lebih masif terjadi pada perkara lain.

Henri juga menuturkan adanya kecenderungan aparat yang menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai alat untuk mengkriminalisasi aktivis masyarakat.

Ia menekankan bahwa praktik tersebut menjadi semakin tidak relevan mengingat sebagian besar norma dalam undang-undang itu telah diakomodasi ke dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru.

Selain itu Henri turut mengkritisi penerapan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam kasus dugaan ijazah palsu Joko Widodo.

Menurutnya penggunaan pasal-pasal dalam undang-undang tersebut terkesan dipaksakan dan tidak mencerminkan penerapan hukum yang tepat.

Rocky Gerung juga hadir di Polda Metro Jaya pada Selasa 27 Januari 2026 untuk memberikan keterangan sebagai ahli yang diajukan oleh tiga tersangka.

Rocky menegaskan bahwa kehadirannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk meringankan maupun memberatkan posisi para tersangka.

Enggak ada urusan memberatkan atau meringankan saya ingin menerangkan fungsi dari metode di dalam meneliti di dalam mencurigai kata Rocky seperti dikutip dari Breaking News Kompas TV.

Dikatakan Rocky sikap curiga justru merupakan bagian esensial dari ilmu pengetahuan dan proses penelitian yang sehat.

Mencurigai itu bagian yang paling penting dari ilmu pengetahuan begitu tambahnya.

Saat ditanya apakah keterangannya akan berkaitan dengan unsur ujaran kebencian atau pencemaran nama baik Rocky menyebut hal tersebut sepenuhnya bergantung pada arah pertanyaan penyidik.

Tergantung apa yang ditanyain nanti kalau saya fokusnya di sini nanti penyidiknya tidak fokus ya kan imbuhnya.

Rocky kemudian menegaskan bahwa dirinya akan lebih banyak menjelaskan soal metode penelitian apabila diminta oleh penyidik sesuai latar belakang akademiknya.

Iya pasti soal itu karena saya ngajar metodologi bertahun-tahun membaca bertahun-tahun soal matematik fisika biologi stem cell fungsi neurotransmitter jelasnya.

Lebih jauh Rocky menilai perbedaan pandangan dan perdebatan adalah sesuatu yang lumrah dalam dunia riset dan pencarian kebenaran ilmiah.

Bahkan ia menyebut konflik intelektual sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pencarian ilmu pengetahuan.

Mana ada pidana dalam metodologi Kuriositas manusia itu diberikan supaya timbul pertengkaran itu intinya itu Jadi semua orang yang meneliti pasti akan bertengkar kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved