Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Iran Bertahan di Bawah Tekanan AS-Israel: Strategi Berlapis dan Sejarah Revolusi Jadi Kunci Ketahanan Panjang

  

Repelita Jakarta - Pengamat politik Timur Tengah Nasir Tamara menilai Iran memiliki lapisan strategi pertahanan yang kompleks sehingga mampu bertahan menghadapi tekanan militer serta politik dari Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang kian memanas di kawasan tersebut.

Menurut Nasir konflik yang semula diproyeksikan berlangsung singkat kini berpeluang berubah menjadi perang berkepanjangan karena ketahanan Iran yang luar biasa.

Rencana operasi militer gabungan AS-Israel pada awalnya ditargetkan untuk meruntuhkan pemerintahan Teheran dalam waktu cepat.

Realitas di lapangan menunjukkan pemerintahan Iran tetap tegak meskipun sejumlah komandan militer senior dan figur penting telah gugur dalam serangan tersebut.

Nasir menjelaskan bahwa kekuatan bertahan Iran tidak terlepas dari fondasi historisnya yang kokoh terutama dari Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Ruhollah Khomeini.

Revolusi itu berhasil menggulingkan rezim monarki Mohammad Reza Pahlavi melalui gelombang mobilisasi rakyat besar-besaran dan kepemimpinan karismatik yang menyatukan berbagai elemen masyarakat.

Nasir yang sempat meliput langsung peristiwa tersebut menegaskan bahwa kepulangan Khomeini dari pengasingan di Prancis menjadi titik balik yang memicu transformasi politik fundamental di Iran.

Struktur politik dan militer Iran kontemporer dirancang dengan sistem cadangan serta rantai komando yang tangguh sehingga stabilitas nasional tetap terpelihara walau di bawah serangan hebat.

Pemimpin tertinggi Ali Khamenei membawa pengalaman mendalam dalam navigasi politik dan militer yang menjadi pilar utama strategi kelangsungan kekuasaan.

Iran juga berhasil membangun kemampuan teknologi pertahanan secara mandiri yang menjadi senjata kunci melawan keunggulan militer musuh.

Pengalaman Perang Iran-Irak selama delapan tahun meskipun Irak mendapat dukungan luas dari kekuatan global turut membentuk doktrin pertahanan Iran yang resilien hingga hari ini.

Jadi artinya mereka itu punya keberanian punya strategi yang tepat dan juga mampu membuat senjata-senjata dengan teknologi mereka yang dibangun sendiri itu kombinasi dari tiga hal itu tegas Nasir dilansir dari YouTube tvOneNews.

Nasir juga mengkritisi pola kebijakan Donald Trump yang fluktuatif sering beralih antara pendekatan tekanan ekstrem dan upaya diplomasi dalam isu global.

Dalam konteks Iran Washington berpotensi mencoba memengaruhi dinamika internal termasuk mencari figur kepemimpinan pengganti di luar sistem resmi.

Reza Pahlavi putra syah terakhir yang berada di pengasingan sering muncul sebagai simbol oposisi namun Nasir menilai upaya semacam itu sangat sulit berhasil mengingat basis ideologis Republik Islam yang sangat kuat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved