
Repelita Jakarta - Erizali Bandaro mengamati bahwa masyarakat internasional banyak yang terpukau dengan gambaran tentang kekuatan tak terbatas Amerika Serikat setelah keberhasilan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro di Caracas.
Namun perlu dibedakan antara keberhasilan suatu operasi militer atau penegakan hukum dengan penguasaan politik yang komprehensif atas suatu negara, yang merupakan pembedaan krusial dalam studi hubungan internasional dan analisis risiko politik.
Oleh karena itu tidak mengherankan jika pascapenangkapan Maduro, Presiden Donald Trump mengundang para petinggi perusahaan minyak besar ke Gedung Putih untuk mendorong investasi ratusan miliar dolar di sektor energi Venezuela.
Respons yang justru diterima adalah sikap dingin dan skeptis seperti yang diungkapkan CEO ExxonMobil Darren Woods, yang secara terbuka menyebut Venezuela saat ini sebagai tempat yang tidak layak investasi karena kerangka hukum dan komersialnya belum memberikan kepastian kontraktual.
Perusahaan-perusahaan multinasional Amerika memiliki pengalaman pahit pada tahun 2006 ketika aset mereka dinasionalisasi oleh rezim Hugo Chávez, dan Amerika Serikat hanya bisa membalas dengan sanksi ekonomi.
Dalam dunia bisnis, pertimbangan rasional selalu menang di mana selama stabilitas politik dan kepastian hukum tidak terjamin, maka investasi besar bukan pilihan yang logis meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekalipun.
Jaminan perubahan politik dari Trump pun diabaikan oleh para investor karena mereka memahami hal itu hanyalah pidato belaka.
Kompleksitasnya tidak hanya urusan domestik, mengingat selama beberapa dekade China, Rusia, dan Iran telah menanamkan kepentingan ekonomi, keamanan, dan simbolis dalam hubungan mereka dengan Caracas.
Jika Washington ingin mengubah rezim atau sistem politik Venezuela secara fundamental, mereka harus berhadapan dengan jaringan proksi Rusia, China, dan Iran di negara tersebut, yang dapat menjadi mesin efektif untuk melumpuhkan rezim boneka yang didukung Amerika Serikat.
Sejarah kekuatan militer Amerika Serikat dipenuhi contoh di mana kemenangan militer, bahkan dalam skala besar, tidak otomatis menghasilkan dominasi politik jangka panjang, seperti yang tercermin dalam Perang Vietnam dan Afganistan.
Dalam teori risiko politik dan ekonomi kelembagaan yang dikembangkan oleh Douglass North, yang membuat perubahan politik dapat dipercaya bukanlah rezim baru sebagai boneka, melainkan institusi yang mendukung perubahan tersebut, seperti sistem hukum yang dapat diandalkan dan birokrasi yang konsisten.
Tanpa institusi yang stabil, modifikasi rezim akan selalu dianggap sebagai perubahan semu, bukan transformasi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam istilah finansial.
Jika Amerika Serikat saja mengalami kesulitan mengubah ranah politik domestik Venezuela meski mampu melakukan operasi koersif yang sukses pada level individu, maka upaya serupa terhadap Iran akan jauh lebih sulit, mahal, dan tidak pasti.
Ini bukan hanya soal kapasitas militer, tetapi juga menyangkut kompleksitas kelembagaan, kohesi sosial-politik, dan struktur aliansi yang membentuk daya tahan negara modern.
Venezuela menunjukkan bahwa perubahan aktor di puncak tidak otomatis menghasilkan konsolidasi kelembagaan; negara dapat tetap eksis, elite tetap solid, dan kepantian hukum tetap tidak terbentuk sehingga modal besar tetap menahan diri.
Iran berbeda dari Venezuela karena merupakan pemain kunci dalam geopolitik energi akibat kedekatannya dengan titik vital paling kritis di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Pada tahun 2024, aliran minyak melalui Selat Hormuz rata-rata sekitar dua puluh juta barel per hari, setara dengan sekitar dua puluh persen konsumsi minyak global.
Badan Energi Internasional juga menekankan bahwa sekitar seperempat perdagangan minyak dunia via laut melintasi jalur ini, sementara opsi alternatif sangat terbatas.
Gangguan kecil pun berpotensi menciptakan guncangan harga dan pasokan secara global, sehingga risiko serangan terhadap Iran tidak hanya bersifat militer, tetapi juga risiko sistemik terhadap pasar energi, inflasi, dan stabilitas makroekonomi global.
Dari sisi keamanan, Iran mengembangkan kemampuan militer asimetris yang secara eksplisit menempatkan penguasaan medan maritim, termasuk strategi gangguan di Selat Hormuz, sebagai bagian utama doktrin pertahanannya.
Evaluasi sektor energi mencatat bahwa wacana penutupan Selat Hormuz selalu menjadi variabel risiko yang diperhitungkan pasar karena dapat mengancam setidaknya seperlima pasokan minyak dunia.
Kemampuan asimetris seperti ini membuat perang tidak berhenti pada target militer, tetapi menyebar ke biaya ekonomi yang luas.
Lebih dari itu, Iran beroperasi dalam ekosistem proksi dan jaringan regional yang membuat eskalasi cenderung menyebar lintas wilayah, bukan terkunci pada satu front.
Literatur tentang dinamika Teluk Persia menempatkan konflik proksi di Yaman, Suriah, Irak, dan Lebanon sebagai pola kompetisi yang nyata dan berulang.
Setiap aksi militer besar terhadap Iran memiliki probabilitas tinggi memicu efek limpahan regional.
Kompleksitas semakin bertambah karena Iran tidak berdiri sendirian dalam struktur geopolitik.
Hubungan Iran dengan Rusia mengalami pendalaman formal melalui Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang ditandatangani pada tahun 2025, yang meski bukan pakta pertahanan bersama, tetap memperkuat koordinasi politik dan keamanan.
Pada saat yang sama, analisis kebijakan mencatat bahwa Tehran memperkuat orientasi poros ke timur ke Rusia dan China untuk menahan tekanan sanksi dan meningkatkan daya tawar, meski derajat dukungan kedua negara tidak selalu tanpa syarat.
Konsekuensinya, serangan terhadap Iran bukan sekadar duel bilateral, tetapi berpotensi memicu kalkulasi balasan dan penguncian posisi kekuatan besar lainnya, minimal pada level diplomasi, sanksi balas-sanksi, dan pengaruh di pasar energi.
Oleh karena itu, opsi militer terhadap Iran adalah skenario berbiaya tinggi dan berketidakpastian tinggi, bukan hanya karena faktor militer, tetapi karena kombinasi titik vital energi global, strategi asimetris, jaringan proksi regional, dan kedalaman kompetisi kekuatan besar.
Dalam sistem internasional yang multipolar dan rapuh, kalkulasi rasional Washington dan sekutunya hampir pasti menempatkan opsi militer sebagai pilihan terakhir, bukan respons primer.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

