Repelita Jakarta - Sejarah Piala Dunia mencatat sejumlah negara yang pernah melakukan boikot atau mundur dari keikutsertaan karena alasan politik, protes kuota, maupun solidaritas, menegaskan bagaimana sepak bola tidak hanya soal olahraga melainkan juga cerminan dinamika politik global yang kompleks.
Contoh paling menarik terjadi pada Piala Dunia 1966 ketika 15 negara Afrika secara serentak memboikot kualifikasi sebagai bentuk protes terhadap jatah slot yang dianggap tidak adil karena FIFA tidak menjamin satu tempat otomatis bagi Afrika .
Keputusan ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidaksetaraan dalam dunia sepak bola internasional yang didominasi negara-negara Eropa dan Amerika Selatan.
Kasus lain yang tak kalah penting adalah Uni Soviet pada 1974 yang menolak memainkan leg kedua playoff di Chile sebagai protes atas kudeta militer yang terjadi di sana .
Uni Soviet menyatakan tidak bisa bermain di Stadion Nasional Santiago yang telah digunakan sebagai pusat penahanan dan penyiksaan tahanan politik setelah kudeta Jenderal Augusto Pinochet pada 11 September 1973 .
Akibatnya timnas Chile melakukan kick-off sendiri tanpa lawan, mencetak gol ke gawang kosong, dan dinyatakan menang serta lolos ke Piala Dunia 1974 dalam laga yang disebut sebagai "pertandingan paling menyedihkan dalam sejarah sepak bola" .
Sementara itu pada 1958, Indonesia, Mesir, dan Sudan menolak bertanding melawan Israel di babak kualifikasi Piala Dunia sebagai bentuk solidaritas dan sikap politik terhadap situasi yang terjadi di Timur Tengah .
Atas instruksi Presiden Soekarno yang getol mengampanyekan anti-kolonialisme, Timnas Indonesia rela mengorbankan tiket ke Piala Dunia 1958 gara-gara menolak bertanding melawan Timnas Israel meski sudah lolos ke putaran kedua kualifikasi .
Pada Piala Dunia 1934, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia menolak ikut bertanding dengan alasan gengsi dan menganggap turnamen domestik mereka lebih bergengsi .
Uruguay juga melakukan boikot pada tahun yang sama sebagai protes terhadap ketidakhadiran negara-negara Eropa di Piala Dunia 1930 yang digelar di Uruguay, menjadikannya satu-satunya juara bertahan yang tidak mempertahankan gelar .
Argentina pada 1938 juga memboikot karena gagal menjadi tuan rumah, menegaskan bahwa faktor nasionalisme dan kebanggaan negara turut mempengaruhi keputusan-keputusan politik dalam sepak bola.
Selain alasan politik, beberapa negara juga mundur karena kendala logistik, misalnya pada Piala Dunia 1930 sebagian besar negara Eropa menolak hadir karena jarak dan masalah transportasi yang sulit saat itu.
Terbaru, Iran secara resmi mengumumkan mundur dari Piala Dunia 2026 terkait situasi konflik dengan tuan rumah Amerika Serikat setelah serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei .
Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali menyatakan timnas tak bisa ikut Piala Dunia 2026 karena alasan keselamatan mengingat semua pertandingan Iran akan berlangsung di Amerika Serikat .
Pengamat sepak bola Anton Sanjoyo menyebut AS seharusnya malu jika Iran memboikot Piala Dunia karena tidak layak menjadi tuan rumah, seraya menyoroti sikap FIFA yang tak segalak ketika memberi sanksi kepada Russia setelah menyerang Ukraina .
FIFA sendiri dikritik karena hipokrasi dan dwistandard dalam mengambil tindakan, dianggap hanya tegas terhadap negara tertentu namun longgar terhadap negara adidaya .
Sementara itu Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran tetap disambut untuk ikut Piala Dunia tetapi ia tak yakin kehadiran mereka pantas demi nyawa dan keselamatan mereka sendiri .
Hal ini menambah daftar panjang bagaimana geopolitik terus memengaruhi partisipasi negara-negara di ajang sepak bola terbesar dunia, membuktikan bahwa sepak bola beririsan erat dengan dinamika politik global .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

