Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membenarkan kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam usia delapan puluh enam tahun akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Khamenei selama lebih dari tiga dekade menjadi tokoh paling berkuasa di Iran sejak menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi pada tahun sembilan belas delapan puluh sembilan.
Ia mengendalikan arah politik militer serta ideologi negara dengan otoritas tertinggi atas seluruh cabang pemerintahan.
Khamenei lahir di Masyhad pada tujuh belas Juli sembilan belas tiga puluh sembilan dan tumbuh dari keluarga religius sederhana sebelum menempuh pendidikan di Qom pusat keilmuan Syiah.
Di Qom ia berguru kepada Khomeini dan terlibat dalam gerakan bawah tanah melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Amerika Serikat.
Aktivismenya menyebabkan penangkapan serta penyiksaan berulang oleh aparat keamanan monarki sebelum revolusi.
Setelah Revolusi Islam tahun sembilan belas tujuh puluh sembilan karir politiknya melesat menjadi imam salat Jumat Teheran dan selamat dari percobaan pembunuhan yang melumpuhkan tangan kanannya.
Ia kemudian menjabat sebagai presiden Iran dari tahun sembilan belas delapan puluh satu hingga sembilan belas delapan puluh sembilan sebelum naik menjadi Pemimpin Tertinggi.
Sebagai rahbar Khamenei memegang kendali atas militer peradilan media negara serta penunjukan posisi kunci pemerintahan.
Ia memperkuat aliansi dengan Korps Garda Revolusi Islam IRGC yang berkembang menjadi kekuatan militer ekonomi dan politik utama.
Di dalam negeri Khamenei menekan berbagai gelombang protes dari gerakan reformasi tahun dua ribu sembilan hingga isu ekonomi serta kebebasan sipil melalui aparat keamanan dan sistem peradilan.
Di tingkat regional ia menjadikan Iran sebagai kekuatan utama dalam jaringan sekutu serta milisi di Irak Suriah Lebanon Yaman dan Gaza yang dikenal sebagai poros perlawanan terhadap Israel dan pengaruh Amerika Serikat.
Khamenei memosisikan Iran sebagai musuh utama Israel serta penantang dominasi Amerika Serikat di kawasan berdasarkan pengalaman pribadi melawan monarki pro-Barat.
Meski berulang kali menyatakan senjata nuklir bertentangan dengan ajaran Islam ia tetap mengawasi program nuklir Iran yang memicu sanksi Barat selama puluhan tahun.
Ia menyetujui perjanjian nuklir tahun dua ribu lima belas dengan penuh kehati-hatian namun keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut tahun dua ribu delapan belas memperkuat keyakinannya bahwa Washington tidak dapat dipercaya.
Pada awal karirnya Khamenei dikenal sebagai ulama lembut yang menyukai sastra dan berinteraksi dengan kalangan intelektual sekuler.
Namun perang Iran-Irak tahun sembilan belas delapan puluh hingga sembilan belas delapan puluh delapan serta dinamika pascarevolusi membentuknya menjadi pemimpin dengan pendekatan keamanan yang keras.
Kehidupannya mencerminkan perpaduan antara ulama tradisional dan pemimpin politik yang mengonsolidasikan kekuasaan ulama dalam sistem republik Islam.
Bagi pendukungnya ia adalah penjaga revolusi serta kedaulatan Iran sementara bagi pengkritiknya ia menjadi simbol sistem yang membatasi kebebasan sipil dan mempertahankan konfrontasi regional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

