Repelita Bandung - Seorang pengamat politik menggunakan frasa "Jokowi mah kitu kieu rugi" untuk menganalisis dampak polemik seputar keabsahan suatu dokumen pendidikan.
Frasa tersebut menggambarkan dua kemungkinan skenario yang sama-sama dinilai berpotensi merugikan secara politik dan kredibilitas.
Pada skenario pertama, jika dokumen tersebut terbukti tidak autentik, maka akan terjadi krisis kepercayaan publik yang mendalam.
Kredibilitas yang dibangun selama ini dapat hancur karena dianggap ada unsur penipuan yang disengaja.
Pada skenario kedua, sekalipun dokumen tersebut terbukti sah, muncul persoalan mengapa klarifikasi tidak dilakukan lebih awal.
Pembiaran atas polemik yang berlarut-larut dinilai telah menciptakan gejolak dan menyuburkan budaya saling curiga.
Kapasitas seseorang dalam mengurus dokumen pribadi sering dijadikan cerminan integritasnya dalam menangani urusan publik yang lebih luas.
Isu ini berisiko mengalihkan fokus dari pembahasan agenda nasional dan masalah-masalah strategis yang lebih mendesak.
Lembaga-lembaga yang berwenang dalam proses verifikasi juga turut diuji kredibilitas dan netralitasnya dalam menyikapi persoalan ini.
Terlepas dari hasil verifikasi akhir, tuntutan untuk transparansi dan akuntabilitas dalam kepemimpinan tetap merupakan hal yang mutlak.
Pelajaran penting yang dapat diambil adalah bahwa kepercayaan publik merupakan pondasi utama yang harus dijaga.
Setiap polemik yang melibatkan tokoh publik pada hakikatnya merupakan ujian nyata bagi komitmen terhadap nilai-nilai keterbukaan.
Harapan terbesar adalah adanya penyelesaian yang jelas dan responsif untuk memulihkan stabilitas dan kepercayaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

