
Repelita Caracas - Angkatan bersenjata Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam operasi militer skala besar yang dilancarkan pada dini hari Sabtu, 3 Januari 2026, waktu setempat.
Operasi tersebut melibatkan unit pasukan khusus elite Delta Force yang melakukan penggerebekan langsung untuk menahan pemimpin Venezuela itu.
Maduro segera dibawa keluar dari negaranya dan akan menghadapi proses peradilan di wilayah Amerika Serikat atas berbagai tuduhan pidana.
Senator Amerika Serikat dari Partai Republik, Mike Lee, menyampaikan pernyataan di platform media sosial X berdasarkan pembicaraan langsungnya dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Menurut Lee, Rubio mengonfirmasi bahwa Maduro ditangkap oleh personel militer AS guna diadili atas dakwaan kriminal di tanah Amerika.
Lee juga menyebutkan bahwa tindakan militer malam itu dimaksudkan untuk melindungi serta mempertahankan pasukan yang sedang menjalankan surat perintah penangkapan tersebut.
Ia menilai operasi ini berada dalam kewenangan konstitusional presiden berdasarkan Pasal II Undang-Undang Dasar Amerika Serikat, khususnya untuk menjaga keselamatan personel dari ancaman nyata atau yang akan segera terjadi.
Sebelumnya, Lee sempat menyuarakan kekhawatirannya terkait dasar konstitusional dari serangan tersebut tanpa deklarasi perang resmi atau persetujuan penggunaan kekuatan militer dari Kongres.
Operasi ini menjadi eskalasi signifikan dalam hubungan kedua negara, dengan Maduro selama ini menghadapi tuduhan terkait narkoterorisme dan penyelundupan kokain ke Amerika Serikat.
Pemerintah Venezuela langsung menyatakan darurat nasional dan mengecam tindakan tersebut sebagai agresi militer yang melanggar hukum internasional.
Reaksi internasional bervariasi, dengan beberapa negara mengutuk penggunaan kekuatan unilateral tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

