Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan akan menghancurkan Iran sepenuhnya karena dinilai telah menunjukkan diri lebih tangguh dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel daripada yang diperkirakan Washington.
"Kami akan menghancurkan sepenuhnya rezim teroris Iran, secara militer, ekonomi, dan dengan cara lain," tulis Donald Trump di platform onlinenya Truth Social dikutip pada Sabtu 14 Maret 2026.
Trump mengklaim bahwa angkatan laut dan udara Iran sudah lenyap akibat serangan gabungan AS-Israel selama dua pekan terakhir.
Kemudian militer AS akan menghancurkan semua rudal, drone hingga persenjataan Iran yang tersisa untuk melumpuhkan kemampuan tempur Tehran.
Ia juga menyatakan para pemimpin Iran telah "dihapus dari muka Bumi" merujuk pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya dalam serangan 28 Februari 2026.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki "kekuatan tembak yang tak tertandingi, amunisi tak terbatas, dan banyak waktu" untuk menyelesaikan konflik ini.
Presiden AS itu juga menyebut para anggota kepemimpinan Iran sebagai "bajingan yang terganggu jiwanya" dan mengatakan bahwa merupakan "kehormatan besar" baginya untuk membunuh mereka.
Sebelumnya Donald Trump kembali membuat pernyataan terkait perang melawan Iran dengan mengatakan operasi militer AS dalam konflik tersebut berjalan jauh lebih cepat dari rencana awal.
Trump juga mengklaim hampir 90 persen rudal milik Iran telah berhasil dihancurkan oleh serangan udara AS-Israel selama dua pekan terakhir.
"Semua berjalan sangat baik. Kami jauh lebih maju dari jadwal, jauh sekali. Kami bahkan tidak menyangka bisa berada sejauh ini. Kami sudah melumpuhkan hampir 90 persen rudal mereka," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Ketika ditanya mengenai laporan yang menyebut pemerintahan Iran kemungkinan tidak akan runtuh dalam waktu dekat, Donald Trump mengatakan bahwa hal tersebut memang menjadi tantangan besar.
Namun ia meyakini perubahan itu pada akhirnya akan terjadi meski tidak dalam waktu dekat seperti yang diharapkan sebelumnya.
"Itu rintangan yang sangat besar… hal itu akan terjadi, tetapi mungkin tidak segera," kata dia mengakui kompleksitas situasi.
Iran sendiri telah melancarkan perlawanan sengit dengan mengirimkan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan AS di kawasan Teluk.
Militer Iran mengklaim telah berhasil menghantam sejumlah target strategis termasuk pangkalan udara dan fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan UEA.
Korps Garda Revolusi Islam menegaskan akan terus melancarkan serangan balasan sampai Amerika Serikat dan Israel menghentikan agresi mereka.
Para analis menilai bahwa ancaman Trump untuk menghancurkan Iran sepenuhnya akan sulit diwujudkan mengingat luasnya wilayah dan kompleksitas medan.
Iran memiliki sistem pertahanan berlapis dan pengalaman panjang dalam menghadapi konflik asimetris dengan kekuatan yang lebih besar.
Dukungan dari kelompok proksi di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman juga menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan dalam konflik ini.
Dunia internasional terus mendesak dilakukannya gencatan senjata untuk mencegah semakin banyaknya korban sipil berjatuhan.
Sementara itu korban tewas di pihak Iran telah mencapai lebih dari 1.400 orang termasuk pemimpin tertinggi dan puluhan ilmuwan nuklir.
Di pihak Israel dan AS puluhan tentara dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan balasan Iran.
Konflik yang telah memasuki pekan ketiga ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera mereda dalam waktu dekat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

