Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Sirene Kembali Meraung di Tel Aviv, Gelombang Rudal Iran Picu Ketakutan Warga Israel

 

Repelita Jakarta - Malam kembali berubah menjadi mimpi buruk bagi warga Israel setelah sirene kembali meraung-raung di Tel Aviv dan sejumlah kota penting lainnya saat Gelombang ke-44 Operasi Janji Sejati-4 diluncurkan Iran dengan kekuatan penuh.

Warga yang sempat berharap pada ketenangan harus kembali berhamburan ke bunker saat sirene meraung tanpa henti di berbagai wilayah pemukiman, memicu ketakutan massal di tengah masyarakat Israel.

Dilaporkan Al Jazeera bahwa Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel mengatakan sirene berbunyi di kota Misgav Am di Galilea atas sebagai tanda bahaya serangan mendadak dari Iran.

Tel Aviv malam ini setelah dihantam oleh Gelombang 44 Janji Sejati 4 Republik Islam menjadi pemandangan mengerikan dengan asap dan ledakan di mana-mana yang menambah kepanikan warga.

Rekaman brutal dan sekali lagi Iran tidak tertarik untuk memberikan jalan keluar mudah bagi Israel dan Amerika Serikat yang terus mendesak gencatan senjata namun diabaikan Tehran.

Menurut laporan Pars Today yang mengutip Kantor Berita IRIB, Gelombang ke-44 Operasi Janji Sejati-4 dilaksanakan dengan sandi suci "Ya Shadiq al-Wa'd" pada Jumat 13 Maret 2026.

Operasi ini dilakukan menjelang peringatan Hari Al-Quds Sedunia untuk menghormati para syuhada poros perlawanan termasuk Komandan Besar Syahid Haj Qassem Soleimani.

Dalam gelombang ini Korps Garda Revolusi Islam mengerahkan sejumlah besar rudal presisi dan super berat termasuk Khorramshahr, Kheibar Shekan, Fattah, Emad, dan Ghadr.

Selain rudal balistik, Iran juga menerjunkan drone-drone kamikaze dalam jumlah besar yang sulit dideteksi radar pertahanan Israel dan menambah ketakutan warga.

Target utama meliputi wilayah utara Wilayah Pendudukan yaitu Kiryat Shmona, Khedera, dan Haifa yang menjadi pusat populasi penting dengan sirene berbunyi di semua area.

Selain itu IRGC juga menghantam markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika di Bahrain serta basis-basis lain milik tentara Amerika di kawasan Teluk.

Bahrain mengkonfirmasi serangan terhadap tangki bahan bakar di Kegubernuran Muharraq dan meminta warganya untuk tetap berada di dalam rumah serta menutup jendela.

Serangan ini menimbulkan kerusakan signifikan di beberapa titik strategis di wilayah pendudukan Israel dengan warga berteriak ketakutan saat rudal meledak.

Media Israel melaporkan adanya peringatan baru di wilayah utara yang diduduki khususnya di Dataran Tinggi Golan, Metulla, dan Misgav Am.

Pars Today pun melaporkan dampak langsung dilaporkan ketika rudal menghantam permukiman Israel dan menyebabkan kepanikan massal di kalangan warga sipil.

The Jerusalem Post melaporkan bahwa sirene berbunyi tiga kali dalam tiga jam di utara Israel dengan sejumlah orang dilaporkan terluka parah akibat serangan.

Seorang wanita berusia 34 tahun menderita luka sedang akibat pecahan peluru di punggungnya saat sedang berada di dalam rumah tanpa perlindungan.

Sebuah bangunan tempat tinggal juga rusak akibat serangan langsung rudal yang menghantam area pemukiman padat penduduk dan memicu teriakan histeris.

Dalam insiden terpisah pada Kamis 12 Maret 2026 malam seorang gadis berusia 17 tahun tewas tertabrak mobil saat berlari menuju tempat perlindungan bom karena panik.

Korban tewas dalam kecelakaan tragis ketika gelombang serangan roket terjadi dan warga berhamburan mencari perlindungan darurat di tengah kebisingan sirene.

Serangan Iran juga meluas ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk yang menjadi basis operasi penyerangan terhadap Tehran dengan sirene juga berbunyi di sana.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat drone yang menuju ladang minyak Shaybah dan distrik kedutaan di Riyadh.

Kuwait juga melaporkan serangan di wilayahnya dengan dua orang terluka oleh drone musuh yang menghantam sebuah bangunan tempat tinggal.

Enam saluran transmisi listrik di Kuwait tidak berfungsi setelah puing-puing drone yang dicegat jatuh menimpanya dan merusak infrastruktur vital.

Kementerian Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi memperingatkan bahwa pasar minyak global menghadapi kekurangan terbesar dalam sejarah akibat eskalasi ini.

Krisis ini melampaui dampak gabungan dari Embargo Minyak Arab, Revolusi Islam Iran, dan invasi Kuwait yang pernah mengguncang dunia.

Blokade Selat Hormuz membuat lalu lintas kapal di selat tersebut terhenti total dengan Iran berjanji tidak ada minyak yang diekspor ke AS-Israel selama perang berlangsung.

Di tengah kekacauan ini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya tampil di hadapan publik setelah hampir dua pekan konflik dengan Iran berlangsung.

Dalam konferensi pers melalui sambungan video Netanyahu mengeluarkan ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran yang baru Sayyid Mojtaba Khamenei.

"Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun. Saya tidak bermaksud memberikan laporan pasti di sini tentang apa yang kami rencanakan atau apa yang akan kami lakukan," kata Netanyahu.

Namun yang menarik Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa menjatuhkan kerajaan Iran bukanlah objektif resmi operasi militer Israel.

Sebaliknya ia mendakwa perang itu bertujuan mewujudkan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran sendiri menggulingkan pemerintah mereka.

"Saya tidak akan merinci tindakan yang sedang kami ambil. Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim, tetapi saya tidak akan menyangkal bahwa saya tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa rakyat Iran akan menggulingkan rezim tersebut," kata Netanyahu.

Pengakuan ini selaras dengan penilaian agensi intelijen AS yang secara tertutup menilai kepemimpinan Iran masih kekal utuh sepanjang perang.

Seorang sumber memberitahu Reuters bahwa berbagai penilaian konsisten merumuskan kepemimpinan Iran tidak berada dalam bahaya dan tetap solid.

Di pihak Iran Presiden Masoud Pezeshkian mengumumkan tiga syarat untuk mengakhiri perang dengan Israel dan AS.

Pertama dengan mengakui hak-hak sah Iran, kedua dengan pembayaran reparasi, dan ketiga dengan jaminan internasional yang kuat terhadap agresi di masa depan.

Pemimpin tertinggi baru Iran Sayyid Mojtaba Khamenei juga mengeluarkan pesan pertamanya yang menyerukan negara-negara kawasan untuk menutup pangkalan AS di wilayah mereka.

"Saya merekomendasikan agar mereka menutup pangkalan-pangkalan itu sesegera mungkin, karena mereka pasti sudah menyadari bahwa klaim Amerika tentang membangun keamanan dan perdamaian tidak lebih dari kebohongan," katanya.

Gelombang rudal Iran terus menghujani Israel dengan sirene meraung di Tel Aviv dan berbagai kota, memicu ketakutan massal di kalangan warga yang berlarian mencari perlindungan.

Seorang wanita terluka parah akibat pecahan peluru dan seorang gadis remaja tewas tertabrak mobil saat panik berlari menuju bunker saat sirene berbunyi.

Netanyahu mengakui sulitnya menumbangkan pemerintahan Iran sementara Tehran melancarkan gelombang demi gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah pendudukan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved