Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pedas! Senator AS Sebut Trump Pembohong Kelas Kakap, Dia Berbohong kepada Rakyat Amerika soal Bom Sekolah Iran

 Trump dimarahi tokoh visual

Repelita Washington - Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat Chuck Schumer pada Kamis menuduh Presiden Donald Trump berbohong terkait laporan yang menyebut hasil penyelidikan militer AS menemukan kemungkinan keterlibatan pasukan Amerika dalam serangan mematikan terhadap sebuah sekolah di Iran akhir Februari lalu.

"Ketika perang melawan Iran terus berlangsung, Donald Trump melakukan apa yang biasanya dia lakukan berbohong. Dia berbohong kepada rakyat Amerika," kata Schumer dalam pidatonya di lantai Senat dikutip dari laman Andolu Agency pada Sabtu 14 Maret 2026.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya tidak mengetahui temuan terbaru tersebut saat ditanya oleh awak media.

Penyelidikan awal militer AS menyimpulkan bahwa pasukan Amerika bertanggung jawab atas serangan mematikan pada 28 Februari yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh The New York Times pada Rabu dengan mengutip pejabat AS serta sejumlah sumber yang mengetahui hasil penyelidikan tersebut.

Schumer juga merujuk pada berbagai laporan publik yang menyebutkan bahwa penilaian intelijen awal mengindikasikan operasi militer AS kemungkinan terlibat dalam serangan rudal terhadap sekolah dasar khusus perempuan di Iran.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 170 orang yang sebagian besar merupakan siswi dan staf pengajar di sekolah tersebut.

"Ketika Donald Trump ditanya tentang laporan-laporan itu, apa yang dia katakan? Dia bilang, 'Saya tidak tahu soal itu'. Itu konyol, dan jelas merupakan kebohongan," kata Schumer.

Senator dari Partai Demokrat asal New York itu mengatakan Trump berharap rakyat Amerika percaya bahwa dirinya tidak tahu apa-apa mengenai laporan intelijen terkait serangan terhadap sebuah sekolah beberapa hari setelah kejadian itu terjadi.

"Jadi, ada dua kemungkinan. Pertama Donald Trump berbohong ketika mengatakan dia tidak tahu apa pun tentang temuan intelijen terkait pemboman sekolah itu padahal dia menerima laporan seperti ini setiap hari. Atau yang kedua dia benar-benar tidak tahu, yang berarti sangat berbahaya dan menunjukkan bahwa stafnya bekerja dengan sangat buruk," ujar Schumer.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran yang telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.

Korban tewas termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang gugur pada hari pertama serangan bersama tersebut.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Serangan balasan Iran telah menimbulkan kerusakan signifikan pada sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik.

Media Amerika The New York Times sebelumnya melaporkan bahwa sekolah yang menjadi korban serangan rudal Tomahawk AS itu adalah Sekolah Dasar Putri Shajarah Tayyebeh di Kota Minab Iran selatan.

Juru bicara Bulan Sabit Merah Iran menyebut jumlah korban di sekolah itu mencapai 108 anak-anak tewas, sementara kantor berita Peradilan Iran Mizan juga melaporkan angka yang sama.

Media Taiwan Up Media mengutip laporan Reuters yang menyebutkan setidaknya 175 siswa tewas dalam serangan tersebut, menyebut peristiwa ini sebagai salah satu kecelakaan militer paling mematikan yang dilakukan Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.

Times Now News memberitakan bahwa Duta Besar Iran untuk PBB Ali Bahreini mengatakan 150 siswa tewas dalam serangan tersebut, sementara Bulan Sabit Merah Iran menyebut angka 175 korban tewas.

The Irish Independent melaporkan perkembangan jumlah korban secara bertahap dimulai dari 5 orang, kemudian naik menjadi 85, lalu 108, kemudian 165, dan akhirnya mencapai 175 orang tewas menurut laporan terbaru.

The Washington Examiner dalam pemberitaannya tentang surat senator Demokrat kepada Menteri Pertahanan AS menyebutkan sekitar 175 orang tewas di sekolah tersebut yang sebagian besar adalah anak-anak.

The Indian Express menulis angka 168 orang tewas berdasarkan laporan otoritas Iran saat operasi pencarian berakhir pada 1 Maret 2026 dengan sebagian besar korban adalah anak perempuan berusia 7 hingga 12 tahun.

The Mirror juga memberitakan angka 175 orang tewas, sebagian besar anak-anak, akibat serangan rudal Tomahawk AS yang diduga menggunakan intelijen usang.

Sementara itu Daily Times dan The Express Tribune pada 28 Februari 2026 memberitakan angka 85 korban tewas berdasarkan pernyataan jaksa setempat yang dikutip media pemerintah Iran.

Perbedaan angka ini kemungkinan disebabkan oleh perkembangan waktu evakuasi dan pencarian korban di lokasi kejadian di mana jumlah korban terus bertambah seiring proses pembersihan puing-puing bangunan yang hancur.

Dunia internasional terus mendesak dilakukannya investigasi transparan atas insiden tragis yang menewaskan puluhan anak tak berdosa tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved