Repelita Jakarta – Pernyataan Hasan Nasbi saat berdebat dengan Fedi Nuril di aplikasi X menjadi sorotan publik.
Kalimat yang ditulis Hasan menyebar luas di berbagai platform media sosial, bahkan memunculkan meme dan kelakar.
Dalam perdebatan tersebut, Hasan tampak membenarkan bahwa dirinya adalah penjilat yang berhasil mengantar orang yang dijilatnya menjadi penguasa.
Pernyataan itu kemudian mendapat perhatian dari Peneliti ISEAS Yusof-Ishak Institute, Made Supriatma.
Melalui tulisan berjudul Dunia Dari Kacamata Seorang Penjilat, Made menyampaikan analisisnya terhadap fenomena tersebut.
Kita memandang dunia dari cara kita memposisikan diri kita dalam sistem sosial yang kita hidupi. (2 Oktober 2025)
Made menjelaskan bahwa cara seseorang memandang dunia dipengaruhi oleh posisi sosial dan nilai yang dianutnya.
Ia mencontohkan bahwa orang religius akan melihat dunia dengan kacamata religius, mencari kedamaian dan menghindari konflik.
Seorang pendidik akan melihat dunia sebagai ruang pertumbuhan dan perkembangan.
Pendidik yang berdedikasi akan sabar membimbing anak didiknya hingga berhasil, dan kepuasan tertingginya adalah keberhasilan anak tersebut.
Made juga menyebut bahwa banyak orang baik memandang dunia dari perspektif pelayanan dan pengabdian.
Pengemudi ojek online, misalnya, melihat dunia dari sisi orang yang mereka layani, bahkan kadang terjebak dalam sistem aplikasi yang mengatur hidup mereka.
Ia juga menyoroti cara pandang koruptor yang membenarkan tindakan korupsi dengan dalih toleransi dan kebutuhan pribadi.
Kalau bukan saya, orang lain yang akan ambil. Bahkan mungkin akan lebih parah dari saya. Kalau saya cuman ambil 500 miliar saja. Lumayan buat tabungan ibunya anak-anak dan nanti bekal kulian anak-anak. (2 Oktober 2025)
Made kemudian mengulas bagaimana dunia dilihat dari sudut pandang seorang penjilat.
Dalam pandangan tersebut, semua manusia dianggap sebagai penjilat.
Pada mulanya adalah jilatan, dan jilatan menjelma menjadi manusia. Kompetensi untuk menjadi manusia paripurna untuk para penjilat adalah kalau yang dijilatnya menang. (2 Oktober 2025)
Ia menggambarkan bahwa penjilat harus memelihara lidah dan air liur untuk menjilat hingga ke titik terdalam.
Slurrrrpppp … slurrrrppp … jilat hingga ke liang dubur terdalam. Yang dijilat pun merasa bersih, adem, tenterem, merem melek. (2 Oktober 2025)
Itulah dunia dilihat dari pandangan seorang penjilat. Kita semua adalah penjilat. Yang kita jilat adalah penguasa -- yang menang. (2 Oktober 2025)
Made menutup analisisnya dengan menyatakan bahwa moral penjilat tidak terletak pada kualitas jilatan, tetapi pada hasil akhir.
Kalau kalah, Anda tidak kompeten. Tidak ada artinya jilatanmu bersih atau setengah bersih. Yang penting yang dijilatnya itu menang atau kalah. (2 Oktober 2025)
Editor: 91224 R-ID Elok

