
Repelita Jakarta - Kontroversi penggunaan fasilitas negara oleh Raffi Ahmad kembali memicu polemik di media sosial. Setelah sebelumnya menuai kritik karena menggunakan pelat dinas RI 36 dengan pengawalan patroli, Raffi kini menjadi sorotan usai mengunggah konten bersama mobil barunya, Suzuki Jimny, yang dikawal kendaraan polisi.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo turut angkat bicara terkait polemik tersebut. Dalam pernyataannya, Roy menyebut penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi seperti flexing mobil adalah pelanggaran etika. Ia mendukung seruan warganet agar Raffi Ahmad diminta mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Generasi Muda dan Pekerja Seni. "Penggunaan fasilitas negara seperti ini tidak dapat dibenarkan, dan jika memang publik sudah mendesak, maka sebaiknya beliau mundur dari jabatannya," ujar Roy.
Roy juga menyoroti perbandingan kasus ini dengan insiden sebelumnya yang melibatkan Miftah, seorang pejabat yang akhirnya mengundurkan diri setelah menerima kritik publik. Ia mengingatkan bahwa fasilitas negara seharusnya digunakan hanya untuk keperluan dinas, bukan untuk kepentingan pribadi atau konten media sosial.
Pandangan berbeda disampaikan jurnalis senior Hersubeno Arief, yang menilai kontroversi ini seharusnya bisa mereda jika Raffi Ahmad lebih bijak dalam bersikap. “Saya pikir ini soal Raffi Ahmad yang kemarin menggunakan patwal untuk konten sudah reda, tapi ternyata masih ramai juga ya?” ujarnya. Menurut Hersubeno, insiden ini menunjukkan kurangnya kehati-hatian Raffi sebagai pejabat negara, terutama setelah sebelumnya ia sudah mendapat teguran dari Sekretaris Kabinet.
Hersubeno juga mengaitkan kasus ini dengan insiden Miftah, di mana tekanan publik akhirnya memaksa Miftah untuk mundur. “Sekarang ini terpulang lagi kepada Pak Prabowo. User-nya ini kan Pak Prabowo. Kalau Setkab atau Kepala Staf Presiden hanya bisa menegur saja, keputusannya tetap ada pada beliau,” tambahnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

