Repelita Tel Aviv - Pemandangan mengerikan kini menghiasi ibu kota Israel karena Tel Aviv yang selama ini dikenal sebagai kota metropolitan modern disebut-sebut telah berubah menjadi medan pertempuran sipil akibat perang dengan Iran.
Laporan dari dalam menggambarkan kekacauan total di tengah warga Israel yang kini hidup dalam ketakutan dan saling berebut sumber daya dasar untuk bertahan hidup.
Perang dengan Iran yang memasuki hari ke-15 tidak hanya membawa kehancuran fisik tetapi juga meluluhlantakkan tatanan sosial di negara Zionis tersebut.
Sumber-sumber di Tel Aviv melaporkan bahwa warga kini hidup dalam ketakutan, saling berkonflik, dan bahkan berebut sumber daya dasar seperti makanan dan air bersih.
"Sumber-sumber saya sedang mencari cara untuk melarikan diri dari Israel, tetapi IDF terus menahan orang-orang di dalam," kata Gerhardt dalam akun X pribadinya pada Sabtu 14 Maret 2026.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah Israel memberlakukan semacam lockdown paksa mencegah warganya meninggalkan negara yang sedang porak-poranda dilanda perang.
Sejumlah laporan yang beredar di media sosial dan dikonfirmasi oleh berbagai sumber independen menggambarkan situasi yang mencekam di berbagai kota Israel.
Tel Aviv kini mulai benar-benar terlihat seperti Gaza dengan infrastruktur hancur, bangunan-bangunan ambruk, dan pemandangan kehancuran ada di mana-mana.
Perbandingan dengan Gaza yang selama ini menjadi sasaran blokade dan serangan Israel menjadi ironi tersendiri bagi rezim Zionis.
Seluruh warga Israel takut akan keselamatan mereka karena serangan demi serangan dari Iran membuat tidak ada lagi rasa aman di negara tersebut.
Runtuhnya layanan publik dan serangan terus-menerus membuat warga hidup dalam ketakutan setiap detik tanpa bisa berbuat banyak.
Yang lebih memprihatinkan warga Israel saling bertikai satu sama lain sehingga konflik horizontal pecah di mana-mana tanpa ada lagi solidaritas.
Yang ada hanyalah insting bertahan hidup yang paling primitif di tengah kehancuran total yang melanda negeri itu.
Warga Israel saling mencuri makanan dan sumber daya karena krisis pasokan dan distribusi yang lumpuh membuat makanan menjadi barang paling berharga.
Laporan menyebutkan bahwa aksi penjarahan dan perampokan terjadi di mana-mana bahkan antar tetangga yang saling mengenal.
Warga Israel terlihat diperlakukan kasar dan ditangkap ketika mereka mencoba merekam video penyimpangan ekstrem di Tel Aviv oleh aparat keamanan.
Pemerintah Israel menurut laporan ini menerapkan kebijakan sensor yang sangat ketat untuk menyembunyikan kondisi sebenarnya dari publik internasional.
Siapa pun yang mencoba mendokumentasikan kondisi sebenarnya di jalanan langsung ditangkap dan diperlakukan kasar oleh aparat.
Klaim Gerhardt bahwa IDF menahan orang-orang yang mencoba melarikan diri dari Israel menambah daftar panjang pelanggaran yang dituduhkan kepada pemerintah Israel.
Jika benar ini berarti warga Israel dipaksa untuk tetap berada di zona perang yang semakin tidak aman setiap harinya.
Kekacauan di Tel Aviv tidak terlepas dari gempuran militer yang terus dilancarkan Iran sebagai balasan atas agresi AS-Israel.
Pada hari yang sama Sabtu 14 Maret 2026 Angkatan Udara Iran mengumumkan serangan besar-besaran terhadap pangkalan-pangkalan udara Israel.
"Pesawat tak berawak Angkatan Udara Tentara Republik Islam Iran menghantam pangkalan udara Ramat David dengan akurasi tinggi pagi ini," bunyi pernyataan resmi Iran seperti dikutip Al Mayadeen.
Pangkalan Udara Ramat David adalah salah satu pangkalan udara terpenting Israel yang terletak di timur laut Haifa dan menjadi rumah bagi skuadron tempur elite.
Iran mengklaim bahwa serangan ini adalah bagian dari operasi balasan atas agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap negara mereka.
"Operasi ini dilakukan sebagai respons terhadap agresi rezim Zionis terhadap Iran dan untuk membela keamanan nasional Iran serta membalas darah para syuhada," tambah pernyataan tersebut.
Sebelumnya pada hari Jumat 13 Maret 2026 Iran juga melancarkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan militer Israel termasuk Pangkalan Udara Nevatim di gurun Negev.
Otoritas Israel mengakui bahwa pangkalan tersebut terkena serangan tetapi mengklaim bahwa pesawat tempur F-35 di pangkalan itu tetap aman.
Namun citra satelit yang beredar menunjukkan kerusakan signifikan di beberapa fasilitas pangkalan militer Israel.
Komandan IRGC Haji Mohammad Sadeghi memberikan perincian lebih lanjut tentang serangan itu dalam pernyataannya yang disiarkan televisi pemerintah.
Ia menyebutkan bahwa drone yang ditembakkan dari berbagai arah termasuk dari Suriah, Yaman, dan Irak berhasil mencapai targetnya.
"Meskipun sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya berusaha mencegat serangan ini, operasi kami berhasil menargetkan pangkalan-pangkalan udara strategis rezim Zionis," klaim Sadeghi.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz merespons dengan nada keras dalam pernyataan yang disiarkan televisi dengan mengatakan bahwa Israel akan merespons dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Ini adalah perang terbuka antara Iran dan Israel," tegas Katz.
Ia menambahkan bahwa Israel tidak akan tinggal diam dan akan menyerang Iran di mana pun diperlukan.
Namun di tengah retorika keras para pejabat kondisi di dalam negeri justru semakin kacau karena serangan udara Iran terus melumpuhkan infrastruktur sipil.
Kementerian Kesehatan Israel merilis data terbaru korban jiwa hingga Sabtu 14 Maret 2026 sore dengan sedikitnya 1.782 warga Israel tewas sejak perang dimulai.
Lebih dari 8.500 lainnya terluka akibat serangan rudal dan drone Iran yang terus dilancarkan.
Rumah sakit-rumah sakit di Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota besar lainnya kewalahan menangani gelombang korban yang terus berdatangan setiap hari.
Infrastruktur sipil juga hancur dengan Kementerian Perumahan Israel melaporkan bahwa lebih dari 15.000 unit rumah rusak atau hancur total akibat serangan Iran.
Sekolah-sekolah, pusat perbelanjaan, dan fasilitas umum lainnya juga tidak luput dari gempuran rudal balistik Iran.
Yang paling parah adalah krisis pasokan bahan pokok karena pelabuhan-pelabuhan utama Israel termasuk Pelabuhan Haifa dan Pelabuhan Ashdod mengalami kerusakan parah.
Akibatnya distribusi makanan dan barang-barang kebutuhan pokok ke seluruh negeri lumpuh total.
Supermarket-supermarket di Tel Aviv dan kota-kota lain kosong dalam hitungan jam setelah serangan dimulai.
Pemerintah berusaha menerapkan sistem jatah tetapi distribusi yang buruk membuat banyak warga tidak kebagian makanan sama sekali.
Situasi inilah yang memicu kekacauan dengan laporan tentang perampokan toko-toko kelontong dan penjarahan gudang-gudang makanan mulai bermunculan.
Konflik antar warga semakin memperburuk keadaan yang sudah sangat kritis.
Di tengah krisis yang melanda pemerintah Israel justru memperketat kontrol terhadap informasi untuk menyembunyikan skala sebenarnya dari kekacauan yang terjadi.
Laporan tentang penangkapan warga yang mencoba merekam "penyimpangan ekstrem" di Tel Aviv mengindikasikan bahwa ada hal-hal yang coba disembunyikan.
Sejumlah aktivis hak asasi manusia mengecam langkah ini dan menuduh pemerintah berusaha menyembunyikan skala sebenarnya dari kekacauan yang terjadi.
"Ini bukan sekadar sensor perang biasa. Ini adalah upaya sistematis untuk mencegah dunia melihat bagaimana rezim ini gagal melindungi warganya sendiri," kata seorang aktivis.
Jurnalis independen asing juga dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan akses ke daerah-daerah yang terkena dampak parah.
Pemerintah Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan jurnalis di zona konflik sehingga informasi sulit keluar.
Laporan-laporan dari Tel Aviv ini meskipun belum semuanya dapat diverifikasi secara independen menggambarkan gambaran yang suram tentang kondisi Israel.
Perang dengan Iran yang awalnya dipicu oleh agresi terhadap Iran kini telah berbalik menghancurkan negeri Zionis itu sendiri.
Dari kekacauan sosial, krisis pasokan, hingga upaya sensor yang makin represif, Israel menghadapi tantangan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara para pemimpinnya terus bersumpah untuk melanjutkan perang, rakyat biasa harus menanggung akibatnya hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan kekacauan total.
"Sumber-sumber saya sedang mencari cara untuk melarikan diri dari Israel, tetapi IDF terus menahan orang-orang di dalam."
Kalimat Gerhardt ini mungkin menjadi kesaksian paling pedas tentang sejauh mana kehancuran yang terjadi di negara Zionis tersebut.
Di negara yang selama ini dianggap sebagai salah satu dari sedikit demokrasi di Timur Tengah, warganya justru dipaksa tetap tinggal di neraka yang mereka ciptakan sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

