Repelita [Teheran] - Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara dan rudal negaranya berada dalam tingkat kesiapan tertinggi untuk menghadapi segala kemungkinan serangan. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di parlemen Iran.
Mousavi menegaskan bahwa angkatan udara akan memberikan respons tegas dan menghancurkan terhadap setiap tindakan agresi yang menargetkan kedaulatan dan rakyat Iran. Dia menambahkan bahwa kapasitas produksi rudal serta output keseluruhan angkatan udara telah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan periode sebelum konflik dua belas hari yang terjadi sebelumnya.
Pernyataan komandan angkatan udara tersebut menguatkan peringatan sebelumnya dari Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh yang menyebutkan bahwa Teheran memiliki kejutan tersedia bagi pihak-pihak yang mengancam akan melakukan aksi militer. Nasirzadeh memperingatkan bahwa setiap penyerang akan menghadapi konsekuensi berat dan penderitaan yang berarti.
Lebih lanjut, Menteri Pertahanan Iran menyatakan bahwa negara mana pun yang memfasilitasi serangan terhadap Iran atau menyediakan pangkalan untuk operasi militer semacam itu akan dianggap sebagai target yang sah. Pernyataan ini menunjukkan posisi tegas Iran dalam menghadapi potensi ancaman dari kekuatan asing di kawasan.
Sementara itu, media The New York Times melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump serius mempertimbangkan opsi tindakan militer terhadap Iran sebagai respons terhadap kerusuhan yang sedang berlangsung di negara tersebut. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Trump telah menerima pengarahan mengenai beberapa skenario serangan, termasuk target non-militer di Teheran dan instalasi pasukan keamanan Iran.
Meskipun belum ada keputusan final yang diambil, para pejabat Amerika Serikat memperingatkan bahwa serangan apa pun berpotensi memicu respons balasan terhadap personel dan fasilitas diplomatik Amerika di seluruh kawasan. Situasi ini menuntut kesiapan lebih lanjut dari pihak Amerika Serikat untuk menghadapi berbagai kemungkinan eskalaSI.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah menuduh Amerika Serikat secara aktif menghasut kerusuhan di Republik Islam. Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi pada 10 Januari, Pezeshkian menegaskan bahwa rakyat Iran tetap lebih bersatu dari sebelumnya dalam mendukung tanah air dan sistem politik mereka.
Pezeshkian menyatakan bahwa upaya Amerika Serikat untuk menciptakan kekacauan dan ketidaktertiban tidak akan merusak kohesi nasional bangsa Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks gelombang kerusuhan bersenjata yang terjadi sejak awal tahun, yang ditandai dengan serangan terhadap properti publik dan tempat-tempat keagamaan.
Iran juga menghadapi peningkatan bentrokan antara pasukan keamanan dengan gerakan separatis di provinsi-provinsi barat, yang mengakibatkan korban jiwa di kalangan anggota Korps Garda Revolusi Islam. Perkembangan ini terjadi setelah ancaman publik dari Presiden Trump yang mengklaim mungkin akan campur tangan dalam urusan internal Iran dengan dalih melindungi para pengunjuk rasa.
Para pejabat Iran secara konsisten mengecam apa yang mereka sebut sebagai campur tangan asing dalam urusan domestik, terutama dari Amerika Serikat dan Israel. Mereka menyerukan negara-negara regional untuk menolak upaya-upaya yang dinilai memecah belah dan bertujuan menggoyahkan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Situasi keamanan di Iran dan ketegangan dengan Amerika Serikat terus menjadi perhatian masyarakat internasional mengingat potensi dampak geopolitik yang luas. Eskalasi konflik antara kedua negara dapat mempengaruhi stabilitas regional dan keamanan energi global, mengingat posisi strategis Iran di kawasan Teluk Persia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

